ABDUL MUTTALIB

ABDUL MUTTALIB

pecinta perkutut, tinggal di Tinambung
  • ABDUL MUTTALIB

    Panggilan Manusia Fitrah

    SETINGGI apa pun sekolahmu jika panggilan mudik tiba, segeralah berkemas pulang untuk sekedar mamasak buras dan ketupat di rumah. Itulah drama kecil yang tiap tahun harus diterima pemudik, entah ia seorang suami, anak dan cucu. Sekilas drama kecil itu terlihat sepele, seolah kehormatan suami tengah dilucuti dihadapan istri, seolah pencapaian ilmu seorang anak seketika lenyap dihadapan ibu, dan semua pencapaian…

    Read More »
  • ABDUL MUTTALIB

    Azimat Tiga Biji Tai Kambing

    SUDAH banyak peristiwa heroik yang dituturkan, namun cerita heroik dari seorang demonstran seolah kembali mengingatkan, bahwa nilai kepemimpinan tak cukup terlahir dari derita rakyat, tapi ikut ditopang keyakinan batin yang kuat. Makanya sebelum berangkat ke Jakarta, sang demonstran tidak lupa bertandang dan sowan ke kiainya di kampung. Kiai yang tak hanya memberikan berkah, nasihat, tapi juga ikut memberikan azimat keselamatan.…

    Read More »
  • ABDUL MUTTALIB

    Pelajaran Menggambar

    JUDUL tulisan ini tidak dimaksudkan menyaingi daya sugesti dari cerpen “Pelajaran Mengarang” karya Seno Gumira Ajidarma yang top itu. Cerpen yang sempat diganjar sebagai cerpen terbaik pilihan koran harian Kompas di tahun 1993. Tulisan ini hanya mencoba menuliskan dua peristiwa sederhana dari pelajaran menggambar yang diikuti si Adek di Taman Kanak-kanak (TK) tempatnya bersekolah bersama si Kakak. Meski usia si…

    Read More »
  • ABDUL MUTTALIB

    Sudut Pandang Solusi

    SUATU waktu daku diajak oleh para pengurus aliansi mahasiswa Universitas Al Asyariah Mandar (Unasman) untuk diskusi terkait pendidikan dengan pendekatan bahasa menggunakan sudut pandang analisis wacana. Acaranya terbilang menarik, karena dihadiri puluhan mahasiswa di tengah kondisi generasi melenial yang tengah gandrung mentafakkuri game online, tiktok dan sajian frank dari para pesohor dan selebritis. Generasi milenial yang lebih memilih menjadi konsumen…

    Read More »
  • ABDUL MUTTALIB

    Traffic Light Tinambung

    TRAFFIC light di kampungku Tinambung sudah lama tidak berfungsi, padahal dulu sewaktu berfungsi justru didekati lewat fungsi “yang lain” dengan tiangnya kerap dijadikan tempat bagi sebahagian kusir bendi mengikat kudanya. Pemandangan itu tidak hanya terlihat artistik, tapi juga terasa eksotis, namun semoga tidak dianggap erotis. Erotis jika sampai melorotkan rasa malu atau sampai menunjukkan “aurat” dari keagungan tradisi dan kebudayaan…

    Read More »
  • ABDUL MUTTALIB

    Puisi Puasa Gejet

    “Telepon genggam yang tak pernah lepas dari genggaman // Benda mungil yang sangat disayang // Surga kecil yang tak ingin ditinggalkan // Yang layarnya memancarkan gambar gerimis yang mengguyur senja.” Demikian nukilan larik-larik puisi Joko Pinurbo berjudul “Telepon Genggam” (2003). Sekilas puisi itu menawarkan panorama indah atas relasi atau persinggungan manusia dengan gejet. Sebuah relasi yang belakangan ini terlihat timpang…

    Read More »
  • ABDUL MUTTALIB

    Tragedi Bangun Sahur

    TRADISI di bulan Ramadan sangatlah beragam. Tapi tragedi yang dialami artis Zaskia Adya Mecca atas tradisi membangunkan orang sahur lewat pengeras suara di masjid membuat tersadar, ternyata niat baik saja tidak cukup, jika model penyampaiannya keliru akan rentang menuai soal. Tentu soalnya bukan pada toa masjid. Apalagi soal vibrasi suara yang meninggi. Bukan pula soal suara yang fals. Karena suara…

    Read More »
  • ABDUL MUTTALIB

    Kuasa Lupa

    DAKU tidak sanggup membayangkan hambarnya persidangan jika tidak dihadiri jaksa penuntut umum. Hambar karena tidak dapat melihat penguasaan materi dakwaan, kecakapan retorika, sekaligus kepiawaian membaca psikologi manusia. Meski kemampuan itu tidak berarti, jika menghadapi jawaban lupa dari terdakwa. Segenap metode, dalih, dan pertanyaan pancingan yang diajukan jaksa guna memperoleh informasi tetap tidak dapat digali dari lupa. Lupa layaknya cara efektif…

    Read More »
  • ABDUL MUTTALIB

    Keniscayaan Panggung

    SERING kali panggung pada sebuah pementasan kesenian luput menjadi tema diskursus pelaku kesenian. Entah itu pementasan teater, musik tradisi, dan kegiatan diskusi serta sarasehan yang menggunakan panggung. Panggung yang ramai ketika ada hajatan seni, tapi mendadak sepi, menakutkan bahkan dihuni hantu usai pementasan. Panggung seolah sebatas pelengkap dari sebuah lakon. Panggung seolah hanya menjadi dekorasi pemanis yang sifatnya dibutuhkan sebelum…

    Read More »
  • ABDUL MUTTALIB

    Semesta Bahasa

    KETIKA bahasa tidak hanya berupa bunyi dan tanda. Pada saat itu pula, bahasa tidak cukup dimaknai sebagai tulisan dan ujaran yang mudah dibaca. Iqro, bisa jadi bukaan bacaan, bukan pula seperangkat materi untuk berbicara. Ia sudah melampaui peristiwa kebahasaan. Peristiwa kebahasaan itu strukturnya. Semacam mekanisme yang girang diterjemahkan ke dalam aspek keterampilan berbahasa: menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Iqro justru…

    Read More »
  • ABDUL MUTTALIB

    Nostalgia Tokoh

    BAHAGIA rasanya ketika diajak komunitas One dO Art untuk mengenali tokoh dan nilai ketokohon para pelaku kesenian tradisi Sayang-sayang dan Kecapi Mandar di acara sarasehan bertema “Menyoal Transisi Musik Dawai Mandar,” pada gelaran “Mandar Dawai Etnik Festival, 20-21 Maret 2021.” Gedung Al Madina Centre di Tinambung mendadak sesak menampung dokumentasi foto dan kesaksian sejarah dari penerus dan para tokoh: Marayama,…

    Read More »
  • ABDUL MUTTALIB

    Sebentar Lagi Sekolah

    DI tengah kecenderungan melihat sekolah sebagai lembaga pendidikan dengan segala prolematikanya, ternyata sekolah masih menjadi salah satu lembaga pendidikan yang menjadi titik sentral pendistribusian nilai, tradisi keilmuan, etos budaya serta etika keadaban. Nilai paradoksal itu yang justru tidak mengumbah pandangan kedua gadis kecilku untuk segera bisa sekolah. Si kakak, usia 5 tahun dan si adek usia 4 tahun, tampak girang…

    Read More »
Back to top button