Sunday , May 26 2019
Home / KOLOM

KOLOM

KOLOM

Sore Ini Aku Minum Teh Buatan Si Sulung

SAMBIL membaca buku tua yang begitu lama ditinggal dan tampak telah dipeluk erat oleh debu, aku menyeruput pelan-pelan teh buatan di sulung yang baik hati. Rasanya inilah waktu yang tepat merayakan waktu senggang ditengah luberan dan kejaran pekerjaan yang bertumpuk-tumpuk dan saling timpal menimpali. Membuat aku terasa berada di atas …

Read More »

Pemilu Bukan Panggung Pertunjukan Sakit Jiwa Sosial

MEMBACA kenyataan politik juga adalah membaca peta panjang sejarah perjalanan manusia. Yang dalam kenyataannya juga sama dengan membaca pasar. Yang di dalam pasar itu, memuat sejumlah transaksi peralihan kedaulatan dari tangan pemegang sah kedaulatan kepada mereka yang dianggap kafabel (baca: mampu) untuk memegang mandat dari daulat rakyat atau warga. Karena …

Read More »

Kaco, Embikan Kambing dan Simulakra

KACO sungguh pusing bukan alang kepalang, saat itu adzan mangari’ sudah bergema di musallah yang tak begitu jauh dari rumahnya. Tetapi bukan soal politik uang, atau berita hoax dan debat para calon pemimpin. Bukan pula soal pengadaan surat suara dan kotak suara apalagi kotak pandora yang berisi uang yang akan …

Read More »

Hujan

Ada hujan dari langit yang rindu tanah. Dijatuhkannya dirinya menuju tanah. Sial, saat jatuh, dirinya tersangkut di pokok daun siwalan. Dari atas pokok pohon siwalan hujan menangis dalam derita rindu tanah dan pelukan. Dengan mata berair mata dilihatnya tanah menengadahkan tangannya hendak memeluknya. Hingga siang datang, hujan kembali ditimpa panas …

Read More »

Kopi Kaleok

MALAM merambat pelan, hilir mudik suara deru knalpot kendaraan masih setia berlalu lalang. Hidup semoga kian terberkati. Di sebuah meja kayu yang digabungkan dengan kursi kayu yang masih setia berwarna kayu, sejumlah anak-anak muda tengah serius membincang cita-cita. Dan itu bernama harapan. Bergelas-gelas kopi mematung di atas meja kayu. Bukan …

Read More »

Ramadan, Kreatifitas dan Keindahan

RAMADAN tidak saja menghadirkan kebaikan, namun ia juga menghadirkan keindahan dan kreatifitas yang luar biasa dahsyatnya. Kehadiran kebaikan, keindahan dan kreatifitas yang sulit untuk ditakar dalam takaran nalar standar manusia hedonis pula pragmatik. Begitulah adanya, ramadan bukanlah bulan yang sama dengan bulan sebelum dan sesudahnya. Sebagai bulan suci, ramadan dimuliakan, …

Read More »

Mall dan Lelucon yang Tak Lucu

PERNAKAH anda dikirimi video viral mementum peresmian dibukanya Mall itu. Video pendek yang mungkin sedang dimaksudkan hendak menayangkan kelucuan yang menggelikan tatkala begitu banyak orang yang sedang antri untuk belajar menaiki tangga skalator. Ya, video yang semoga dan insya Allah tidak direkam pula ditonton oleh kita yang sedang belajar menutup …

Read More »

Bom dan Nilai Kemanusiaan Kita

TATKALA kebangetan nilai kehidupan kemanusiaan bersesama munukik jauh ke titik yang paling terendah. Maka masih tersisakah secuil dari nilai-nilai hidup kemanusiaan kita sebagai suara kebatinan kita. Ledakan bom yang memekik memecahkan irama santun kehidupan kita membuat kita seakan gelagapan. Tak tahu, kita mempercayai siapa lagi dalam kehidupan ini. Dan saya …

Read More »

Perjalanan dan Rindu

PERJALANAN adalah sebuah kata yang bisa saja, akan segera mengajak imajinasi kita bergerak kepada kegirangan tentang sebuah pertemuan baru dengan orang yang sebelumnya berjarak dengan diri kita. Perjalanan menjadi salah satunya upaya meringkas jarak pula ruang dan mendekatkan kita kepada yang sebelumnya hanya ada dalam pikiran atau dalam bayangan. Suasana …

Read More »

Manusia, Kodok dan Politik

MANUSIA tidak saja memiliki kebudayaan, tetapi juga memiliki sejarah. Maka seorang penulis yang baik adalah penulis yang memahami bahwa setiap wajah yang ia temui dalam kehidupannya memiliki sejarahnya sendiri, karenanya ia tidak akan menempatkan manusia disekitarnya sekedar sebagai makhluk, tetapi ia akan menempatkanya sebagai sebuah rangkaian sejarah panjang yang penting …

Read More »
KACO baru saja menaiki punggung kuda balibbinna, namun belum sempat ia keluar menuju jalan yang berkerikil depan rumahnya, mendadak ia disuguhi pemandangan segerombol anak-anak putih abu yang berkonvoi memacu sepeda motornya dengan suara knalpot yang memekik mengalahkan ringkik kudanya. Urung melangkahkan kaki kudanya, Kaco lalu berteriak dan bertanya kepada Cicci yang sedang membilas daster kenu’na di samping passauang, “allo apa dite’e di’e Kindo’na”. Cicci menjawab, “allo araba’ sippara hari pendidikan nasional”. Kaco membatin, “Oh, pantas anak-anak sekolah itu merayakannya dengan trek-trekan. Semoga kemajuan pendidikan tidak saja bergerak lamban, namun berlari kencang sekencang sepeda motor trek-trekan anak putih abu itu”.[yat teha]