NOVEL Asmaraloka (1999) karya Danarto merupakan salah satu karya sastra Indonesia modern yang paling mengaburkan batas antara realitas faktual dan realitas imajiner. Novel ini menceritakan perjuangan cinta Arum, seorang perempuan muda yang mengejar malaikat maut yang membawa jasad Busro, suami yang baru saja menikahinya, hingga terseret dalam perang fatamorgana yang absurd. Dengan latar perang fatamorgana, rekayasa perang antarsuku, agama, ras, dan antargolongan menjadi komoditas seperti pertandingan sepak bola. Danarto mengkritisi sifat manusia yang mudah bertikai karena perbedaan.
Pendekatan semiotika Roland Barthes (1974) menawarkan metode analisis yang objektif untuk mengkaji karya sastra sebagai sistem tanda yang tidak terbatas pada karya itu sendiri, tetapi juga membahas hal-hal di luar karya tersebut. Barthes mengembangkan tiga makna, yaitu denotasi (makna literal), konotasi (makna simbolis), dan mitos (makna ideologis). Selain itu, Barthes juga mengembangkan lima kode pembacaan (codes of reading), yaitu kode hermeneutik (HER), kode simbolik (SYM), kode aksi (ACT), kode semantik (SEM), dan kode referensi (REF).
Teori Semiotika Rolland Barthes
Menurut Barthes (1974), semiotika adalah metode analisis yang digunakan untuk mengkaji tentang tanda. Ada tiga teori inti dalam pendekatan Roland Barthes, yaitu makna denotasi, konotasi, dan mitos. Pada Tingkat denotasi, tanda menyampaikan makna literal; pada Tingkat konotasi, tanda menyampaikan makna simbolis yang terkait dengan pengalaman emosional dan sosial; sedangkan pada tingkat mitos, tanda membentuk ideologi yang lebih luas.
Lima kode pembacaan Barthes berfungsi sebagai alat untuk mengungkap aspek-aspek sufistik atau makna yang ingin disampaikan penulis. Kode hermeneutic (HER) merupakan teka-teki bagi pembaca, pertanyaan yang harus dijawab melalui pembacaan tuntas. Kode simbolik (SYM) adalah intisari dari cerita yang menyimpan makna simbolis. Kode aksi (ACT) menggambarkan tanggapan atau tindakan terhadap kemalangan yang menimpa. Kode semantik (SEM) adalah sebutan atau konotasi yang menegaskan hubungan. Kode referensi (REF) adalah pertanyaan yang merujuk pada pedoman atau wahyu yang disucikan.
Analisis Denotasi dan Konotasi dalam Asmaraloka
Secara denotative, Asmaraloka secara harfiah berarti dunia atau alam cinta kasih. Namun, mengapa tema cerita tentang perang SARA dan perang fatamorgana? Pertanyaan ini merupakan kode hermeneutic (HER) yang melemparkan teka-teki kepada pembaca tentang apakah maksud novel ini dan apa juga makna dengan judul Asmaraloka ini. Tentu saja, makna ini hanya dapat ditemukan ketika pembaca membaca tuntas novel ini.
Setelah pembaca menyelesaikan novel ini, makna Asmaraloka menjadi kode simbolik (SYM), yaitu intisari dari cerita novel itu sendiri. Asmaraloka sebagai SYM merepresentasikan bagaimana Arum sangat mencintai Busro sehingga rela mengejar malaikat maut sampai ke medan perang, bagaimana Firdaus yang mengagumi Arum rela meninggalkan pesantren sebagai zona aman dan maju ke garis depan peperangan, serta bagaimana Kyai Mahfud Ikhlas mencari penggantinya di medan perang sebagai bukti baktinya terhadap pesantren.
Tokoh “Kyai” termasuk dalam kode semantik (SEM), sebagai sebutan alim ulama yang dihormati. Dalam novel ini, Kyai Mahfud digambarkan sebagai kyai konvensional yang berpegang teguh pada syariat Islam, pemimpin pesantren Wasiyatur Rasuli yang disegani dan mumpuni dalam ilmu agama.
“Malaikat Maut” merupakan kode simbolik (SYM) dari kematian, akhir dari sebuah kehidupan seorang manusia. Kehadiran Malaikat Maut yang mengejawantah melalui cahaya dan membawa mayat Busro merupakan peristiwa magis yang menggambarkan betapa dekatnys kematian bagi yang hidup. Tokoh Firdaus yang menggigil keras seperti terjadi gempa dalam tubuhnya ketika melihat jenazah Busro duduk terkulai dalam cahaya adalah simbol (SYM) betapa dekatnya mereka dengan kematian.
Secara denotatif, perang fatamorgana adalah perang yang pecah tanpa jelas penyebabnya, perang yang ada tapi juga tidak ada. Namun, pada tingkat konotasi, perang fatamorgana adalah rekayasa perang antarsuku-agama-ras-antargolongan yang menjadi komoditas bisnis seperti pertandingan sepak bola.
Pada tingkat mitos, perang fatamorgana membentuk ideologi yang lebih luas, yaitu kritik terhadap sifat manusia yang selalu mudah bertikai karena perbedaan, kritik terhadap komodifikasi peperangan untuk mengeruk keuntungan terus-menerus, dan simbol gejolak realitas sosial pada masa penulisan novel. Wartawan dan wartawati yang senantiasa melaporkan setiap peristiwa terbaru bahkan mati karena jantungan sambil tetap menggengam mikrofonnya merupakan mitos critique terhadap media yang menjadikan perang sebagai komoditas bisnis.
Analisis Lima Kode Pembacaan Rolland Barthes
- Kode Hermeneutik (HER): Teka-Teki Keadilan Tuhan
Dalam percakapan antara Kyai Mahfud dan Arum, Kyai bertanya: “Jadi, adilkah Allah?”. Pertanyaan ini merupakan kode hermeneutik (HER) yang melemparkan pertanyaan untuk menyadarkan Arum tentang keadilan Tuhan. Teka-teki ini harus dijawab oleh pembaca melalui pembacaan mendalam tentang hubungan antara manusia dan Tuhan dalam perspektif sufistik.
Pertanyaan “tetapi Kyai telah menjadi Tuhan?” dari tokoh lain juga membuat kode hermeneutik (HER) sebagai teka-teki dari pernyataan Kyai Kadung Ora yang ingin mengangkat derajat manusia. Teka-teki ini kemudian disanggah dengan pernyataan “kit aini dengan sendirinya Tuhan” yang merupakan konsep wahdat al-wujud (kesatuan wujud).
- Kode Simbolik (SYM): Ekor Sebagai Sifat Setan
Kata “ekor” dalam kutipan taubat Firdaus “Musnahkanlah ekor hamba” merupakan kode simbolik (SYM) dari sifat-sifat setan. Ekor merepresentasikan wujud setan beserta sifatnya yang membuat Firdaus terlena dengan tipu daya dan hingga lupa diri meninggalkan Tuhan.
“Dunia damai” yang merupakan dunia khayali tercipta oleh kesucian jiwa seorang Kelanggengan juga merupakan kode simbolik (SYM) dari alam mitsal (istilah Ibnu Arabi) atau alam khayal (istilah al-Ghazali), tempat berkumpulnya jiwa-jiwa yang suci.
- Kode Aksi (ACT): TAnggapan Kemalangan Arum
Dalam percakapan dengan Kyai, Arum menjawab “Mengapa orang lain berbahagia, sedang saya tidak?” sebagai kode (ACT) dari tanggapan kemalangan yang menimpa dirinya. Ini menekankan betapa sikap Arum jauh dari sabar menghadapi ujian dari Allah Swt.
Firdaus yang terisak memohon ampun dan bertobat kepada Allah Swt atas kelalaiannya juga merupakan kode aksi (ACT) dari penyesalan dan permohonan ampun.
- Kode Semantik (SEM): Hubungan Hamba-Tuhan
Kata “mengadukan” dalam kutipan “mengadukan nasibnya ke hadirat yang Membikin Hidup” sebagai kode semantik (SEM) menegaskan adanya hubungan dekat kepada sang pencipta, hubungan seorang hamba yang lemah dengan Tuhan yang Maha Kuat.
“Pemilik Segala Kerajaan” memuat kode semantik (SEM), di mana “Kerajaan” merupakan konotasi dari kekuasaan, menegaskan bahwa kekuasaan Tuhan meliputi segalanya.
“Kitab suci” merupakan kode semantik (SEM) yang berkonotasi suatu sistem yang ada pada suatu agama, yaitu Kumpulan pedoman wahyu Tuhan yang disucikan oleh manusia.
- Kode Referensi (REF): Wahyu Tuhan yang Disucikan
Mengucapkan “Alhamdulillah” sebagai kode referensi (REF) untuk menyatakan rasa syukur, masih dalam keadaan hidup.
“Kita suci” juga merupakan kode referensi (REF) dari suatu Kumpulan pedoman wahyu Tuhan yang disucikan oleh masyarakat.
Pernyataan “Allah lewat Rasul-Nya yang tertulis di dalam kitab suci memberikan ajaran yang jelas” memuat kode referensi (REF) yang merujuk pada wahyu Tuhan.
Makna Mitos: Ideologi Sufistik dalam Asmaraloka
Pada tingkat mitos, tanda-tanda dalam Asmaraloka membentuk ideologi sufistik yang lebih luas. Novel ini sarat dengan tingkatan kesadaran diri dengan Tuhan, adanya perjalanan dan pencarian Tuhan (jati diri), serta perjumpaan dengan Tuhan yang digambarkan dengan peleburan maupun persatuan wujud. Mitos yang dibentuk meliputi:
- Mitos Wahdat al-Wujud: Pernyataan “kit aini dengan sendirinya Tuhan” merupakan simbol (SYM) dari konsep wahdat al-wujud (kesatuan wujud) yang dikembangkan oleh Ibnu Arabi, di mana hanya ada satu realitas Ultim dalam seluruh penciptaan.
- Mitos Fana dan Baqa: Keadaan Firdaus yang tenggelam dan disedot oleh kubangan dengan Yang Transenden. Kucuran darah yang membasahi tubuhnya merupakan Gambaran mistis proses fana menuju baqa, menghancurkan wujud dan menyatu dengan Yang Maha Esa.
- Mitos Pendidikan Karakter: Pesan amanat dalam novel ini memiliki korelasi pada pendidikan karakter para pembacanya, mengajarkan bahwa perbedaan yang dihadirkan Tuhan bukan bahan untuk diributkan, tetapi Pelajaran yang harus dipahami sebagai dunia yang utuh.
- Mitos Kritiks terhadap Komodifikasi Perang: Perang fatamorgana yang menjadi komoditas bisnis membentuk mitos kritik terhadap masyarakat yang memperlakukan perang seperti pertandingan sepak bola, sekadar untuk mengeruk keuntungan.
Aspek Sufistik sebagai Nafsa Karya Danarto
Danarto merupakan salah satu sastrawan yang berpengaruh pada perkembangan sastra sufistik di Indonesia. Mengangkat tema-tema sentral yang berkaitan dengan pengalaman transcendental menjadi ciri khas yang melekat pada Danarto. Dengan melihat konsep kepengarangan Danarto yang lekat dengan tasawuf atau sufisme, novel Asmaraloka tidak lepas dari ikatan antara sang pencipta dan Yang Maha Pencipta.
Novel ini membuktikan bahwa Danarto merupakan penempuh jalan sufi yang tulen, bukan sekadar mengangkat tema sufi sebagai pelengkap cerita, tetapi sebagai nafas dari sebuah cerita. Memuat segala perenungan yang dalam dan keleluasaan berpikir serta wawasan yang jauh tentang semesta raya dan seisinya, memadukan antara dzikir dan pemikiran yang sungguh-sungguh, memberikan gambaran optimism dan pencerahan jiwa.
Kesimpulan
Analisis objektif novel Asmaraloka karya Danarto dengan pendekatan Semiotika Rolland Barthes mengungkap bahwa novel ini merupakan karya sastra yang sarat dengan tanda-tanda yang memiliki makna denotasi, konotasi, dan mitos yang kompleks. Melalui lima kode pembacaan Barthes (hermeneutic, simbolik, aksi, semantik, dan referensi) dapat diungkap aspek-aspek sufistik yang menjadi nafas karya Danarto.
Pada tingkat denotasi, tanda-tanda menyampaikan makna literal; pada tingkat konotasi tanda-tanda menyampaikan makna simbolis yang terkait dengan pengalaman emosional dan sosial; sedangkan pada tingkat mitos, tanda-tanda membentuk ideologi sufistik yang lebih luas tentang kesadaran diri dengan Tuhan, perjalanan pencarian Tuhan, dan perjumpaan dengan Tuhan melalui peleburan wujud.
Asmaraloka bukan hanya karya sastra dengan nilai estetika, tetapi juga medium kritik sosial-ideologis yang membawa pesan pencerahan dan pengenalan diri kepada pembaca. Novel ini sangat cocok sebagai bahan pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia karena kekayaan intelektual dan spiritual yang disuguhkan, sehingga dapat digunakan untuk mengasah sisi spiritual maupun daya rasa siswa ataupun mahasiswa.***
*Penulis: Humaerah Nur’izzatinnisa, Mahasiswa Sastra Universitas Sanata Dharma Yogyakarta




