Tuesday , July 23 2019
Home / GAGASAN / Catatan Penting Proses Pungut Hitung

Catatan Penting Proses Pungut Hitung

MIRIS pula menyedihkan. Begitulah, dua diksi atau kata yang rasanya bisa mewakili posisi para pekerja di sejumlah tempat pemungutan suara (TPS). Betapa tidak, disatu sisi, mereka yang bekerja untuk mendapatkan rupiah itu, sedang disisi yang lainnya, jiwa dan raganya-pun terkadang dengan terpaksa harus dipertaruhkan. Kadang pula, justru cemoohan dan sedikit makian serta ancaman-lah yang mereka dapatkan.

Tentu mereka sadar betul, meski tak sebanding dengan uang honor atau gaji yang mereka peroleh, namun mereka tetap rela melakukan pekerjaan itu. Sebagai pengabdian paling nyata bagi negara dan bangsa Indonesia yang mereka dan kita cintai ini.

Tetapi, tahukah kita, kenapa mereka rela menempuh pekerjaan sebagai jalan miris pula menyedihkan itu? Jawabannya, tentu saja telah sama kita pahami, bahwa semua itu dilakukan dan dikerjakan sebagai manifestasi dari pengabdian dan kerja nyata bagi bangsa ini, untuk melahirkan pemimpin pemerintahan (baca: eksekutif) dan legislatif (baca: wakil rakyat), serta senat (baca: dewan perwakilan daerah.

Lalu, pernahkah mereka yang terpilih itu, baik sebagai eksekutif, legislatif dan anggota DPD itu, tergelitik sedikit saja rasa ibanya melihat sekelompok orang yang begitu gigih bekerja demi kursi-kursi empuk yang akan mereka duduki itu?

Ya, kursi yang akan memutar kenyataan hidup para petinggi itu menjadi 360 derajat dan akan mengantarkan mereka ke dalam gedung-gedung mewah ber AC, ditambah fasilitas yang disediakan oleh negara untuk mereka selama lima tahun.

Alhasil, dari catatan ini, saatnya semua yang telah terpilih dalam pertarungan panjang ini, untuk menundukkan kepala, berpikir untuk memperjuangkan mereka-mereka yang telah menguras seluruh energi dan pemikirannya untuk memproses dan menjaga, serta mengamankan hasil seluruh suara yang disampaikan rakyat atau warga pemilih lewat secarik kertas yang bernama surat suara.

Bukan malah mencemooh dan memaki serta mengancam mereka yang telah bekerja jauh dari standar pendapatan yang memadai. Terlebih akan amat sangat jauh, jika disandingkan dengan uang kehormatan yang akan diperoleh oleh para petinggi yang duduk disinggasana kekuasaan itu. Semoga kita sama masih punya waktu untuk menundukkan kepala, merenung dan berpikir sejenak akan beratnya beban kerja mereka itu. Semoga.

About ACHMADI TOUWE

Mantan Dekan FISIP Universitas Al Asyariah Mandar ini juga adalah mantan Ketua KPU Kabupaten Polewali Mandar. dan kini menjabat sebagai Ketua Presidium Jaringan Demokrasi Indonesia (JaDI) Polewali Mandar

Check Also

Romli, Sisi Lain dari Konferwil III NU Sulbar

IBU kantin sibuk mengaduk kopi. Kali ini kantinnya begitu ramai oleh pengunjung dan itu tidak …

9 Alasan Mengapa Mencintai NU

        Oleh :  Abdul Hakim Madda         (Kader muda NU …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

KACO baru saja menaiki punggung kuda balibbinna, namun belum sempat ia keluar menuju jalan yang berkerikil depan rumahnya, mendadak ia disuguhi pemandangan segerombol anak-anak putih abu yang berkonvoi memacu sepeda motornya dengan suara knalpot yang memekik mengalahkan ringkik kudanya. Urung melangkahkan kaki kudanya, Kaco lalu berteriak dan bertanya kepada Cicci yang sedang membilas daster kenu’na di samping passauang, “allo apa dite’e di’e Kindo’na”. Cicci menjawab, “allo araba’ sippara hari pendidikan nasional”. Kaco membatin, “Oh, pantas anak-anak sekolah itu merayakannya dengan trek-trekan. Semoga kemajuan pendidikan tidak saja bergerak lamban, namun berlari kencang sekencang sepeda motor trek-trekan anak putih abu itu”.[yat teha]