Sunday , November 17 2019
Home / GAGASAN / CERPEN / Casing Ponsel, ‘Temannya Tuhan’ dan Pernikahan Komandan

Casing Ponsel, ‘Temannya Tuhan’ dan Pernikahan Komandan

SETELAH capek bermain seusai hujan. Hari itu Kaco kecil duduk dan termenung mendongak ke atas langit. Tepat di depan masjid yang berada di depan rumahnya.

Saat itu hujan baru saja usai, di atas langit tampak pelangi menghias begitu indah. Kaco girang menatap. Dan kegirangan itu menegas oleh matanya yang tak berkedip menyaksikan keindahan ditemani bau tanah yang menyeruak usai disiram air hujan.

Tengah asyik menyaksikan pelangi, Kaco didatangi O’be lelaki dewasa yang kini berstatus sebagai mahasiswa. Kepada Kaco kecil, O’be bertanya, “apa yang engkau lihat dan tatap di atas langit itu”.

Takut pamali, menunjuk pelangi menggunakan jari telunjuknya, seperti yang diajarkan orang tuanya, Kaco kacil hanya mengisyaratkan ke arah langit dengan memonyongkan bibirnya, “itu lihat disana ada pelangi”.

O’be ikut mendongakkan kepalanya dan melihat pelangi yang tampak menghiasi cungkup kubah masjid di depan rumah Kaco kecil itu, seraya melanjutkan percakapannya.

“Kenapa dengan pelangi itu, Kaco?,” tanya O’be lagi.

Kaco menjawab singkat, “pelangi itu datang menemui ‘temannya Tuhan’ yang tinggal di masjid itu.”

O’be bertanya lagi, “siapa ‘temannya Tuhan’ yang ada di masjid yang engkau maksud itu Kaco?,”

“Itu. Nah itu tuh, ‘temannya Tuhan’,” jawab Kaco kecil sambil menunjuk seorang lelaki muda yang kala itu, masih tercatat sebagai mahasiswa sekaligus memilih hidup menjadi perewa masigi (marbot), di masjid yang memang masih berada dalam area kampus tempat O’be kuliah.

Lelaki yang juga mahasiswa dan tengah asyik menyapu teras masjid kampus itu yang ternyata tidak lain, juga adalah sahabat karibnya O’be. Tentu saja O’be kaget dan tidak menduga bahwa sahabatnya yang selama kuliah di kampus itu, telah memilih tinggal dan menghibahkan dirinya untuk mengurusi dan menghidupan sejumlah aktifitas keagamaan di masjid kampus itu, ternyata adalah ‘temannya Tuhan’, sebagaimana pemahaman dan gelar yang disematkan oleh Kaco kecil itu kepadanya.

Dan kini saat catatan tidak penting ini ditulis, gelar ‘temannya Tuhan’, menjadi gelar yang begitu melekat pada sahabat O’be itu. Dan tentu saja, catatan ini bukanlah cerita fiktip. Kendati memang, telah mengalami berbagai penyesuaian disana sini.

Namun yang pasti, sungguh gelar ‘temannya Tuhan’ itu ada dan melekat pada pria yang berbadan nyaris tambun dan yang selain mengurusi masjid juga tercatat sebagai anggota Ansor dan bahkan Kasetma Banser Polewali Mandar.

Dan hebatnya lagi, lelaki ‘temannya Tuhan’ itu, telah pula menggenapkan dirinya sebagai umat Rasulullah Muhammad Saw dengan jalan ‘memerdekakan’ dirinya dan untuk menikahi perempuan pilihan hatinya. Tepat sehari setelah perayaan hari kemerdekaan yang baru lalu.

Nah, khusus ihwal perkawinannya ini, telisik punya telisik ternyata berangkat dari soal yang amat sepele. Sepele, tersebab hanya berangkat dari tawaran untuk membeli casing ponsel yang ditawarkan oleh perempuan yang kini menjadi istrinya itu.

Menerima tawaran penjualan casing ponsel itu, bukannya komandan, sapaan lain sahabatnya di Ansor, itu membayar kontan. Yang ada, malah ia meminta nomor ponsel dan jadilah percakapan berlanjut melalui ponsel itu, hingga bertandang ke rumah perempuannya itu.

Demikianlah, dari cashing ponsel ‘temannya Tuhan’ yang juga sang komandan itu, kini telah menjadi lelaki ‘genap’ pengikut sunnah Rasulullah. Semoga cipratan berkah para kiai dan ulama yang ia cintai, tetap mengatmosfir dalam pelayaran keluarganya.

Tentu saja, juga dengan tetap bersetia dan secara serius mengurusi istrinya. Sebagaimana dirinya yang telah khatam bersetia dan serius mengurusi masjid yang juga adalah ‘rumah Tuhan’ itu. Wallahul alam bissawab.

About IYAT TEHA

Belajar membaca dan menulis juga pembelajar di kehidupan

Check Also

Saat Nonton Biduan (part 1)

SEBAGAI orang yang tinggal di desa, hiburan tentu menjadi barang mewah dan dinanti. Orang-orang di …

Setulus Senyum Guru PAUD

WAJAHNYA tak pernah lepas dari senyum, selalu mengembang manis dihadapan anak-anak didiknya. Suasana hatinya selalu …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

KACO baru saja menaiki punggung kuda balibbinna, namun belum sempat ia keluar menuju jalan yang berkerikil depan rumahnya, mendadak ia disuguhi pemandangan segerombol anak-anak putih abu yang berkonvoi memacu sepeda motornya dengan suara knalpot yang memekik mengalahkan ringkik kudanya. Urung melangkahkan kaki kudanya, Kaco lalu berteriak dan bertanya kepada Cicci yang sedang membilas daster kenu’na di samping passauang, “allo apa dite’e di’e Kindo’na”. Cicci menjawab, “allo araba’ sippara hari pendidikan nasional”. Kaco membatin, “Oh, pantas anak-anak sekolah itu merayakannya dengan trek-trekan. Semoga kemajuan pendidikan tidak saja bergerak lamban, namun berlari kencang sekencang sepeda motor trek-trekan anak putih abu itu”.[yat teha]