GAGASANOPINI

MEMC dan Idealisme Musik Sulawesi Barat

*Catatan Kurato Oleh: Sahabuddin Mahganna

MANDAR Ethno Music Concert (MEMC) merupakan sebuah inisiatif yang lahir dari kesadaran akan pentingnya menjaga sekaligus mengembangkan musik etnis, khususnya di Sulawesi Barat. Dalam kenyataan hari ini, musik etnis menghadapi dua kondisi yang berjalan bersamaan: ada jenis musik yang masih hidup dan digunakan dalam kehidupan masyarakat, namun ada pula yang mulai ditinggalkan, kehilangan fungsi sosialnya, bahkan terancam punah. Musik tidak hanya dipandang sebagai bunyi atau karya seni, melainkan bagian dari kehidupan manusia yang erat kaitannya dengan nilai, norma, dan sistem sosial.

Pertanyaan pun muncul dan berangsur tiba di telinga saya: mengapa even ini dihelat, apa tujuannya, dan bagaimana hasilnya di masa mendatang? Pertanyaan itu terasa menusuk, bahkan menohok. Untuk apa lagi musik lama dipertontonkan? Justru di situlah letak menariknya. MEMC yang akan digelar pada 9–11 Juli 2026 menghadirkan tiga bentuk pertunjukan musik berbeda: musik pakem, kreasi inovasi dan konservatif, serta eksperimental, yang diprakarsai oleh Taman Budaya dan Museum Sulawesi Barat. Helatan ini menjadi salah satu peristiwa musik paling akbar dan bergengsi, karena mempertemukan musisi warisan leluhur dengan musisi masa kini. Sebagai kurator, tentu tidak mudah memikirkan bagaimana menjahit tajuk acara yang dinilai paradoks, seolah bertentangan dengan logika. Tajuk berbahasa asing dipertemukan dengan materi pertunjukan musik lokal. Sulit dijelaskan, tetapi tetap mungkin diterima sebagai kenyataan yang mengandung unsur kebenaran.

Musik bukan sekadar bunyi atau karya seni, melainkan bagian dari kehidupan manusia yang berkaitan erat dengan nilai, norma, dan sistem sosial. Tulisan ini tidak bermaksud menjawab seluruh pertanyaan sebelumnya, melainkan ingin menegaskan bahwa musik Sulawesi Barat layak diapresiasi.

Menciptakan kreativitas dalam seni, memberi ruang bagi unsur modern tanpa melupakan nilai tradisi dan para pelakunya, adalah pelajaran penting tentang jiwa. Di satu sisi bunyi disusun sebagai ajang kreatif dan aksi, di sisi lain masyarakat belajar menabuh membran, memetik dawai, meniup bambu, mengalun rampak karena kebutuhan, hingga melahirkan bunyi kebudayaan.

Nyanyian dan ketukan mengikuti jejak kehidupan, semakin mampu menghipnotis pendengarnya. Meski susunan denting dan lentik jari kadang tidak rapi, keterampilan tetap terjaga berkat ketekunan dan konsistensi latihan, tanpa harus bergantung pada kreasi berlebihan.

Menjadi pelaku tradisi musik Mandar bukanlah perkara mudah. Sebelum menyentuh instrumen, seseorang harus terlebih dahulu merasakan getarannya secara hakiki, minimal menghargai bahwa instrumen itu lebih dulu dikenal sebelum dibahas. Para pelaku lama tidak hanya mengenali, tetapi juga memahami. Sedangkan pegiat baru hari ini mungkin masih berada pada tahap mengenali, belum memahami. Musik pakem tidak boleh ditinggalkan hanya karena eksplorasi instan. Ia harus dimengerti dari mana instrumen itu berasal, “apa yang dikandung dalam material musiknya.” Penciptaannya ditemukan dari alam, sehingga keharmonisan bumi lahir melalui kebudayaan musik pada setiap individu. Instrumen tidak akan punah selama pelakunya masih ada, meski alunannya bisa berubah karena jarang dimainkan secara pakem. Secara fisik ia tampak benda mati, tetapi lantunan bunyi tetap hidup dalam ololio, liolio, oreang.

Instrumen hidup karena pelaku menjadikannya bernilai, mengantarkan kembali pada Sang Kuasa. Mereka lebih mengedepankan cinta, sebab cinta diyakini mampu menyatukan sekaligus memperjelas idealisme manusia sebagai warga yang sehat. Musisi Sulawesi Barat saat ini mungkin tergugah oleh perlakuan sederhana itu, meski tidak lagi mampu mempraktikkannya persis seperti masa lalu.

Lewat even ini, sekelompok anak muda berpesta sekaligus belajar. Melalui kreasi inovatif dan eksperimental, mereka diingatkan bahwa musik dapat menjadi sarana menyampaikan aspirasi dan menentukan sikap sebagai musikus bermartabat. Idealisme musik Sulawesi Barat diharapkan menjadi tonggak sejarah peradaban Mandar, agar musik kembali digunakan dan dipandang positif sebagai bagian dari kehidupan.

Karena ilmu dapat diperoleh dari mana saja selama mengikuti norma yang ada, sebagian masyarakat menjalani aktivitas yang mungkin keluar dari jalur pendidikan formal. Kementerian Pendidikan Republik Indonesia melalui Taman Budaya dan Museum Sulawesi Barat berupaya meluruskan sistem pengetahuan untuk menyambut persaingan global. Meski jalannya tidak semulus yang dibayangkan, kekurangan tetap ada, bahkan seolah hanya sedikit yang mampu menerima dengan baik.

Mandar Ethno Music Concert akan tetap dihelat, diharapkan ramai, memanjakan mata dan telinga, menyatu dalam bingkai rakit bambu lurus dan melengkung, layaknya bunga dan tumbuhan yang berpadu kasih. Ia menginspirasi orang-orang di sekitarnya, menemukan elemen tekstur untuk mengalunkan denting bunyi bergelombang, seperti suara ombak dan alam liar pegunungan. Unsur-unsur itu akan tampak harmonis, seirama, menyatu dalam persaudaraan, menikmati bunyi etnik sambil membaca zaman.


* Penulis: Sahabuddin Mahganna, Kurator Mandar Ethno Music Concert

REDAKSI

Koran Online TAYANG9.COM - "Menulis Gagasan, Mencatat Peristiwa" Boyang Nol Pitu Berkat Pesona Polewali Sulbar. Email: sureltayang9@gmail.com Gawai: +62 852-5395-5557

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button
%d blogger menyukai ini: