KOLOMMURSYID SYUKRI

Takbiran Tak Menggetarkan Hati

Jeritan Rindu Menuju Padang Arafah

SORE menjelang malam Idul Adha sering menghadirkan suasana yang berbeda di dalam hati manusia. Di langit terdengar gema takbir, di masjid orang-orang mulai berkumpul, sementara di tanah suci jutaan jamaah haji sedang berdiri di Padang Arafah. Namun di tengah ramainya suara takbir, ada satu keadaan yang diam-diam mengusik jiwa manusia, yaitu ketika “takbiran tidak lagi menggetarkan hati”. Suara takbir terdengar di telinga, tetapi tidak sampai mengguncang kesadaran ruhani. Bibir mengucapkan “Allahu Akbar”, tetapi hati masih sibuk oleh urusan dunia, kecemasan hidup, bahkan kadang kehilangan makna penghambaan kepada Allah.

Pesan orang tua dahulu sebenarnya mengandung nilai spiritual yang sangat mendalam. Seruan “Iyo… Iyo… Andiang sawa’…” bukan sekadar teriakan tradisi masyarakat Mandar, melainkan simbol panggilan ruhani untuk menyambut undangan Allah menuju tanah suci. Dalam perspektif antropologi budaya Islam, tradisi lisan seperti ini merupakan bentuk transmisi nilai keagamaan yang diwariskan secara turun-temurun agar manusia selalu merasa dekat dengan peristiwa-peristiwa suci dalam Islam. Ketika para jamaah haji berkumpul di Padang Arafah, masyarakat di kampung-kampung juga diajak untuk menghadirkan hati mereka secara spiritual, seolah ikut berdiri bersama jutaan manusia yang sedang memohon ampunan kepada Allah.

Secara teologis, wukuf di Padang Arafah adalah inti dari ibadah haji. Rasulullah SAW bersabda bahwa “Haji itu Arafah”. Maknanya, puncak perjalanan spiritual manusia terjadi ketika ia berdiri dengan penuh ketundukan, kesadaran dosa, dan pengharapan akan rahmat Allah. Pada saat itu seluruh status sosial manusia runtuh; yang kaya dan miskin, pejabat dan rakyat biasa, semua memakai pakaian ihram yang sama sebagai simbol kesetaraan di hadapan Tuhan. Dari sisi psikologi spiritual, keadaan ini menciptakan pengalaman religius yang sangat kuat, karena manusia berada pada kondisi puncak kesadaran eksistensial tentang dirinya sebagai makhluk yang lemah.

Karena itulah, ketika orang tua dahulu berkata bahwa seluruh jamaah haji sedang memanggil kita di Padang Arafah, pesan itu sebenarnya ingin menanamkan rasa kerinduan spiritual kepada Baitullah. Kerinduan tersebut bukan hanya keinginan fisik untuk pergi ke Makkah, tetapi juga panggilan jiwa untuk mendekat kepada Allah. Dalam ilmu psikologi agama, kerinduan terhadap tempat-tempat suci disebut sebagai “sacred longing”, yaitu dorongan batin manusia untuk mencari kedamaian dan makna hidup melalui pengalaman religius.

Teriakan “Iyo… Iyo…” yang diucapkan dengan penuh harapan menunjukkan adanya optimisme spiritual. Walaupun biaya haji belum mencukupi, keyakinan bahwa Allah dapat membuka jalan adalah bentuk tawakal yang hidup dalam hati seorang mukmin. Secara ilmiah, harapan dan optimisme memiliki pengaruh besar terhadap ketahanan mental manusia. Orang yang memiliki keyakinan religius cenderung lebih kuat menghadapi tekanan hidup dibandingkan mereka yang kehilangan harapan. Dalam Islam sendiri, berprasangka baik kepada Allah merupakan bagian dari ibadah hati yang sangat dianjurkan.

Namun kenyataan hari ini memperlihatkan bahwa gema takbir sering berubah hanya menjadi rutinitas budaya. Takbir diperdengarkan melalui pengeras suara, media sosial dipenuhi ucapan Idul Adha, tetapi getaran pengorbanan dan keikhlasan mulai memudar. Inilah yang dimaksud dengan “Takbiran Tak Menggetarkan Hati”. Fenomena ini dapat dijelaskan secara sosiologis sebagai akibat dari modernisasi dan materialisme, di mana simbol agama kadang hanya menjadi perayaan seremonial tanpa penghayatan makna spiritualnya.

Padahal Idul Adha sesungguhnya adalah pendidikan tentang pengorbanan dan ketulusan. Ibadah qurban mengajarkan bahwa manusia harus rela melepaskan sesuatu yang dicintainya demi ketaatan kepada Allah. Dalam sejarah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, pengorbanan bukan sekadar penyembelihan hewan, tetapi ujian keikhlasan tertinggi antara cinta kepada keluarga dan cinta kepada Tuhan. Ketika Nabi Ibrahim diperintahkan menyembelih anaknya sendiri, beliau tidak membantah. Begitu pula Nabi Ismail menerima perintah itu dengan ketulusan luar biasa. Pada akhirnya Allah mengganti Ismail dengan seekor domba sebagai tanda bahwa yang diuji sebenarnya adalah keimanan dan keikhlasan hati manusia.

Secara filosofis, kisah tersebut menunjukkan bahwa inti qurban bukan darah dan daging hewan. Al-Qur’an menjelaskan bahwa yang sampai kepada Allah adalah ketakwaan manusia. Artinya, nilai ibadah tidak ditentukan oleh besar kecilnya hewan qurban, melainkan oleh keikhlasan hati ketika berkorban. Karena itu, pertanyaan yang paling dalam sebenarnya bukan apakah kita mampu membeli sapi atau kambing, tetapi apakah hati kita mampu ikhlas seperti Ibrahim dan Ismail.

Dari sudut pandang sosial, qurban juga memiliki nilai kemanusiaan yang sangat tinggi. Daging qurban dibagikan kepada fakir miskin, keluarga, dan tetangga. Tradisi ini membangun solidaritas sosial dan memperkuat hubungan antarmanusia. Dalam teori sosiologi agama, ritual berbagi seperti qurban menciptakan kohesi sosial, yaitu rasa persaudaraan dan kebersamaan dalam masyarakat. Orang kaya belajar berbagi, sementara orang miskin merasakan perhatian dan kasih sayang sosial.

Akhirnya, gema takbir seharusnya bukan hanya terdengar di telinga, tetapi juga membangunkan hati manusia yang mulai tertidur oleh kesibukan dunia. Takbir yang sejati adalah ketika manusia sadar bahwa Allah Maha Besar, sementara dirinya hanyalah hamba yang lemah. Jika takbir tidak lagi menggetarkan hati, maka mungkin yang hilang bukan suara takbirnya, melainkan kedalaman penghayatan iman di dalam jiwa manusia.

Maka ketika sore itu terucap “Iyo… Iyo… Andiang sawa’…”, sesungguhnya itu bukan hanya suara kerinduan menuju Makkah, tetapi juga jeritan hati seorang hamba yang ingin dipanggil Allah menjadi tamu-Nya. Sebab rahasia rezeki dan panggilan haji adalah hak Allah semata. Tidak ada yang mustahil bagi-Nya. Hari ini mungkin hanya mampu memanggil dari kejauhan, tetapi siapa tahu suatu hari nanti Allah benar-benar menjawab panggilan itu dengan mempertemukan diri kita di Padang Arafah, bersama jutaan manusia yang menangis memohon ampunan di hadapan-Nya.

Mandar, 26 Mei 2026

 

 

MURSYID SYUKRI

Aktif dalam pergerakan seni budaya Mandar dan serius menghibahkan waktunya sebagai Ketua Sekolah Adat Adolang Pamboang

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
%d blogger menyukai ini: