Tuesday , July 23 2019
Home / IYAT TEHA

IYAT TEHA

Belajar membaca dan menulis juga pembelajar di kehidupan

Makrifat Perjalanan dan Doa di Dua Pulau

aku mendengar adzan berkumandang dari toa masjid-masjid beberapa saat seusai pesawat lending, ditemani senja merah bata. dan aku merasa seperti tengah duduk bersila dihadapan kiai di surau desa yang sepi dan dingin mataku tak kuat menatap wajah dan surbannya. selain takdzim mendengar kata demi kata bacaan kitab yang dieja begitu …

Read More »

Malam Minggu dalam Segelas Teh Tarik

mendengar blues dimainkan, perempuan berkawat gigi berambut pirang dan berbulu mata palsu menganggukkan kepalanya. jemari tangannya setia memainkan ponsel layar sentuh miliknya. malam ini setia telah lama dibarter dengan segelas teh tarik dengan sisa gincu yang menempel dibibir gelasnya. hidup tak lebih hanyalah cara menyiasati kenyataan agar tak tampak kusut …

Read More »

Memesan Djakarta

bersama saudaraku arham dan ipenk kita berdiskusi dan menertawakan kekolotan dan lugunya kita sendiri dan kita sama belajar membaca filsafat kelucuan dan kegelian kita pada hidup yang gombal dan njomplang ondel-ondel mendekati menawarkan kreatifitas dan celengan lalu kita sama menengok luka kemanusiaan dan perjuangan hidup orang orang membicarakan kehidupan dan …

Read More »

Sore Ini Aku Minum Teh Buatan Si Sulung

SAMBIL membaca buku tua yang begitu lama ditinggal dan tampak telah dipeluk erat oleh debu, aku menyeruput pelan-pelan teh buatan di sulung yang baik hati. Rasanya inilah waktu yang tepat merayakan waktu senggang ditengah luberan dan kejaran pekerjaan yang bertumpuk-tumpuk dan saling timpal menimpali. Membuat aku terasa berada di atas …

Read More »

Puayi Rahamang, Jumat Seusai Pemilihan

KHATIB telah naik ke atas mimbar sembil menenteng tongkat lengkap dengan jubah kebesaran sang khatib. Saat itu Puayi Rahamang baru saja pulang mandi sunnah hari jumat di sungai yang berjarak hanya ratusan meter dari rumahnya. Puayi Rahamang buru-buru. Dengan langkah lincah ia menaiki tangga rumahnya dan bersegera masuk ke dalam …

Read More »

Pemilu Bukan Panggung Pertunjukan Sakit Jiwa Sosial

MEMBACA kenyataan politik juga adalah membaca peta panjang sejarah perjalanan manusia. Yang dalam kenyataannya juga sama dengan membaca pasar. Yang di dalam pasar itu, memuat sejumlah transaksi peralihan kedaulatan dari tangan pemegang sah kedaulatan kepada mereka yang dianggap kafabel (baca: mampu) untuk memegang mandat dari daulat rakyat atau warga. Karena …

Read More »

Kaco, Embikan Kambing dan Simulakra

KACO sungguh pusing bukan alang kepalang, saat itu adzan mangari’ sudah bergema di musallah yang tak begitu jauh dari rumahnya. Tetapi bukan soal politik uang, atau berita hoax dan debat para calon pemimpin. Bukan pula soal pengadaan surat suara dan kotak suara apalagi kotak pandora yang berisi uang yang akan …

Read More »

Tentang Subuh

untuk saudaraku tika, rika dan ana ini tentang subuh yang berkisah juga soal hujan yang mengguyur. dan sisa air hujan dan gelembung air di jendela kaca. serupa rindu dan ketakutan yang tak pernah simpel. ini tentang subuh ditemani selusin hikayat juga rafalan mantra-mantra pemanggil hujan dan keselamatan juga pengharapan ini …

Read More »

Aku Pesan Bebek Palekko’

bersama: daeng emba di atas bibir bantaran sungai salo karajae yang tak berombak kita memesan makanan. kepada perempuan yang berhidung bangir dan berhijab santun, aku memesan bebek palekko bersama sepiring ketulusan kata-kata. sedang engkau memesan ikan bolu dan segelas kopi kebaikan juga gairah. lagu-lagu barat mengalun pelan dengan petikan guitar …

Read More »

Kepadamu Perempuan Tolaki dalam Mondotambe

bersama: Syaiful Haq aku mencium aromamu disini. juga gerakmu yang rancak dan pijak kakimu yang tangkas dan mistis. bersama gerak lamban kita saling menyapa dalam bahasa yang tak akan dimengerti oleh mereka yang hanya memahami kata-kata sebagai umpatan dan cacian. kita saling bersitatap, tapi aku tak mampu memandangmu lama, karena …

Read More »

Hujan

Ada hujan dari langit yang rindu tanah. Dijatuhkannya dirinya menuju tanah. Sial, saat jatuh, dirinya tersangkut di pokok daun siwalan. Dari atas pokok pohon siwalan hujan menangis dalam derita rindu tanah dan pelukan. Dengan mata berair mata dilihatnya tanah menengadahkan tangannya hendak memeluknya. Hingga siang datang, hujan kembali ditimpa panas …

Read More »

Kita Masih Disini

Kita masih disini membaca jejak dalam lambaian tangan. Tak ada kata-kata yang bisa kita percaya mewakili perasaan kita. Segera sejumlah kota dan desa mulai berkelebat dalam kepala. Rumah yang tak berpenghuni, juga jalan-jalan yang menyisakan sisa air hujan. Gardu yang menyerupai rumah sawah kesepian tanpa penjual. Dan kota dengan stopannya …

Read More »
KACO baru saja menaiki punggung kuda balibbinna, namun belum sempat ia keluar menuju jalan yang berkerikil depan rumahnya, mendadak ia disuguhi pemandangan segerombol anak-anak putih abu yang berkonvoi memacu sepeda motornya dengan suara knalpot yang memekik mengalahkan ringkik kudanya. Urung melangkahkan kaki kudanya, Kaco lalu berteriak dan bertanya kepada Cicci yang sedang membilas daster kenu’na di samping passauang, “allo apa dite’e di’e Kindo’na”. Cicci menjawab, “allo araba’ sippara hari pendidikan nasional”. Kaco membatin, “Oh, pantas anak-anak sekolah itu merayakannya dengan trek-trekan. Semoga kemajuan pendidikan tidak saja bergerak lamban, namun berlari kencang sekencang sepeda motor trek-trekan anak putih abu itu”.[yat teha]