Tuesday , October 15 2019
Home / GAGASAN / Subaltern, Rokok, Kopi dan Diskusi di Teras Masjid
ILUSTRASI Kolom Subaltern, Rokok, Kopi dan Diskusi di Teras Masjid

Subaltern, Rokok, Kopi dan Diskusi di Teras Masjid

SUBALTERN mula pertama dicetuskan oleh Antonio Gramsci saat mencatat tuliskan tentang hegemoni budaya. Teori ini konon lahir sebagai teori kritis dan pascakolonial. Dalam pemahaman Antonio, subaltern merupakan istilah yang dipahami sebagai penduduk yang secara sosial, politis, dan geografis berada di luar struktur kekuasaan hegemonik koloni.

Dan begitulah kira-kira potret yang bisa dimandatkan pada diskusi di teras Masjid Pancasila kampus Unasman se-usai shalat jumat siang tadi. Sedikitnya ada tujuh, kalau bukan delapan anak muda yang sebenarnya tidak lagi begitu laik disebut muda. Walau, mereka juga belumlah masuk kategori tua dalam takaran usia.

Tujuh kalau bukan delapan orang siang menjelang sore berawal seusai jumat di dalam masjid usai salam-salaman sebagaimana kebiasaan lazim pada setap usai solat jumat. Perbincangan sambil duduk lesehan di dalam masjid kemudian berlanjut ke luar teras.

Dan itu dimulai, saat mereka serentak hendak membakar rokoknya yang cerdasnya lagi, salah satu diantara mereka kemudian melontarkan gagasan untuk selain ngobrol dan merokok akan amat bagus jika ada pula kopi yang menemani.

Jadilah dari tujuh atau delapan orang secara serentak bermigrasi sambil merogoh saku memastikan rokoknya ikut terbawa saat sholat jumat beberapa menit yang lalu.

Dan pilihan yang paling tepat untuk menjadi tenaga sukarelawan dadakan menyiapkan kopi dan sedikit gorengan adalah, salah satu diantara mereka yang nomor stambuknya paling muda, walau mungkin secara kelembagaan lebih senior di institusi pengawal dan para pecinta kiai dan ulama dan itu bernama anak-anak muda NU atau yang berkhidmat di Ansor Banser.

Seraya ngopi, merokok dan menikmati gorengan yang jumlahnya juga amat terbatas itu, diskusi lalu bergerak kesana kemari tanpa pemandu dan moderator berkelas serupa yang ada di acara acara talk show televisi.

Namun dashyatnya diskusi tidak saja terhenti pada ihwal kampus dan kuliah yang tak kunjung kelar, atau soal desa dan pendampingannya, tetapi juga menyenggol soal pakan ternak, mikroba hingga cara memelihara sapi yang baik dan benar.

Diskusi begitu saja lepas mencomot beragam konteks dan tidak pula terjebak pada firqah dan ruang atau sekat-sekat tanpa kemerdekaan sebagaimana laiknya sebuah struktur kekuasaan. Tidak ada yang berkuasa dalam diskusi itu, semuanya lepas begitu saja. Tanpa hegemoni.

Tetapi tentu saja, diskusi itu secara sosial bahkan kultur menjadi memiliki makna, tersebab yang hadir dari tujuh atau delapan orang itu, sepengetahuan saya adalah mereka yang memang gandrung pada diskusi dan yang selama ini saya kenal telah begitu intens melibatkan dirinya dalam beragam aktivitas ciri kaum progresif.

Bahkan diantara mereka, kini selain tercatat sebagai dosen, dan dua diantaranya juga adalah dosen dus komisioner lembaga yang ditangannya pertaruhan maju mundurnya demokrasi diletakkan. Sedang yang satunya adalah khatib yang beberapa menit sebelumnya berdiri tegak dengan jubah kebesarannya di atas mimbar menyampaikan soal-soal kebaikan dan tata laku bermasyarakat dan beribadah. Tentu saja dengan mengutip sejumlah dalil.

Dan akhirnya sebelum tarhim dari toa masjid berkumandang di jelang magrib sore ini, biarlah catatan tidak begitu penting ini disudahi. Dengan satu lekatan ingatan dari ucapan sang khatib jumat tadi, sekaligus peserta diskusi di teras masjid itu, bahwa shalat adalah momen pertemuan hamba dengan Tuhan.

Sebagaimana shalat merupakan mi’raj-nya orang–orang mukmin. Selebihnya saya tidak sanggup atau tepatnya tidak paham lagi bagaimana melanjutkannya. Semoga jumat kita menjadi jumat mubarak dan menuai banyak kebaikan. Wallahualam bissawab.

About IYAT TEHA

Belajar membaca dan menulis juga pembelajar di kehidupan

Check Also

Perayan Tulisan Perayaan Buku

MALAM belum lagi begitu matang pula khatam, rinai baru saja jatuh membasahi bumi. Pada musim …

Dia Gadis Di atas Pete-Pete, Oh Ternyata…!!

CERITANYA saat masih kuliah, di akhir semester kan gue nya tuh selalu hendak pulang kampung. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

KACO baru saja menaiki punggung kuda balibbinna, namun belum sempat ia keluar menuju jalan yang berkerikil depan rumahnya, mendadak ia disuguhi pemandangan segerombol anak-anak putih abu yang berkonvoi memacu sepeda motornya dengan suara knalpot yang memekik mengalahkan ringkik kudanya. Urung melangkahkan kaki kudanya, Kaco lalu berteriak dan bertanya kepada Cicci yang sedang membilas daster kenu’na di samping passauang, “allo apa dite’e di’e Kindo’na”. Cicci menjawab, “allo araba’ sippara hari pendidikan nasional”. Kaco membatin, “Oh, pantas anak-anak sekolah itu merayakannya dengan trek-trekan. Semoga kemajuan pendidikan tidak saja bergerak lamban, namun berlari kencang sekencang sepeda motor trek-trekan anak putih abu itu”.[yat teha]