Sunday , May 26 2019
Home / KOLOM / Pemilu Bukan Panggung Pertunjukan Sakit Jiwa Sosial
ILUSTRASI KOLOM Karena Pemilu Bukan Panggung Pertunjukan Sakit Jiwa Sosial

Pemilu Bukan Panggung Pertunjukan Sakit Jiwa Sosial

MEMBACA kenyataan politik juga adalah membaca peta panjang sejarah perjalanan manusia. Yang dalam kenyataannya juga sama dengan membaca pasar. Yang di dalam pasar itu, memuat sejumlah transaksi peralihan kedaulatan dari tangan pemegang sah kedaulatan kepada mereka yang dianggap kafabel (baca: mampu) untuk memegang mandat dari daulat rakyat atau warga.

Karena dia pasar, maka pada politik, utamanya jika terkait dengan peristiwa kepemiluan juga adalah membaca perilaku pasar dan itu boleh jadi juga adalah, membaca perilaku hukum dan realitas sosial kebudayaan manusia sebagai makluk antropologis.

Pemilu disatu sisi, selalu dibebani dengan hajat atau keinginan untuk menuju kepada kebaikan dan kemaslahatan bersama. Begitulah adanya, Pemilu tidak dihadirkan sebagai peristiwa untuk bersilang sengkarut, apalagi untuk saling menistakan dan meletakkan sesama makhluk politik sebagai lebih rendah dari kita.

Bahwa pemilu sebagai ajang kontestasi pertarungan politik, tidak sedang dinisbatkan sebagai ruang adu kehebatan yang boleh jadi akan berakhir sebagai adu keegoan subjektif belaka.

Pemilu semestinya menjadi ruang renung bersama untuk sama katarsis dan meletakkan manusia dalam harkatnya sebagai makhluk yang seyogyanya dimuliakan. Dan jika Pemilu lalu hadir untuk membuat kita kian menjaga jarak dengan nilai-nilai kemanusiaan, maka Pemilu bisa disebut sebagai bentuk dari kesalahan umat manusia dalam menciptakan metode peralihan sirkulasi kekuasaan yang salah kaprah.

Pemilu apapun jenis dan bentuknya serta levelnya adalah wilayah mensubtitusikan keinginan bersama warga, kedalam kerangka yang lebih beradab. Karenanya Pemilu hendaknya dipandang sebagai ruang bersama yang mestinya ditampilkan dalam wajah yang santun, beradab dan sama memanusiakan. Bukan alat bagi upaya kita untuk saling memangsa sesama kita.

Dan jika Pemilu kemudian berakhir menjadi panggung pertunjukan sakit jiwa sosial kita, maka Pemilu tampaknya harus dirumuskan ulang dalam berbagai kerangka, yang tidak saja didekati dalam kacamata mekanisme ketatanegaraan, hukum yang normatif, atau angka-angka peroleh suara yang amat statistik itu.

Tetapi sudah saatnyalah Pemilu dijadikan sebagai capaian sejarah dan juga kebudayaan kita. Yang dengannya kita bisa mengatakan, karena saya hendak saling memanusiakan sebagai makhluk yang beradab, maka saya harus melibatkan diri dalam Pemilu.

Yah, Pemilu sebagai tugas suci kemanusiaan kita yang mestinya kita selenggarakan tidak hanya sebagai keharusan hukum dan politik belaka, tetapi waktu baik untuk menujukkan diri kita, sebagai sungguh-sungguh manusia yang layak disebut sejatinya manusia. Bukan manusia yang sedang menuhankan kekuasaan dengan segala unsur hitungan-hitungan untung rugi kapital.

Bukan manusia yang sedang berperan dalam lakon kebinatangan yang syarat dengan kebejatan dan kebuasan karena hendak menuju kepada kerakusan kekuasaan, jabatan dan segenap pernik kapital yang menguntitnya.

Dan dengan datang memenuhi panggilan tempat pemungutan suara dan memilih mereka yang kita pandang cakap dan memiliki kemampuan lebih untuk menjadi pelayan kita adalah sebuah upaya baik, untuk meningkatkan level kemanusiaan kita. Terserah siapa dan apapun pilihan otonom diri kita. Biarkanlah hanya malaikat dan Tuhan yang tahu pilihan kita itu.

About IYAT TEHA

Belajar membaca dan menulis juga pembelajar di kehidupan

Check Also

Kopi Kaleok

MALAM merambat pelan, hilir mudik suara deru knalpot kendaraan masih setia berlalu lalang. Hidup semoga …

Ramadan, Kreatifitas dan Keindahan

RAMADAN tidak saja menghadirkan kebaikan, namun ia juga menghadirkan keindahan dan kreatifitas yang luar biasa …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

KACO baru saja menaiki punggung kuda balibbinna, namun belum sempat ia keluar menuju jalan yang berkerikil depan rumahnya, mendadak ia disuguhi pemandangan segerombol anak-anak putih abu yang berkonvoi memacu sepeda motornya dengan suara knalpot yang memekik mengalahkan ringkik kudanya. Urung melangkahkan kaki kudanya, Kaco lalu berteriak dan bertanya kepada Cicci yang sedang membilas daster kenu’na di samping passauang, “allo apa dite’e di’e Kindo’na”. Cicci menjawab, “allo araba’ sippara hari pendidikan nasional”. Kaco membatin, “Oh, pantas anak-anak sekolah itu merayakannya dengan trek-trekan. Semoga kemajuan pendidikan tidak saja bergerak lamban, namun berlari kencang sekencang sepeda motor trek-trekan anak putih abu itu”.[yat teha]