Minggu , Juni 7 2020
Home / KOLOM / ABDUL MUTTALIB / Semoga Kumis
ILUSTRASI kolom semoga kumis [int]

Semoga Kumis

TEMAN masa kecilku tengah terbebani tugas suci yang dititahkan istrinya. Tugas memanjangkan kumis. Kendati sejak orok, sampai usia jelang berkepala empat. Temanku itu tidak pernah terlihat memanjangkan kumis.

Nah, di situ daku merasa sedih. Kumis yang sependek ingatanku tidak hanya berupa bulu lebat yang tumbuh di bawah hidung dan di atas bibir lelaki. Kumis yang sebenarnya adalah identitas dan kerap diklaim sebagai simbol pemanis dari budaya maskulin lelaki.

Namun sayang, tugas mulia itu tidak lagi membedakannya dari makna ungkapan satiris Chairil Anwar penyair kondang itu; hidup enggan, mati pun tak sudi. Karena kumis tumbuhnya di daerah antara bibir dan hidung. Jadinya antara percaya dan tidak.

Kok, sampai istrinya memiliki gagasan aneh seperti itu? Konon, ketika temanku mempertanyakan perihal titah yang diterimanya untuk memanjangkan kumis.

Istrinya berujar: suka! Ketika dikejar alasan sukanya apa? Istrinya kembali berujar, “Andai bisa memiliki kumis sendiri, saya tidak akan memintamu!” Tahu sendiri kalau model ujaran istri sudah begitu.



Suami yang bijak dan arif sedianya diam. Diam atas keinginan sederhana istri yang mungkin ingin melihat suaminya lebih tampan setelah memiliki kumis indah nan eksotis.

Berhubung pertubuhan kumisnya terbilang lambat. Sedianya sang istri dapat bersabar seraya terus berdoa semoga suaminya diberi ketabahan dalam rangka memanjangkan kumis. Semoga segala yang disemogakan, segera tersemoga. Amin.

About ABDUL MUTTALIB

pecinta perkutut, tinggal di Tinambung

Check Also

Sebab Corona, Dunia Gonjang Ganjing

TAK terasa waktu terus bergulir. Kurang lebih tiga bulan corona telah tinggal berdiam suntuk di …

Covid-19, BLT DD dan Sejumlah Soal Atasnya

MENGUTIP lirik lagu Peterpan “ada apa denganmu” rasanya menjadi tepat jika dikaitkan dengan fakta pandemi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

KACO Siang itu, Kaco sala pa'dutang, tidak ada yang bisa dilakukan selain mamurrus. Dalam kecepatan 180 perjam, Kaco terpaksa ma'ondongngi appang bassi siola bala beke. Cicci yang menyaksikan itu hanya bisa tertawa terbahak. Belum selesai Cicci tertawa melihat kelakuan Kaco, Cicci juga kemudian mengangkat daster dan lari tunggang langgang. Jingkang dan meloncati petawung anna passukkeang. Cicci pikir Kaco lari karena dikejar anjing gila. Ternyata belakangan Cicci tahu kalau ternyata Kaco mamurrus karena hendak menuju pappelembangan karena nalulang setelah manggasa' kaweni pagi tadi.”.[yat teha]