Tuesday , January 21 2020
Home / GAGASAN / Rindu Orde Baru di Era Milenial

Rindu Orde Baru di Era Milenial

DEMOKRASI subtansinya dari rakyat untuk Rakyat, rakyat memilih pemimpinnya secara lansung dan juga memilih wakilnya untuk mengawasi kuasa atas pemimpin yang dipilihnya.

Sejak reformasi Bangsa Indonesia telah menikmati kebebasan demokrasi yang begitu luas dan diakui oleh dunia karena sukses melakukan Pemilihan Presiden (Pilpres) langsung sebanyak 4 kali.

Dalam sejarahnya Indonesia pernah dipimpin oleh Presiden yang tidak dipilih lansung selama 7 kali yaitu pak Harto, era ini disebut era orde baru kenapa orde baru, karena ada orde sebelumnya yang disebut orde lama yang sejarahnya juga pernah mengangkat presiden seumur hidup.

Pak Harto kenapa bisa terpilih 7 kali berturut turut ?,,,,,,,

Karena iya tidak dipilih lansung oleh rakyat, iya dipilih oleh Majelis permusyawaratan rakyat ( MPR ).

Anggota MPR saat itu ada 4 sumber :

  1. Dari partai politik
  2. Utusan daerah
  3. Utusan golongan dan
  4. Fraksi ABRI

Dari 4 komposisi itu, empat – empatnya di kuasai pak Harto, Golkar saat itu selalu menang diatas 70 persen, ditambah ABRI utusan daerah dan golongan menjadi mayoritas tunggal.

Bagaimana saat ini ?,,,,,,,

Saat ini mereka menggagas pemilu tidak lansung, dengan pemilihan presiden di MPR-RI.

Karena mereka menguasai hampir 70 % di parlemen (Koalisi pemerintah), juga menguasai birokrasi, TNI dan POLRI serta BIN. Atau bisa juga di sebut sebagai single mayority, sebagai Single mayority apa saja mereka bisa putuskan termasuk merubah UUD 45. Hanya satu kekuatan lagi yang mereka tidak miliki yaitu power people atau kekuatan rakyat.

Apakah mereka ini rindu orde baru ?…

Rohnya dan sistimnya tidak beda dengan orde baru yang mereka ingin tuju, yaitu demokrasi terpimpin, bahkan kelihatannya orde lama dan orde baru bergabung untuk kembali membawa Indonesia ke demokrasi terpimpin.

Konsep intinya adalah pemilihan presiden tidak lansung juga gubernur dan bupati. Serta pemimpin dapat dipilih lebih dari 2 kali masa periode.

Demokrasi terpimpin adalah, demokrasi yang diarahkan oleh seorang pemimpin yang menguasai semua kekuatan dan alat produksi. Sehingga itu oligarki kekuasaan dan ekonomi akan menjadi penguasa tunggal di Indonesia yang tidak terbatas waktunya. Seperti orde baru berkuasa 32 tahun nanti terhenti setelah people power atau rakyat yang menghentikan.

Ini era milenial kok mau kembali ke masa lalu, apakah mereka rindu orde baru atau memang mereka adalah bagian atau mereka ingin berkuasa tidak tak terbatas. ?,,,,,,,,

Ekonomi Indonesia saat tidak lebih baik dari periode sebelumnya, begitu juga  kondisi politik rakyat masih terbelah kenapa bukan itu yang diperbaiki kenapa justru kekuasaan yang terus mau dipertahankan.

Kami partai demokrat tidak sejalan dengan langkah mereka walaupun pada akhirnya kami kalah suara tapi minimal sejarah yangg mencatat, bahwa partai kami tidak ikut dalam gerbong untuk mewujudkan demokrasi terpimpin seri ke 3 di Indonesia kami penganut demokrasi rakyat. Pemilihan lansung Rakyat, kedaulatan rakyat, yang rakyat sendiri melakukannya.(*)

About SUHARDI DUKA

Ketua DPD Partai Demokrat Sulbar yang kini duduk di Fraksi Partai Demokrat DPR-RI ini sebelumnya adalah mantan bupati Kabupaten Mamuju dua periode. Menyelesaikan pendidikan S1 di FISIP Unhas Makassar dan S2 jurusan manajemen SDM Surabaya serta alumnus program doktor jurusan Ekonomi Islam di Unair Surabaya.

Check Also

Untuk Inge Suatu Ketika di Dondori Literasi

“Dalam keadaan sejarah sekarang, semua tulisan politik hanya bisa menegaskan suatu police universe, sama tulisan …

Setulus Senyum Guru PAUD

WAJAHNYA tak pernah lepas dari senyum, selalu mengembang manis dihadapan anak-anak didiknya. Suasana hatinya selalu …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

KACO baru saja menaiki punggung kuda balibbinna, namun belum sempat ia keluar menuju jalan yang berkerikil depan rumahnya, mendadak ia disuguhi pemandangan segerombol anak-anak putih abu yang berkonvoi memacu sepeda motornya dengan suara knalpot yang memekik mengalahkan ringkik kudanya. Urung melangkahkan kaki kudanya, Kaco lalu berteriak dan bertanya kepada Cicci yang sedang membilas daster kenu’na di samping passauang, “allo apa dite’e di’e Kindo’na”. Cicci menjawab, “allo araba’ sippara hari pendidikan nasional”. Kaco membatin, “Oh, pantas anak-anak sekolah itu merayakannya dengan trek-trekan. Semoga kemajuan pendidikan tidak saja bergerak lamban, namun berlari kencang sekencang sepeda motor trek-trekan anak putih abu itu”.[yat teha]