Selasa , Juni 2 2020
Home / GAGASAN / Catatan Penting Proses Pungut Hitung

Catatan Penting Proses Pungut Hitung

MIRIS pula menyedihkan. Begitulah, dua diksi atau kata yang rasanya bisa mewakili posisi para pekerja di sejumlah tempat pemungutan suara (TPS). Betapa tidak, disatu sisi, mereka yang bekerja untuk mendapatkan rupiah itu, sedang disisi yang lainnya, jiwa dan raganya-pun terkadang dengan terpaksa harus dipertaruhkan. Kadang pula, justru cemoohan dan sedikit makian serta ancaman-lah yang mereka dapatkan.

Tentu mereka sadar betul, meski tak sebanding dengan uang honor atau gaji yang mereka peroleh, namun mereka tetap rela melakukan pekerjaan itu. Sebagai pengabdian paling nyata bagi negara dan bangsa Indonesia yang mereka dan kita cintai ini.

Tetapi, tahukah kita, kenapa mereka rela menempuh pekerjaan sebagai jalan miris pula menyedihkan itu? Jawabannya, tentu saja telah sama kita pahami, bahwa semua itu dilakukan dan dikerjakan sebagai manifestasi dari pengabdian dan kerja nyata bagi bangsa ini, untuk melahirkan pemimpin pemerintahan (baca: eksekutif) dan legislatif (baca: wakil rakyat), serta senat (baca: dewan perwakilan daerah.

Lalu, pernahkah mereka yang terpilih itu, baik sebagai eksekutif, legislatif dan anggota DPD itu, tergelitik sedikit saja rasa ibanya melihat sekelompok orang yang begitu gigih bekerja demi kursi-kursi empuk yang akan mereka duduki itu?

Ya, kursi yang akan memutar kenyataan hidup para petinggi itu menjadi 360 derajat dan akan mengantarkan mereka ke dalam gedung-gedung mewah ber AC, ditambah fasilitas yang disediakan oleh negara untuk mereka selama lima tahun.

Alhasil, dari catatan ini, saatnya semua yang telah terpilih dalam pertarungan panjang ini, untuk menundukkan kepala, berpikir untuk memperjuangkan mereka-mereka yang telah menguras seluruh energi dan pemikirannya untuk memproses dan menjaga, serta mengamankan hasil seluruh suara yang disampaikan rakyat atau warga pemilih lewat secarik kertas yang bernama surat suara.

Bukan malah mencemooh dan memaki serta mengancam mereka yang telah bekerja jauh dari standar pendapatan yang memadai. Terlebih akan amat sangat jauh, jika disandingkan dengan uang kehormatan yang akan diperoleh oleh para petinggi yang duduk disinggasana kekuasaan itu. Semoga kita sama masih punya waktu untuk menundukkan kepala, merenung dan berpikir sejenak akan beratnya beban kerja mereka itu. Semoga.

About ACHMADI TOUWE

Mantan Dekan FISIP Universitas Al Asyariah Mandar ini juga adalah mantan Ketua KPU Kabupaten Polewali Mandar. dan kini menjabat sebagai Ketua Presidium Jaringan Demokrasi Indonesia (JaDI) Polewali Mandar

Check Also

Kisah Tonggo, Pepa’ dan Ringis

TAYANG9– Suatu waktu, ada tiga sahabat yang pergi ke Gunung, namanya Pepa’, Tonggo dan Ringis. …

Covid-19 dan Dampaknya Terhadap Perubahan Penyelenggaraan Ujian Nasional

Penulis: Angga Setyadi. M. Limpukasi SUNGGUH suatu yg sangat kebetulan sekali ditengah pandemi corona yang …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

KACO Siang itu, Kaco sala pa'dutang, tidak ada yang bisa dilakukan selain mamurrus. Dalam kecepatan 180 perjam, Kaco terpaksa ma'ondongngi appang bassi siola bala beke. Cicci yang menyaksikan itu hanya bisa tertawa terbahak. Belum selesai Cicci tertawa melihat kelakuan Kaco, Cicci juga kemudian mengangkat daster dan lari tunggang langgang. Jingkang dan meloncati petawung anna passukkeang. Cicci pikir Kaco lari karena dikejar anjing gila. Ternyata belakangan Cicci tahu kalau ternyata Kaco mamurrus karena hendak menuju pappelembangan karena nalulang setelah manggasa' kaweni pagi tadi.”.[yat teha]