Selasa , April 7 2020
Home / GAGASAN / PUISI

PUISI

PUISI

Kepada Kekasihnya di Hari Pemilihan

Melalui telepon, kepada kekasihnya malam itu ia berpesan, jangan lupa, besok pagi, aku tunggu di bilik suara di tengah kampung yang tak jauh dari lapangan takraw milik desa. Keesokan paginya pemilihan dimulai dengan sedikit pidato juga basa-basi. Jelang siang antrian di kursi plastik mulai surut. Celaka, sebelum penghitungan kekasihnya tak …

Read More »

Pakansi dalam Lampu Warna Warni

Untuk Ahmad Ghilban Syariati serupa laron kita bergerak ditemani musik yang mengalun pelan. tetapi ini bukan saja tentang cinta dan rasa, tetapi juga ihwal rindu yang bertahan di atas tower warna warni yang temaran menatap dan mengintai. anakku, takjublah melihat lampu dalam ragam rupa dan warna, lalu spontanlah berucap muhammadurasulullah. …

Read More »

Merdeka Dalam Mimpi

negeri kecilku yang begitu indah dipandang mata negeri kecilku sangat sempurna bagaikan negeri dongeng sangat indah dan sempurna namun itu hanyalah mimpi yah, mimpi untuk merdeka mimpi-mimpi untuk melihat kemilau cahaya yang menyinari setiap rumah penduduk di negeri kecilku mimpi memijakkan kaki di jalan yang tak berlumpur hahahahaha namun mungkin …

Read More »

Pertemuan Senja Seusai Rinai

kita berbincang dalam bahasa yang sulit terpahami, karena aku tengah mereka ulang waktu waktu yang lampau. tapi aku digamit oleh pandanganmu yang padanya kutatap peta jalan rasa juga waktu yang singgah dengan jejak yang muskil terhapus. dibawah gerimis aku menelisik rasa yang membatu dan membuatku menjadi sulit berbincang tentang rasa …

Read More »

Asal Ada Ada Asal

Apa yang salah ketika buku ini saya baca? Apakah saya sesat ketika buku ini saya konsumsi? Bisakah saya divonis syiah ketika membaca buku ini? Ataukah setiap orang yang membaca buku ini pastilah orang syiah? Ach……. Kalian terlalu paradoks dalam berfikir!! Kalian terlalu naif pada nilai etis kebenaran!! Kalian terlalu ekstrim …

Read More »

Harga Adat

berjalan semalam suntuk mengusir kantuk ingin segera tiba di bukit itu lewat jalan setapak tak henti aku mengulur tangan untuk berjabat mungkin subuh gigil aku tiba di sana sejenak kupandangi lagi jalan baru saja kulalui tiba di ujung bukit lega menghirup udara sebab tangan teman dapat kugapai sebagai sanak tangan-tangan …

Read More »

Noena Dewi Hardianti

entah bagaimana kita bisa berhadap-hadapan di satu meja perjamuan lilin meredup di atasnya hanya ada satu gelas terisi setengah air putih aku haus, katamu aku juga begitu, kataku sambil memandangi gelas itu entah siapa yang akan minum tak ada mulut benar-benar terbuka yang banyak mulut menganga kata seorang pelayan yang …

Read More »

Makrifat Perjalanan dan Doa di Dua Pulau

aku mendengar adzan berkumandang dari toa masjid-masjid beberapa saat seusai pesawat lending, ditemani senja merah bata. dan aku merasa seperti tengah duduk bersila dihadapan kiai di surau desa yang sepi dan dingin mataku tak kuat menatap wajah dan surbannya. selain takdzim mendengar kata demi kata bacaan kitab yang dieja begitu …

Read More »

Malam Minggu dalam Segelas Teh Tarik

mendengar blues dimainkan, perempuan berkawat gigi berambut pirang dan berbulu mata palsu menganggukkan kepalanya. jemari tangannya setia memainkan ponsel layar sentuh miliknya. malam ini setia telah lama dibarter dengan segelas teh tarik dengan sisa gincu yang menempel dibibir gelasnya. hidup tak lebih hanyalah cara menyiasati kenyataan agar tak tampak kusut …

Read More »

Memesan Djakarta

bersama saudaraku arham dan ipenk kita berdiskusi dan menertawakan kekolotan dan lugunya kita sendiri dan kita sama belajar membaca filsafat kelucuan dan kegelian kita pada hidup yang gombal dan njomplang ondel-ondel mendekati menawarkan kreatifitas dan celengan lalu kita sama menengok luka kemanusiaan dan perjuangan hidup orang orang membicarakan kehidupan dan …

Read More »

TUGAS HARIAN

Aku berangkat menuju rumah mu Berpagar ego, berumput kesepian Ku ketuk berlahan agar pintu mu tak retak Tak ada jawaban Ku ketuk lagi, sedikit lebam dan berdarah Pintu mu rusak, mampus aku Kau mendongak dari jendela Mata sayu, pipi tirus, bibir menghitam Sedikit menggambarkan kesakitan Kau persilahkan aku masuk Aku …

Read More »

PUNTUNG

  Aku menertawai sepi Rata wajah mengiringi lagu kusut dari radio Malam tak menampakkan nuansa kelam Juga jendela rumah mu yang rontok diterpa rindu Aku coba tenggelam bersama tabu asmara Biar hilang dendam yang dulu merajai Juga kerikil senyum selalu membuatku tersandung Apakah itu dari mu semua ? Lama pertanyaan …

Read More »
KACO Siang itu, Kaco sala pa'dutang, tidak ada yang bisa dilakukan selain mamurrus. Dalam kecepatan 180 perjam, Kaco terpaksa ma'ondongngi appang bassi siola bala beke. Cicci yang menyaksikan itu hanya bisa tertawa terbahak. Belum selesai Cicci tertawa melihat kelakuan Kaco, Cicci juga kemudian mengangkat daster dan lari tunggang langgang. Jingkang dan meloncati petawung anna passukkeang. Cicci pikir Kaco lari karena dikejar anjing gila. Ternyata belakangan Cicci tahu kalau ternyata Kaco mamurrus karena hendak menuju pappelembangan karena nalulang setelah manggasa' kaweni pagi tadi.”.[yat teha]