Tuesday , July 23 2019
Home / GAGASAN / Makrifat Perjalanan dan Doa di Dua Pulau
Ilustrasi Puisi Makrifat Perjalanan dan Doa di Dua Pulau

Makrifat Perjalanan dan Doa di Dua Pulau

aku mendengar adzan berkumandang dari toa masjid-masjid beberapa saat seusai pesawat lending, ditemani senja merah bata. dan aku merasa seperti tengah duduk bersila dihadapan kiai di surau desa yang sepi dan dingin

mataku tak kuat menatap wajah dan surbannya. selain takdzim mendengar kata demi kata bacaan kitab yang dieja begitu pasih.

mengenangkan air wudhu yang harus dibayar tunai saat hendak menghadap tuhan tanpa tahu bayarannya untuk apa dan buat siapa.

disini seusai aku dikepung seribu cafe, aku dikepung seribu masjid tanpa penceramah yang menunjuk kafir mengarah ke jamaah.

di atas ketinggian layar dan batu serta dibawah pohon rimbun berakar serabut aku membaca mantra dan doa. kulayarkan tubuhku menuju pasir di tiga gili yang menawarkan cinta dan kegirangan.

tuhan memang tidak hanya berada di surau dan masjid juga makam para wali yang alim. tetapi ia berada di setiap degup dan helaan nafas para pejalan dan pecinta tidak terkecuali pada pasir putih yang menawarkan segala irama dan kesaksian.

dan biarlah dzikir dan shalawat tetap bergemuruh dalam perjalanan tanpa koma dan tanda baca di semua tanah dan pijakan. hingga waktu dan ruang tidak lagi penting untuk diperdebatkan selain bergerak dan hanya menuju pada pemilik waktu dan pemilik segala ruang.

Bali-Lombok, 22-25 Juni 2019

About IYAT TEHA

Belajar membaca dan menulis juga pembelajar di kehidupan

Check Also

Romli, Sisi Lain dari Konferwil III NU Sulbar

IBU kantin sibuk mengaduk kopi. Kali ini kantinnya begitu ramai oleh pengunjung dan itu tidak …

Harga Adat

berjalan semalam suntuk mengusir kantuk ingin segera tiba di bukit itu lewat jalan setapak tak …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

KACO baru saja menaiki punggung kuda balibbinna, namun belum sempat ia keluar menuju jalan yang berkerikil depan rumahnya, mendadak ia disuguhi pemandangan segerombol anak-anak putih abu yang berkonvoi memacu sepeda motornya dengan suara knalpot yang memekik mengalahkan ringkik kudanya. Urung melangkahkan kaki kudanya, Kaco lalu berteriak dan bertanya kepada Cicci yang sedang membilas daster kenu’na di samping passauang, “allo apa dite’e di’e Kindo’na”. Cicci menjawab, “allo araba’ sippara hari pendidikan nasional”. Kaco membatin, “Oh, pantas anak-anak sekolah itu merayakannya dengan trek-trekan. Semoga kemajuan pendidikan tidak saja bergerak lamban, namun berlari kencang sekencang sepeda motor trek-trekan anak putih abu itu”.[yat teha]