Selasa , Juni 2 2020
Home / GAGASAN / Ayah, Catatan ini Adalah Doaku

Ayah, Catatan ini Adalah Doaku

MENULIS catatan tentang ayah bisa sangat beragam, dua dari keberagaman itu adalah, anak yang memiliki ayah yang baik akan menulis tentang ayahnya dalam catatan yang jernih, tulus pula sumblim. Satunya lagi, adalah catatan buram yang ditulis oleh seorang anak yang memiliki ayah yang tidak baik.

Adakah ayah yang tidak baik? Pertanyaan ini rasanya agak lucu jika dilontarkan bertepatan dengan hari ayah nasional yang jatuh pada tanggal 12 November hari ini, karena idealnya, peringatan hari ayah, sebagaimana sejarah peringatan pertamanya di tahun 2014 lalu, diikuti dengan semboyan “Semoga Bapak Bijak, Ayah Sehat, Papah Jaya”.



Demikianlah hari ayah sebagaimana sejarahnya memang berangkat dari pertanyaan, kenapa ada hari ibu, sedangkan tidak ada atau belum ada hari ayah? Pertanyaan inilah kemudian yang memicu sekelompok mereka yang tergabung dalam paguyuban satu hati, lintas agama dan budaya yang bernama Perkumpulan Putra Ibu Pertiwi (PPIP) di Solo kala itu.

Dari sekelompok mereka yang tergabung dalam paguyuban itu kemudian melakukan serangkaian upaya dan kegiatan untuk menentukan tempo hari ayah sebagaimana adanya hari ibu. Jadilah kemudian selain hari ibu yang jatuh setiap tanggal 22 desember di Indonesia juga diperingati hari ayah setiap 12 november.

Ayah adalah sandaran. Padanya diletakkan harapan keluarga sebagai figur yang mengayomi, menafkahi, melindungi, membina dan mengarahkan, sekaligus juga sebagai teman sahabat yang juga semestinya setia menemani langkah perjalanan keluarganya.



Sedang ayah yang tidak baik, tentu saja menjadi tidak sejurus dengan harapan dan semangat yang disampirkan pada setiap perayaan hari ayah. Begitu pula dalam catatan ini, rekaman ingatan dan kesaksian penulis tentang ayah adalah kerinduan, kasih sayang dan juga kebanggaan.

Ayah adalah sosok atau figur yang luar biasa, hebat, sakti dan pahlawan dalam merekatkan persatuan dan kesatuan dalam ikatan keluarga. Ayah adalah pejuang yang gigih, pahlawan yang pandai menyembunyikan sakit dan letihnya kepada anak-anak dan keluarganya.

Ayah adalah kebaikan dan keiklasan, sama seperti ibu yang juga adalah kelembutan dan perhatian. Dan tatkala tulisan ini bergerak, sejumlah ingatan tentang ayah seketika berkelebat dan tampil begitu saja serupa snapshot yang silih berganti. Ingatan saat penulis ditemani oleh ayah mandi di sungai, atau diajari berkebun dan mengambil makanan kambing juga kayu bakar serta air minum di sungai Mandar.



Juga tatkala diajari berkendara sepeda motor diusia yang memang sudah seharusnya pandai berkendara. Juga ingatan saat ditemani main dan menikmati keindahan semesta kehidupan dan itu bernama liburan yang murah meriah, ciri keluarga tidak kaya namun pandai bersyukur dan belajar bahagia.

Bahkan ingatan saat pertama kali diajak ke masjid untuk ikut shalat berjamaah. Ingatan itu semua, adalah tentang kebaikan demi hidup dan kemandirian dan kesendirian yang kelak akan dijalani oleh seorang anak. Saat catatan ini dibuat, penulis pun telah menjadi seorang ayah bagi anak-anak. Sejumlah bayangan kehebatan seorang ayah yang seperti ayah penulis pun rasanya masihlah amat jauh.

Tersebab sepulang ke rumah, bukan malah menemani anak-anak bermain. Yang ada malah, kesibukan kembali disita oleh gadget dan pikiran tentang pekerjaan di luar rumah. Rumah dengan segenap kedamaiannyapun menjadi berubah. Dan sungguh di hari-hari serupa ini, penulis teramat sangat rindu ayah dan ingin menjadi dia yang baik. Sehingga catatan yang tertulis ini pun menjadi catatan yang jernih dalam merekam figur seorang ayah yang baik.



Dan berharap, kelak anak-anak kitapun akan menulis tentang kita dengan kejernihan mata batin dan pikirannya, setelah dikawal dengan baik oleh seorang ayah yang juga menulis dengan kejernihan pikiran dan perasaannya.

Ya, karena aku adalah anak yang harus setia dan semangat menulis setelah tahu, dalam darahku mengalir deras semangat dan keteguhan seorang ayah. Dan menulis dengan kelembutan, karena separuh hatiku adalah kelembutan hati seorang ibu. Dan catatan ini adalah juga tentang doa kepada keduanya.

About MESA IYAT

belajar membaca dan menulis juga pembelajar di kehidupan

Check Also

Kisah Tonggo, Pepa’ dan Ringis

TAYANG9– Suatu waktu, ada tiga sahabat yang pergi ke Gunung, namanya Pepa’, Tonggo dan Ringis. …

Covid-19 dan Dampaknya Terhadap Perubahan Penyelenggaraan Ujian Nasional

Penulis: Angga Setyadi. M. Limpukasi SUNGGUH suatu yg sangat kebetulan sekali ditengah pandemi corona yang …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

KACO Siang itu, Kaco sala pa'dutang, tidak ada yang bisa dilakukan selain mamurrus. Dalam kecepatan 180 perjam, Kaco terpaksa ma'ondongngi appang bassi siola bala beke. Cicci yang menyaksikan itu hanya bisa tertawa terbahak. Belum selesai Cicci tertawa melihat kelakuan Kaco, Cicci juga kemudian mengangkat daster dan lari tunggang langgang. Jingkang dan meloncati petawung anna passukkeang. Cicci pikir Kaco lari karena dikejar anjing gila. Ternyata belakangan Cicci tahu kalau ternyata Kaco mamurrus karena hendak menuju pappelembangan karena nalulang setelah manggasa' kaweni pagi tadi.”.[yat teha]