
ADA satu adegan yang terus terngiang setelah final Piala Dunia 2026 usai kemarin. Bukan gol tunggal Ferran Torres di menit ke-106. Bukan pula Rodri yang mengangkat trofi dengan tenang seperti orang yang sudah lama tahu ke mana jalan ini akan berujung. Justru yang tergiang adalah wajah seorang remaja bernama Lamine Yamal. Ia bermain di final dunia dengan raut setenang anak yang sedang bermain di halaman rumahnya sendiri. Tidak ada kegugupan yang berarti. Seolah panggung sebesar itu memang sudah disiapkan untuknya sejak lama. Jauh sebelum ia sendiri sadar akan sampai di sana.
Barangkali itulah rahasia Spanyol. Mereka tidak sedang menciptakan bintang mendadak. Mereka sedang memanen sesuatu yang ditanam bertahun-tahun sebelumnya. Dijaga dengan sabar dan telaten. Tidak buru-buru ingin melihat hasil dalam semusim. La Masia, Valdebebas. Akademi Athletic Bilbao. Itu semua bukan sekadar tempat latihan, itu ladang. Ladang yang tidak pernah bisa dipaksa berbuah lebih cepat dari waktunya. Yang bisa dilakukan manusia hanya merawat, menyiram dan mencabuti gulma lalu menunggu.
Ada yang menarik dari filosofi ladang tersebut diatas. Anak-anak muda itu tidak perlu belajar ulang cara bermain begitu naik ke tim senior, di academia telah terbentuk. Sudah menyatu dalam tubuh lalu menjadi bahasa yang tak perlu diungkapkan karena saling memahami. Penguasaan bola, kesabaran membangun serangan. Keberanian mengambil keputusan dalam ruang sempit. Semua itu sudah jadi menjadi darah dan daging sebelum mereka sempat berpikir untuk mempertanyakannya. Sebuah kesinambungan yang tidak menuntut anak muda untuk berubah wujud saat naik kelas. Karena kelasnya memang tidak pernah benar-benar berubah. Hanya semakin luas panggungnya.
Saya jadi teringat dua hal yang belakangan mengisi hari-hari saya di Taman Budaya. Mandar Ethno Music Concert dan Pekan Sastra “Tubuh Kata”. Dua kegiatan yang sepintas tak ada urusan dengan sepak bola. Tapi kalau direnungkan pelan-pelan sesungguhnya sedang mengerjakan hal yang serupa dengan apa yang dikerjakan Spanyol selama puluhan tahun. Merawat akar.
Dalam Mandar Ethno Music Concert tema besarnya “Bunyi Etnik-Membaca Zaman” adalah kreasi inovasi dan konservasi yang berjalan beriringan. Bukan konservasi yang mengunci bunyi lama dalam museum kaca. Bukan pula inovasi yang gegabah memutus tali dengan masa silam. Ada tiga malam yang dirancang sebagai satu kesinambungan. Malam pakem yang menjaga akar tetap tertanam. Malam kreasi-inovasi-konservasi yang membiarkan akar itu bertunas ke arah baru. Malam eksperimental yang berani menguji seberapa jauh tunas itu bisa tumbuh tanpa kehilangan akarnya. Bunyi PAKEM yang lahir dari rahim budaya Mandar tidak dipaksa berhenti di masa lalu. Ia diberi ruang untuk tumbuh. Seperti akademi La Masia memberi ruang bagi anak-anak muda untuk menafsirkan ulang permainan lama dengan bahasa zamannya sendiri.
Begitu pula dengan Pekan Sastra “Tubuh Kata”. Tradisi lisan tubuh dan suara masa kini dipertemukan dalam satu panggung yang sama. Lomba monolog dan cipta puisi bukan sekadar ajang unjuk bakat sesaat. Ia ladang kecil tempat kata-kata muda ditanam dan dibiarkan tumbuh menurut iramanya sendiri. Ketika saya membaca judul-judul karya yang tampil “Suara Bapak Nyanyian Ibu” “Salu yang Bertutur” “Pattidzioloang” saya melihat sesuatu yang sama dengan yang saya lihat pada Lamine Yamal di final Piala Dunia. Anak-anak muda yang berbicara dengan bahasa yang sudah lama diwariskan kepada mereka. Bukan bahasa asing yang baru mereka pelajari kemarin sore.
Di sinilah barangkali pelajaran paling jujur dari kemenangan Spanyol. Bakat besar jarang lahir dari panggung besar. Ia lahir dari ladang kecil yang telaten dirawat jauh dari sorotan dan jauh dari tepuk tangan. Rodri tidak menjadi pengatur ritme lini tengah dunia dalam semalam. Ia menjadi begitu karena bertahun-tahun sebelumnya ada orang yang sabar mengajarinya membaca ruang. Mengajarinya kapan harus menahan bola dan kapan harus melepaskannya. Begitu pula anak-anak muda yang menulis puisi tentang suara bapak dan nyanyian ibu di Taman Budaya. Mereka tidak tiba-tiba fasih bertutur tentang Salu dan Pattidzioloang. Ada yang menanamkan kosa kata itu jauh sebelum mereka berdiri di panggung.
Yang membedakan bangsa yang berhasil membina talenta dengan yang gagal barangkali bukan soal siapa yang punya anak paling berbakat. Sebab bakat di mana pun selalu tersebar merata seperti hujan. Yang membedakan adalah siapa yang sabar menyediakan tanah bagi hujan itu untuk meresap. Dan siapa yang hanya sibuk menunggu banjir instan lalu kecewa saat tanahnya kering.
Taman Budaya dengan segala keterbatasannya sesungguhnya sedang melakukan pekerjaan yang sama dengan La Masia. Ia sedang menanam bukan memanen. Mungkin belum ada yang mengangkat trofi dari ladang ini. Tapi ladang yang dirawat dengan setia cepat atau lambat akan menumbuhkan seseorang yang berdiri tenang di panggung besarnya sendiri. Setenang seorang remaja Catalan yang bermain final dunia seolah sedang bermain di halaman rumah.
Barangkali begitu jugalah cara kebudayaan bekerja. Ia tidak pernah tergesa. Ia hanya minta dipercaya. Dan diberi waktu.




