Sunday , May 26 2019
Home / GAGASAN / PUISI

PUISI

PUISI

TUGAS HARIAN

Aku berangkat menuju rumah mu Berpagar ego, berumput kesepian Ku ketuk berlahan agar pintu mu tak retak Tak ada jawaban Ku ketuk lagi, sedikit lebam dan berdarah Pintu mu rusak, mampus aku Kau mendongak dari jendela Mata sayu, pipi tirus, bibir menghitam Sedikit menggambarkan kesakitan Kau persilahkan aku masuk Aku …

Read More »

PUNTUNG

  Aku menertawai sepi Rata wajah mengiringi lagu kusut dari radio Malam tak menampakkan nuansa kelam Juga jendela rumah mu yang rontok diterpa rindu Aku coba tenggelam bersama tabu asmara Biar hilang dendam yang dulu merajai Juga kerikil senyum selalu membuatku tersandung Apakah itu dari mu semua ? Lama pertanyaan …

Read More »

LARUT

Ada sesak diantara hati yang rapuh Merupakan kesenangan jika hanya berupa senyuman Pun sebaliknya kesengsaraan jika mengajak berkenalan Pada satu kesempatan Coklat putih dengan secangkir kerinduan bertemu Tak banyak percakapan yang terjadi Hanya pertanyaan basa-basi Kaku dan getar getir menjawab Untung saja tak kau lihat sebagaimana otak ku berputar Mencari …

Read More »

Episode Musim Penghujan

kau akan pergi, katamu satu kepedihan lagi dijatuhkan di dadaku pun sepertinya keretamu tak mau menunggu meski aku belum selesai membacamu tepat pukul 02.45 peluitmu berbunyi tergesa kau angkat koper sambil berlari saat aku baru saja selesai menenggak sesendok obat pereda batuk aku menyebutnya sebagai episode musim penghujan seperti hujan …

Read More »

Dua Puluh Menit

katakan, baik-baik saja sekian musim yang alpa jarum jam yang mengeriput dimakan usia entah berapa banyak kelopak kembang sepatu yang kuhitung satu demi satu jatuh berguguran; menandai waktu katakan, kau baik-baik saja sekian lama aku harus menanti saatnya menabuh genderang sebagai pertanda saat jumpa dua puluh menit, cukupkan aku mengenangmu …

Read More »

Tentang Subuh

untuk saudaraku tika, rika dan ana ini tentang subuh yang berkisah juga soal hujan yang mengguyur. dan sisa air hujan dan gelembung air di jendela kaca. serupa rindu dan ketakutan yang tak pernah simpel. ini tentang subuh ditemani selusin hikayat juga rafalan mantra-mantra pemanggil hujan dan keselamatan juga pengharapan ini …

Read More »

Aku Pesan Bebek Palekko’

bersama: daeng emba di atas bibir bantaran sungai salo karajae yang tak berombak kita memesan makanan. kepada perempuan yang berhidung bangir dan berhijab santun, aku memesan bebek palekko bersama sepiring ketulusan kata-kata. sedang engkau memesan ikan bolu dan segelas kopi kebaikan juga gairah. lagu-lagu barat mengalun pelan dengan petikan guitar …

Read More »

Kepadamu Perempuan Tolaki dalam Mondotambe

bersama: Syaiful Haq aku mencium aromamu disini. juga gerakmu yang rancak dan pijak kakimu yang tangkas dan mistis. bersama gerak lamban kita saling menyapa dalam bahasa yang tak akan dimengerti oleh mereka yang hanya memahami kata-kata sebagai umpatan dan cacian. kita saling bersitatap, tapi aku tak mampu memandangmu lama, karena …

Read More »

Hujan

Ada hujan dari langit yang rindu tanah. Dijatuhkannya dirinya menuju tanah. Sial, saat jatuh, dirinya tersangkut di pokok daun siwalan. Dari atas pokok pohon siwalan hujan menangis dalam derita rindu tanah dan pelukan. Dengan mata berair mata dilihatnya tanah menengadahkan tangannya hendak memeluknya. Hingga siang datang, hujan kembali ditimpa panas …

Read More »

DENDAM

Dikira ketulusan yang ku sentuh Nyata luka tertutup duka Pernah berharap untuk diistimewakan Nyata jauh terisolasi Wangi rona mawar mencuat Tapi aku tertusuk duri kecil Kecil tak kasat mata Jauh mungkin harapan bersemayam dalam keraguan Tindak gegabah jauh nyata dalam khayalan Aku mundur berlahan dan kau tak rela aku pergi …

Read More »

Kita Masih Disini

Kita masih disini membaca jejak dalam lambaian tangan. Tak ada kata-kata yang bisa kita percaya mewakili perasaan kita. Segera sejumlah kota dan desa mulai berkelebat dalam kepala. Rumah yang tak berpenghuni, juga jalan-jalan yang menyisakan sisa air hujan. Gardu yang menyerupai rumah sawah kesepian tanpa penjual. Dan kota dengan stopannya …

Read More »

Suram

Malam masih setia menunggu Tumpahan kelelahan dari pagi hingga petang Aroma nasi goreng dari pak tua mulai tercium Serta beberapa pemuda yang siap bermalam mingguan Tembus pagi karna esok libur Seseorang duduk diatas awan Mengamati induk ayam mengekor ular Diam ingin mematuk ekor ular Tapi ular acuh tetap berlalu Induk …

Read More »
KACO baru saja menaiki punggung kuda balibbinna, namun belum sempat ia keluar menuju jalan yang berkerikil depan rumahnya, mendadak ia disuguhi pemandangan segerombol anak-anak putih abu yang berkonvoi memacu sepeda motornya dengan suara knalpot yang memekik mengalahkan ringkik kudanya. Urung melangkahkan kaki kudanya, Kaco lalu berteriak dan bertanya kepada Cicci yang sedang membilas daster kenu’na di samping passauang, “allo apa dite’e di’e Kindo’na”. Cicci menjawab, “allo araba’ sippara hari pendidikan nasional”. Kaco membatin, “Oh, pantas anak-anak sekolah itu merayakannya dengan trek-trekan. Semoga kemajuan pendidikan tidak saja bergerak lamban, namun berlari kencang sekencang sepeda motor trek-trekan anak putih abu itu”.[yat teha]