Tuesday , October 15 2019
Home / GAGASAN / Pakansi dalam Lampu Warna Warni
ILUSTRASI PUISI Pakansi dalam Lampu Warna Warni

Pakansi dalam Lampu Warna Warni

Untuk Ahmad Ghilban Syariati

serupa laron kita bergerak ditemani musik yang mengalun pelan. tetapi ini bukan saja tentang cinta dan rasa, tetapi juga ihwal rindu yang bertahan di atas tower warna warni yang temaran menatap dan mengintai.

anakku, takjublah melihat lampu dalam ragam rupa dan warna, lalu spontanlah berucap muhammadurasulullah. seperti tetuamu yang belajar telaten mengajarimu merafalkan takbir dan shalawat.

anakku, ditengah era milenial yang mendewakan tampilan, biarkan shalawatmu mengalun indah dan menyita seluruh kesibukan denyut nadimu.

menjadi penunjuk bahwa dirimu sedang diamuk keintiman cinta dan rindu hanya kepada yang setia engkau rafal dalam nadimu itu. bukan pada ketakjuban plastik pada dunia yang serba semu dan menipu ini.

anakku, kenangkanlah masa ketika ayunanmu bergerak pelan oleh dzikir juga shalawat yang diuntai dari pualamnya hati ibumu yang juga kekasihku itu.

kelak, saat engkau dewasa biarkan rafal cintamu tidak hanya soal hidup, tetapi juga soal nasib mereka yang setia menangisi kerinduannya kepada rasulullah.

dan langkah awalmu ayunkanlah ke maqam mereka yang alim, para pembela kebaikan dan kehidupan juga kesederhanaan yang santun dan tak memaki. tanpa harus engkau selenggarakan pesta simbolis tampilan kealimanmu.

anakku, malam ini lihatlah rembulan saparuh. tatapannya tajam menghunjam ke hati kita. menyinari kota dan pedalaman juga menghangatkan mereka yang sedang tekun dalam sujud malam di separuh muharram.

anakku, sejenak begitu kita tinggalkan cafe ini, tempat duduk kayu ini akan berbincang tentang surah al fatihah yang kita rafal sebelum kita tinggalkan.

dan sesampai di rumah kita akan kembali menulis catatan tentang minggu dan pakansi dalam lampu warna warni. biar kelak kita membacanya tidak sekedar era dan jaman. tetapi juga tentang kesetiaan kita kepada yang maha setia yang selalu kita rindukan itu.

hingga kita sama khatam dan tidak lagi main-main dalam mencintai rasulullah dan para guru yang memperkenalkan kita kepadanya. dan hidupmu, hidup kita biarlah tetap berjalan dan bergerak dalam kebaikan saja.

Hari Ahad, 08 September 2018

About IYAT TEHA

Belajar membaca dan menulis juga pembelajar di kehidupan

Check Also

Perayan Tulisan Perayaan Buku

MALAM belum lagi begitu matang pula khatam, rinai baru saja jatuh membasahi bumi. Pada musim …

Dia Gadis Di atas Pete-Pete, Oh Ternyata…!!

CERITANYA saat masih kuliah, di akhir semester kan gue nya tuh selalu hendak pulang kampung. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

KACO baru saja menaiki punggung kuda balibbinna, namun belum sempat ia keluar menuju jalan yang berkerikil depan rumahnya, mendadak ia disuguhi pemandangan segerombol anak-anak putih abu yang berkonvoi memacu sepeda motornya dengan suara knalpot yang memekik mengalahkan ringkik kudanya. Urung melangkahkan kaki kudanya, Kaco lalu berteriak dan bertanya kepada Cicci yang sedang membilas daster kenu’na di samping passauang, “allo apa dite’e di’e Kindo’na”. Cicci menjawab, “allo araba’ sippara hari pendidikan nasional”. Kaco membatin, “Oh, pantas anak-anak sekolah itu merayakannya dengan trek-trekan. Semoga kemajuan pendidikan tidak saja bergerak lamban, namun berlari kencang sekencang sepeda motor trek-trekan anak putih abu itu”.[yat teha]