Tuesday , January 21 2020
Home / BERITA / Menangis dan Terhenti Bicara, Prof Kamaruddin: Jangan Minta Saya Bicara Tentang Ibu, Saya Tidak Kuat

Menangis dan Terhenti Bicara, Prof Kamaruddin: Jangan Minta Saya Bicara Tentang Ibu, Saya Tidak Kuat

TAYANG9-Saya lebih baik jangan bicara tentang ibu. Saya tidak akan kuat. Begitu yang terlontar dari bibir Prof DR. Phil. H. Kamaruddin, MA. Dirjen pendidikan Islam kementerian agama Republik Indonesia saat menjadi pembicara utama pada kuliah umum yang digelar oleh pusat kajian pemberdayaan perempuan Universitas Al Asyariah Mandar di auditorium Prof. KH Sahabuddin, Sabtu 21 Desember2019.

Kamaruddin terhenti dan sesekali menunduk seraya melepaskan kacamatanya mencoba menyeka air matanya seakan hendak menyembunyikannya dihadapan para peserta kuliah umum yang terdiri dari dosen dan mahasiswa Unasman.

“saya mohon maaf, saya tidak kuat bicara tentang ibu. Yang padanya tidak bisa kita hitung kebaikan jasa dan doanya. Biarkan saya bicara tentang era industri abad 21 yang meminta kita untuk siap bersaing menghadapi era yang sangat kompetitif itu,” tutur Kamaruddin seraya turun dari panggung dan berdiri seperti di depan kelas dihadapan peserta kuliah umum yang duduk bersila.

Dikatakannya, terkait era industri dan digital ini, “posisi kita ke depan sangat bergantung bagaimana rencana dan cita-cita Anda”.

Kamaruddin mengutip hasil penelitian di Harvard University yang menunjukkan, alumnus yang sukses di Harvard setelah 18 tahun, ternyata tidak semua cerdas, tetapi mereka punya cita-cita mereka juga memiliki kemampuan yang baik dalam membangun interaksi dan komunikasi sosial, tawadhu dan tidak sombong.

“Jangan sombong karena sangat menghambat karier fokus dan miliki hati yang baik. Selain itu mereka juga visioner dan memiliki cita dan ambisi yang besar. Dunia ini dipenuhi oleh anak milenial yang tidak boleh lupa bagaimana teknologi menjadi alat pendukung cita-cita dan kita kapitalisasi itu, karenanya dibutuhkan juga kemampuan literasi media,” harapnya.

Selain kemampuan itu, masih menurut Kamaruddin penting pula kemampuan berbahasa dan berkomunikasi.

“Pastikan diri anda, tidak akan mengikuti wisuda sebelum bahasa Inggris anda bagus. Saya belajar hadits di Jerman Belanda dan penelitian di Mekkah tapi apa ada hubungan dengan posisi saya sebagai dirjen? Ini karena kita punya kemampuan dan attitude. Jadi jangan pusing dengan apapun jurusan anda, perbaiki diri anda perkuat kemampuan anda dan tunggu sepuluh, lima belas tahun lagi anda akan menjadi orang yang hebat. Ingat ibu dan orang tua anda yang punya cita-cita anda menjadi orang sukses dan baik. Pastikan ada fokus belajar keras, jadi orang baik, cerdas berakhlak dan punya karakter insya Allah menjadi orang yang sukses,” rinci alumnus pondok pesantren As’adiyah Sengkang dan juga alumnus di Belanda dan Jerman ini.

Sementara itu, dalam sambutan pembukaannya, Rektor Unasman DR. Chuduriah Sahabuddin, M.Si mengatakan, “di momentum hari ini bertepatan dengan hari ibu ini kita sengaja menghadirkan Prof Kamaruddin di kampus ini berharap mendapatkan banyak masukan fikiran kita dalam menata posisi kita sebagai kampus yang berkontribusi nyata pada negara dan bangsa. Terima kasih atas kedatangannya di kampus tercinta ini,” urai Rektor Unasman sebelum membuka acara itu secara resmi.

Patut dicatat dalam acara itu selain dihadiri civitas akademika Unasman tampak pula hadir DR Nafis Djueni Ketua Stain Majene bersama DR. Mukhlis Latif Wakil Ketua Stain yang juga mantan Ka. Kanwil Kemenag Sulbar bersama sejumlah unsur pimpinan Stain Majene.

About EDITOR

Alamat Redaksi: Boyang Nolpitu Berkat Pesona Manding Polewali Mandar Sulawesi Barat Surel: tayangssembilan@gmail.com Gawai: +62 852-5395-5557

Check Also

Salut!! Bantu Korban Bencana Alam, HMSS Gelar Aksi Penggalangan Dana

MAJENE, TAYANG9 – Para Pemuda dan Mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Satu Sendana (HMSS) …

Gelombang Tinggi Menerjang, Warga Somba Mulai Cemas

MAJENE, TAYANG9 – Hampir sepekan ini cuaca buruk melanda wilayah pesisir Kabupaten Majene, terutama di …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

KACO baru saja menaiki punggung kuda balibbinna, namun belum sempat ia keluar menuju jalan yang berkerikil depan rumahnya, mendadak ia disuguhi pemandangan segerombol anak-anak putih abu yang berkonvoi memacu sepeda motornya dengan suara knalpot yang memekik mengalahkan ringkik kudanya. Urung melangkahkan kaki kudanya, Kaco lalu berteriak dan bertanya kepada Cicci yang sedang membilas daster kenu’na di samping passauang, “allo apa dite’e di’e Kindo’na”. Cicci menjawab, “allo araba’ sippara hari pendidikan nasional”. Kaco membatin, “Oh, pantas anak-anak sekolah itu merayakannya dengan trek-trekan. Semoga kemajuan pendidikan tidak saja bergerak lamban, namun berlari kencang sekencang sepeda motor trek-trekan anak putih abu itu”.[yat teha]