GAGASANOPINISALAHUDDIN SOPU

Kematian, Haruskah Ditakuti?

SEBETULNYA kita semua berjalan ke arahnya. Mau tidak mau. Andaikan titik finish kita itu, di umur 55 tahun, bagi saya itu berarti 4 tahun lagi, saya bisa menikmati hidup ini. Yang lain mungkin 15 tahun lagi, 10 tahun lagi, dsb. Itu andai kita tahu. “Andai kutahu, kapan tiba ajalku. Ku akan memohon, Tuhan jangan Kau ambil nyawaku” begitu lantunan lagu yang begitu pamiliar di dalam pendengaran kita. Namun kematian itu tidak ada yang tahu kapan datangnya.

Tapi, apakah kematian itu begitu menakutkan? Saya melihat ini tergantung. Semakin tinggi tarikan duniawi bagi seseorang, kematian itu menjadi semakin momok untuk ditakuti. Semakin rendah, semakin rendah pula rasa takutnya. Bahkan ada orang yang merindukan datangnya kematian. Dalam salah satu qaul sufi dikatakan, “Mati sebelum mati adalah undangan kita ke Dia (Tuhan), tapi mati yang sebenar mati dalam undangan Tuhan ke kita.” Kalau kematian itu adalah undangan-Nya, mengapa kita mesti takut?

Kata Habib M. Quraish Shihab, “Tidur itu enak, tapi lebih enak dari tidur adalah mati.” Saya belum/tidak tahu dasarnya, tapi saya yakin, qaul ini tentulah berdasar. Sebab ia keluar dari mulut seorang ulama yang jati dirinya kita semua akui. Apa sih enaknya tidur? Sebetulnya enaknya tidur itu baru terasa setelah bangun. Begitu juga mungkin dengan mati. Wallahu a’lam.

Kalau kita tahu bahwa kita semua berjalan ke arah finish hidup kita di dunia, tentu tidak ada alasan untuk takut. Kita hanya perlu mempersiapkan diri menghadapinya. Nenek kita, orang tua kita, bahkan ada yang lebih muda dari kita sudah mendahului kita.

Penghayatan terhadapnya bahwa suatu saat kita akan meninggalkan alam fana ini menuju dunia lain yang lebih kekal dan melewati pintu bernama kematian, boleh jadi menjadi tidak semenakutkan semula. Bukankah kematian adalah salah satu persyaratan untuk bertemu dengan baginda Nabi SAW. Beliau SAW adalah sumber dan arah seluruh rasa cinta dan kerinduan kita yang sejati. Bukankah mati juga yang akan mengantar kita menemui Allah SWT? Sumber dari segala sumber semua yang ada ini? Cahaya dari segenap cahaya yang kita kenali? Keindahan dari segenap keindahan yang kita alami? Allahu Rabbi, what an experience!

Hidup kita adalah rangkaian dari upaya-upaya kita untuk meraih kesempatan emas itu. Kita tentu tidak akan bisa sampai ke sana jika hidup tidak diplot secara sungguh-sungguh untuk mencapainya. Untuk apa jadinya kita hidup jika akhirnya kita toh tidak akan berjumpa dengan Sang Nabi, kinasih kita? Untuk apa saya lalui kehidupan yang demikian payah ini, kematian yang begitu menyakitkan itu jika akhirnya aku tidak dapat memandangmu wahai kekasih yang karenanya semesta ini tercipta?

Mari kita jadikan kematian menjadi obrolan kita sehari-hari agar kita tidak kebablasan dengan kemewaham, kesehatan, dan kesempatan yang diberikan Allah SWT kepada kita. Kematian harus didekatkan ke kehidupan kita agar kita bersungguh sungguh dalam kerja-kerja kita, agar kita berhenti saling menghina, saling memojokkan, mengeruk uang yang tak halal, menipu keluarga sendiri, pelit membuka dompet untuk kebaikan, susah senyum dan berkata baik, merebut hak orang lain, dll. Mari berhenti menghabiskan waktu untuk hal yang tidak benar. Wallahu a’lam.

SALAHUDDIN SOPU

Dosen Pemikiran Islam UIN Alauddin Makassar

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button