
ADA satu momen ketika bunyi berhenti menjadi sekadar bunyi, dan mulai menjadi jejak. Momen itu terjadi setiap kali seorang lelaki Mandar melantunkan kalindaqdaq di sela kerja, atau ketika gendang mengiringi ayunan tubuh, bukan sebagai pertunjukan, melainkan sebagai cara sebuah masyarakat Mandar untuk berbicara kepada dirinya sendiri, kepada leluhurnya, kepada kekayaan alam yang menghidupinya. Pertanyaannya sekarang, masih adakah ruang bagi bunyi semacam itu untuk hidup, ketika remaja tumbuh dengan earphone dan playlist yang jauh dari Mandar?
Saya kira soal ini bukan sekadar urusan selera musik. Ada sesuatu yang lebih dalam sedang terjadi dan kebetulan saya cukup sering menjumpainya dari sudut pandang lain: sebagai orang yang bergiat di dunia bimbingan dan konseling, sekaligus kali ini didapuk sebagai kurator teks dan konteks untuk Mandar Ethno Music Concert. Dua peran yang ternyata bertemu pada satu titik yang sama.
James Banks, salah satu pemikir penting pendidikan multikultural, pernah mengingatkan bahwa tidak ada pendidikan yang benar-benar netral secara kultural. Kurikulum, tontonan, bahkan musik yang kita dengar sehari-hari selalu membawa pesan diam-diam tentang budaya mana yang dianggap pusat dan mana yang pinggiran. Ketika remaja Mandar lebih akrab dengan musik global ketimbang kecaping, bunyi sattung, gongga lawe, calong yang ke semua itu berasal dari leluhurnya sendiri, itu bukan salah siapa, apatalagi kesalahan yang dilakukan secara sengaja. Ini lebih pada akibat dari ruang publik yang jarang memberi tempat terhormat bagi budaya lokal untuk tampil setara di hadapan budaya-budaya lain yang lebih dominan.
Dan di sinilah letak keresahan yang sesungguhnya menurut saya. Bukan soal remaja yang “melupakan” budayanya sendiri, melainkan soal seberapa sering budaya itu diberi panggung yang layak untuk ditemukan kembali oleh mereka.
Kalau saya tarik ke ranah keilmuan yang saya geluti, apa yang tampak sebagai persoalan pelestarian budaya sesungguhnya menyimpan dimensi yang jauh lebih personal, yakni krisis identitas. Remaja adalah kelompok usia yang secara psikologis tengah bergulat mencari jawaban atas pertanyaan paling mendasar: Seperti, siapa saya dan dari mana saya berasal?. Ketika lingkungan sekitarnya tidak menyediakan cukup ruang untuk menjawab pertanyaan itu lewat akar kulturalnya sendiri, remaja cenderung mencari identitas dari sumber yang paling mudah diakses, yang bisa jadi belum tentu selaras dengan nilai dan konteks hidupnya sehari-hari.
Dalam pengalaman saya menemani proses-proses konseling, kegelisahan semacam ini jarang muncul dalam kalimat sesederhana “saya kehilangan budaya saya”. Ia lebih sering hadir dalam bentuk yang lebih samar: rasa tidak percaya diri, kesulitan menemukan makna hidup atau perasaan asing di tengah lingkungan sendiri. Ketiadaan pijakan identitas kultural yang kokoh kerap menjadi salah satu benang yang, kalau ditelusuri lebih jauh, ikut menyumbang pada rentannya remaja terhadap tekanan sosial dan kesulitan membangun harga diri yang stabil.

Karena itu saya melihat event seperti Mandar Ethno Music Concert bukan semata sebagai hiburan atau seremoni tahunan, melainkan sebagai ruang alternatif yang diam-diam punya fungsi pencegahan. Ruang yang menawarkan kepada remaja sesuatu yang jarang mereka temukan di tempat lain, yaitu pengakuan bahwa identitas asal mereka layak dirayakan, bukan disembunyikan.
Yang menarik dari konser ini adalah keberaniannya menghadirkan Pelaku kesenian: Pakkacaping Tommuane/Towaine, Gulintang, Paccalong Kulu-Kullung, Gandrang Tokerang adalah bukti keseriusan Taman Budaya dan Museum untuk menghadirkan kekhalayak umum bukan sebagai artefak yang dijaga dalam kaca museum, melainkan sebagai bahan hidup yang penting untuk diketahui.
Melihat dengan jelas pelaku musik eksperimental yang memadukan idiom tradisional dengan tekstur bunyi kontemporer sesungguhnya sedang mengajarkan sesuatu yang penting, bahwa tradisi bukan barang jadi yang tinggal disimpan, melainkan proses yang terus dikonstruksi ulang oleh setiap generasi yang menghidupinya. Saya menyakini, jika Remaja hari ini menyaksikan proses ini secara langsung, secara tidak langsung mereka sedang belajar cara berpikir kritis tentang budaya bahwa apa yang disebut asli pun sesungguhnya hasil dari tafsir panjang generasi-generasi sebelumnya.
Ada pula satu stigma yang saya kira pelan-pelan runtuh pada malam konser semacam ini: anggapan bahwa musik daerah adalah sesuatu yang kuno, kampungan, atau tidak sejajar dengan musik kontemporer. Ketika bunyi kacaping hadir dalam balutan eksperimental yang estetis dan berani, penonton terutama yang muda tentunya akan mendapat pengalaman langsung bahwa musik lokal tidak kalah relevan dari genre musik global mana pun. Prasangka semacam ini tidak bisa dihapus lewat imbauan atau ceramah tapi bisa luruh dengan sendirinya lewat pengalaman estetik yang jujur.
Yang membuat langkah Taman Budaya dan Museum Sulawesi Barat patut diapresiasi adalah keberaniannya menjadikan musik etnik bukan sebagai tempelan seremonial, melainkan sebagai program yang terus-menerus (mudah-mudahan) diberi ruang tumbuh. Sebab pendidikan multikultural yang sesungguhnya, sebagaimana ditegaskan Banks, tidak cukup hanya menghadirkan budaya lokal sesekali di panggung. Ia menuntut institusi untuk sungguh-sungguh memberdayakannya, menjadikannya bagian permanen dari ekosistem, bukan sekadar bumbu pelengkap acara tahunan. Sebab remaja yang tumbuh tanpa pernah melihat budayanya direpresentasikan secara bermartabat berisiko mengalami semacam jarak batin, antara siapa dirinya secara historis dan siapa yang dianggap normal oleh lingkungan sekitarnya. Ketika petikan kacaping, bunyi calong dan gongga lawe hadir dalam bentuk yang segar dan dihormati secara artistik, seorang remaja Mandar mendapat konfirmasi sederhana namun penting, bahwa akar budayanya bukan beban yang harus disembunyikan, melainkan bekal yang layak dibanggakan sekaligus fondasi yang akan menopangnya menghadapi tantangan hidup di kemudian hari.
Konser akan selesai, panggung akan gelap, tapi saya kira pelajaran yang ditinggalkannya justru baru saja dimulai, di mulainya dari mana?, tentunya dari mata lalu kepala setiap remaja yang pulang membawa pertanyaan tentang dari mana bunyi yang baru saja mereka dengar itu berasal, barangkali pertanyaan yang lebih dalam tentang siapa dirinya sendiri. Di titik itulah sebuah event budaya berhenti menjadi sekadar hiburan, event budaya mulai bekerja sebagai ruang tumbuh yang sesungguhnya, pelan dan sunyi, namun menopang generasi yang sedang mencari pijakan.
*Penulis: Muhammad Junaedi Mahyuddin, Kurator Teks dan Konteks Mandar Ethno Music Concert




