ABDUL MUTTALIBGAGASANKOLOMOPINITERKINI

Semoga Kumis

TEMAN masa kecilku tengah terbebani tugas suci yang dititahkan istrinya. Tugas memanjangkan kumis. Kendati sejak orok, sampai usia jelang berkepala empat. Temanku itu tidak pernah terlihat memanjangkan kumis.

Nah, di situ daku merasa sedih. Kumis yang sependek ingatanku tidak hanya berupa bulu lebat yang tumbuh di bawah hidung dan di atas bibir lelaki. Kumis yang sebenarnya adalah identitas dan kerap diklaim sebagai simbol pemanis dari budaya maskulin lelaki.

Namun sayang, tugas mulia itu tidak lagi membedakannya dari makna ungkapan satiris Chairil Anwar penyair kondang itu; hidup enggan, mati pun tak sudi. Karena kumis tumbuhnya di daerah antara bibir dan hidung. Jadinya antara percaya dan tidak.

Kok, sampai istrinya memiliki gagasan aneh seperti itu? Konon, ketika temanku mempertanyakan perihal titah yang diterimanya untuk memanjangkan kumis.

Istrinya berujar: suka! Ketika dikejar alasan sukanya apa? Istrinya kembali berujar, “Andai bisa memiliki kumis sendiri, saya tidak akan memintamu!” Tahu sendiri kalau model ujaran istri sudah begitu.



Suami yang bijak dan arif sedianya diam. Diam atas keinginan sederhana istri yang mungkin ingin melihat suaminya lebih tampan setelah memiliki kumis indah nan eksotis.

Berhubung pertubuhan kumisnya terbilang lambat. Sedianya sang istri dapat bersabar seraya terus berdoa semoga suaminya diberi ketabahan dalam rangka memanjangkan kumis. Semoga segala yang disemogakan, segera tersemoga. Amin.

ABDUL MUTTALIB

pecinta perkutut, tinggal di Tinambung

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button