GAGASANOPINI

Ruang Virtual dan Kematian Waktu

SUATU malam dalam suatu ruang perjumpaan rutin, berkumpul sejumlah orang. Ruang jumpa itu terbilang cukup egaliter karena para tetua dan anak muda menyatu membincang berbagai hal. Perbincangan cair dari topik satu ke topik lain, mengalir bagai air menyusur Sungai Mandar. Tenang namun kadang deras dan riuh.

Ada empat hal yang tak pernah hilang setiap malam dari forum Pos Kamling sisi kampung itu, yakni; kopi, rokok, kartu domino, dan cerita. Nampaknya keempat hal itulah yang menjadi media perjumpaan.

Topik perbincangan paling panjang malam itu adalah kemasyhuran dan ketinggian ilmu para tokoh jaman dahulu yang memiliki ragam kesaktian. Tentang seorang guru agama mampu berada di masjid berbeda pada waktu yang sama. Tentang seorang kakek pandai menghilang, seorang guru silat yang mampu terbang dan berjalan di puncak pohon atau alang-alang, dan lain-lain. Hingga tentang seorang berilmu magis “hitam” yang mampu mengirim sesuatu yang materil ke dalam tubuh seseorang tanpa disadari.

Tetapi itu semua banyak berlangsung jauh di masa lalu, masa ketika Indonesia sebagai Republik belum terpikirkan. Menurut penutur, saat ini manusia sakti seperti mereka sangat langka. Kemampuan ilmu tradisional itu remuk terhempas oleh kemajuan zaman yang makin moderen dan canggih.

Di jaman modern, tanpa repot belajar ilmu silat dan kanuragan, tetapi secara fisik materil, ribuan orang perhari dapat terbang melintasi berbagai wilayah, keliling dunia menggunakan besi terbang. Dengan kotak televisi, jiwa kita dapat berkunjung ke New York, Mekkah, Newzeland, dan sebagainya tanpa harus keluar rumah.

Melampaui era modern, di era kontemporer (saat ini), kesaktian ilmu tradisional para legendaris jaman dulu yang dinarasikan pada forum pos kamling di atas, nampaknya hadir kembali dalam bentuknya yang berbeda.

Saat ini, dari sebilik kamar, hanya dengan bermodal segenggam smartphone dan jaringan internet, diri kita dapat hadir di mana-mana dalam waktu yang sama, mengerjakan dan menyelesaikan banyak hal, membincang banyak hal, membeli banyak barang, reunian, bermesraan, dan banyak aktifitas lainnya.

Manusia sakti jaman dahulu dapat menghadirkan dirinya di berbagai tempat dengan menggunakan kode-kode supranatural. Manusia kontemporer, melakukan hal yang mirip manusia sakti jaman dulu yakni dengan menggunakan kode-kode digital. Lewat kode-kode digital inilah ruang cyber atau virtual terbentuk. Ruang yang dapat dimasuki mealui salah satu pintunya; smartphone mungil berikut seabrek aplikasi yang terinstal di dalamnya.

Seorang filosof kontemporer, Martin Heidegger sebagaimana dikutip Piliang, menguraikan bahwa manusia dan masyarakat kontemporer telah sampai pada suatu masa, dimana eksistensi manusia tidak lebih dari citraan-citraan saja. Citraan itu tumbuh dalam bentuknya yang ironis; lebih mengutamakan permainan bebas tanda dan kode-kode daripada isi (kebenaran) yang terkandung di balik citraan itu. Jika hendak disederhanakan, lebih penting eksis dalam permainan citra dari pada merepotkan diri mencapai “yang benar”.

Citra adalah image, gambaran, bayangan, kesan mental dari sesuatu, visualisasi dari apa yang terabstraksi dalam pikiran atau perasaan. Dunia citra adalah dunia imajinasi yang bekerja; (1) menggambarkan sesuatu sesuai acuannya di dunia nyata, (2) menggambarkan sesuatu yang sama sekali tidak memiliki acuan di dunia nyata atau mencampur-adukkan sejumlah acuan dari dunia nyata dan hasil imajinasi.

Citraan pada bagian pertama, masih merepresentasikan ruang dan waktu. Misalnya sebuah photo yang menggambarkan Hamdan di masa lalu, kini, atau esok. Namun citraan bagian kedua, di sanalah waktu (time) menemukan kematiannya, di sanalah ruang tanpa waktu, sebagaimana gambar berikut;


Gambar di atas mencitrakan seorang pembalap motor GP bernama Hamdan. Where is it? Tentu ia berada atau meng-ada di ruang virtual. When is it? Tentu pertanyaan ini tidak terjawab, sebab citraan di atas tidak merepresentasikan masa tertentu (lalu-kini-esok), tidak mementingkan dimensi waktu. Ia hanya meng-“ada” tetapi tidak me-“waktu”. Justru sebaliknya, citraan tersebut telah membunuh sang waktu.

Demikianlah manusia yang hidup dalam masyarakat kontemporer, kata Heidegger. Gemar bermain dalam dunia citra, dunia bayang-bayang, dunia palsu, dunia andai-andai. Dunia yang mengejar dan mengagumi jumlah tontonan (viewers) dari suatu citraan ketimbang nilai dari sebuah pesan. Gemar ditonton dan gemar menonton citraan; mengejar ribuan likers, ketimbang nilai suatu pesan.

Ya, dalam dunia virtual, waktu memang telah sekarat, atau bahkan mati. Akan tetapi, kematian waktu ini, diam-diam menjadikan dunia virtual sesungguhnya menjadi pengantar bagi kita kepada apa yang digambarkan dalam berbagai kitab suci sebagai “alam abadi” (baqa’, nirvana, eternity). Bukankah alam abadi adalah alam yang me-ruang namun tidak me-waktu? Alam yang bergerak dalam ruang, namun tidak bergerak pada waktu? Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan pernyataan; “barang siapa yang mengenal smartphone-nya, ia akan mengenal Tuhannya”. Wallahu a’lam.

Banga, 23 Juli 2021

Hamdan eSA

Lahir di Kendari, pernah nyantri, belum punya cita-cita

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button