Thursday , January 23 2020
Home / GAGASAN / Ayah, Catatan ini Adalah Doaku

Ayah, Catatan ini Adalah Doaku

MENULIS catatan tentang ayah bisa sangat beragam, dua dari keberagaman itu adalah, anak yang memiliki ayah yang baik akan menulis tentang ayahnya dalam catatan yang jernih, tulus pula sumblim. Satunya lagi, adalah catatan buram yang ditulis oleh seorang anak yang memiliki ayah yang tidak baik.

Adakah ayah yang tidak baik? Pertanyaan ini rasanya agak lucu jika dilontarkan bertepatan dengan hari ayah nasional yang jatuh pada tanggal 12 November hari ini, karena idealnya, peringatan hari ayah, sebagaimana sejarah peringatan pertamanya di tahun 2014 lalu, diikuti dengan semboyan “Semoga Bapak Bijak, Ayah Sehat, Papah Jaya”.

Demikianlah hari ayah sebagaimana sejarahnya memang berangkat dari pertanyaan, kenapa ada hari ibu, sedangkan tidak ada atau belum ada hari ayah? Pertanyaan inilah kemudian yang memicu sekelompok mereka yang tergabung dalam paguyuban satu hati, lintas agama dan budaya yang bernama Perkumpulan Putra Ibu Pertiwi (PPIP) di Solo kala itu.

Dari sekelompok mereka yang tergabung dalam paguyuban itu kemudian melakukan serangkaian upaya dan kegiatan untuk menentukan tempo hari ayah sebagaimana adanya hari ibu. Jadilah kemudian selain hari ibu yang jatuh setiap tanggal 22 desember di Indonesia juga diperingati hari ayah setiap 12 november.

Ayah adalah sandaran. Padanya diletakkan harapan keluarga sebagai figur yang mengayomi, menafkahi, melindungi, membina dan mengarahkan, sekaligus juga sebagai teman sahabat yang juga semestinya setia menemani langkah perjalanan keluarganya.

Sedang ayah yang tidak baik, tentu saja menjadi tidak sejurus dengan harapan dan semangat yang disampirkan pada setiap perayaan hari ayah. Begitu pula dalam catatan ini, rekaman ingatan dan kesaksian penulis tentang ayah adalah kerinduan, kasih sayang dan juga kebanggaan.

Ayah adalah sosok atau figur yang luar biasa, hebat, sakti dan pahlawan dalam merekatkan persatuan dan kesatuan dalam ikatan keluarga. Ayah adalah pejuang yang gigih, pahlawan yang pandai menyembunyikan sakit dan letihnya kepada anak-anak dan keluarganya.

Ayah adalah kebaikan dan keiklasan, sama seperti ibu yang juga adalah kelembutan dan perhatian. Dan tatkala tulisan ini bergerak, sejumlah ingatan tentang ayah seketika berkelebat dan tampil begitu saja serupa snapshot yang silih berganti. Ingatan saat penulis ditemani oleh ayah mandi di sungai, atau diajari berkebun dan mengambil makanan kambing juga kayu bakar serta air minum di sungai Mandar.

Juga tatkala diajari berkendara sepeda motor diusia yang memang sudah seharusnya pandai berkendara. Juga ingatan saat ditemani main dan menikmati keindahan semesta kehidupan dan itu bernama liburan yang murah meriah, ciri keluarga tidak kaya namun pandai bersyukur dan belajar bahagia.

Bahkan ingatan saat pertama kali diajak ke masjid untuk ikut shalat berjamaah. Ingatan itu semua, adalah tentang kebaikan demi hidup dan kemandirian dan kesendirian yang kelak akan dijalani oleh seorang anak. Saat catatan ini dibuat, penulis pun telah menjadi seorang ayah bagi anak-anak. Sejumlah bayangan kehebatan seorang ayah yang seperti ayah penulis pun rasanya masihlah amat jauh.

Tersebab sepulang ke rumah, bukan malah menemani anak-anak bermain. Yang ada malah, kesibukan kembali disita oleh gadget dan pikiran tentang pekerjaan di luar rumah. Rumah dengan segenap kedamaiannyapun menjadi berubah. Dan sungguh di hari-hari serupa ini, penulis teramat sangat rindu ayah dan ingin menjadi dia yang baik. Sehingga catatan yang tertulis ini pun menjadi catatan yang jernih dalam merekam figur seorang ayah yang baik.

Dan berharap, kelak anak-anak kitapun akan menulis tentang kita dengan kejernihan mata batin dan pikirannya, setelah dikawal dengan baik oleh seorang ayah yang juga menulis dengan kejernihan pikiran dan perasaannya.

Ya, karena aku adalah anak yang harus setia dan semangat menulis setelah tahu, dalam darahku mengalir deras semangat dan keteguhan seorang ayah. Dan menulis dengan kelembutan, karena separuh hatiku adalah kelembutan hati seorang ibu. Dan catatan ini adalah juga tentang doa kepada keduanya.

About IYAT TEHA

Belajar membaca dan menulis juga pembelajar di kehidupan

Check Also

Ritual Nelayan Mapposi Lopi

TRADISI yang masih kental ketika nelayan pertama kali akan menurunkan perahunya ke laut yakni melakukan …

Untuk Inge Suatu Ketika di Dondori Literasi

“Dalam keadaan sejarah sekarang, semua tulisan politik hanya bisa menegaskan suatu police universe, sama tulisan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

KACO baru saja menaiki punggung kuda balibbinna, namun belum sempat ia keluar menuju jalan yang berkerikil depan rumahnya, mendadak ia disuguhi pemandangan segerombol anak-anak putih abu yang berkonvoi memacu sepeda motornya dengan suara knalpot yang memekik mengalahkan ringkik kudanya. Urung melangkahkan kaki kudanya, Kaco lalu berteriak dan bertanya kepada Cicci yang sedang membilas daster kenu’na di samping passauang, “allo apa dite’e di’e Kindo’na”. Cicci menjawab, “allo araba’ sippara hari pendidikan nasional”. Kaco membatin, “Oh, pantas anak-anak sekolah itu merayakannya dengan trek-trekan. Semoga kemajuan pendidikan tidak saja bergerak lamban, namun berlari kencang sekencang sepeda motor trek-trekan anak putih abu itu”.[yat teha]