Selasa , April 7 2020
Home / GAGASAN / Kota Polewali dan Jasa Besar Subaer Rukkawali

Kota Polewali dan Jasa Besar Subaer Rukkawali

DI Sulawesi Barat, menjumpai kota-kota di enam Kabupaten : Polewali, Majene, Mamuju, Topoyo, Pasangkayu dan Mamasa, memiliki ciri khas dan keistimewaan tersendiri. Arsitektur dan tata ruang kota yang berbeda antara satu dengan yang lain.

Di Kota Polewali, Kabupaten Polewali Mandar, terutama di kawasan alun-alun dan sport center, kita akan mendapati arsitektur kota yang apik, rapi, bersih dan desain dua jalur yang memudahkan pengguna jalan untuk berkendara.

Rindang pepohonan di kiri kanan jalan yang tersusun rapi, membuat suasana kota, bak seperti berada di alam pedesaan. Hawanya sejuk dan udara segar di pagi hari.

Saat hari minggu tiba, kawasan sport center dalam kota akan ramai warga yang berolahraga. Senam kebugaran dan joging mengitari jalan kawasan luar Stadion H.S. Mengga. Sembari, lidah akan dimanjakan jajanan kuliner dan “perngopian” di kawasan alun-alun kota.

Bagi kami yang lahir di pertengahan dan penghujung tahun 80-an. Tata ruang kota dengan dua jalur kendaraan, sudah demikian adanya.

Saat almarhum HS. Mengga menjadi Bupati Polewali Mamasa, hingga Andi Kube Dauda, Hasyim Manggabarani, Ali Baal Masdar hingga kepemimpinan Andi Ibrahim Masdar sekarang, yang kini memasuki masa kedua.

Di tahun 2017, seorang kawan pernah bercerita, bahwa ada nama yang tak bisa dilepaskan dari cikal bakal arsitektur kota Polewali seperti yang kita dapati sekarang.

Nama itu adalah almarhum Subaer Rukkawali. Tokoh Mandar asal Campalagian (Tomadio) yang dikenal cerdas dan jejaringnya yang luas hingga ke Istana negara.

Muslim Sunar, mantan sekretaris umum Pengurus Pusat Kesatuan Pelajar Mahasiswa Polewali Mamasa (KPM-PM) dan Ketua umum pengurus cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Metro Makassar, pernah menyampaikan bahwa sebab ketokohan Subaer Rukkawali, yang kemudian nama beliau diabadikan pada bangunan asrama putera mahasiswa Polewali Mandar, di Kelurahan Tello, Kecamatan Tamalanrea Makassar.

“Nama beliau diabadikan jadi nama asrama Putera Kpm pm tello, ” cerita Muslim Sunar yang kini menjadi komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Polewali Mandar.

Asrama tersebut jaraknya hanya sekian meter dari kediaman almarhum Syahrul Saharuddin, tokoh Mandar, birokrat kelahiran Limboro Polewali Mandar, yang pernah menjabat Bupati Takalar Sulawesi Selatan, dan Pelaksana Tugas Bupati Polewali Mamasa di Tahun 2006-2007.

Beliau, Subaer Rukkawali, seorang tokoh di masa kepemimpinan Bupati H.S. Mengga yang mendesain kota Polewali dengan proyeksi jangka panjang dan perhitungan yang sedemikian matang. Kawasan Madatte dan Pekkabata, disulap menjadi kota yang tertata rapi dan indah.

Subaer Rukkawali adalah tokoh muda yang hidup saat Presiden Soekarno berkuasa. Presiden pertama Republik Indonesia ini sangat mengenal sosoknya yang muda, bersahaja dan pergaulannya hingga ke mancanegara.

Tokoh ini memang dikenal sebagai tokoh nasionalis-Marhaenis dilintas jejaring aktifis di Republik kala itu.

Entah benar atau tidak, sepuluh pemuda yang dimaksud oleh Soekarno dalam pidato heroiknya yang berbunyi” berikan aku sepuluh pemuda niscaya akan kuguncang dunia”. salah satunya adalah almarhum Subaer Rukkawali.

Wallahu a’lam bish sawab

Al-Fatihah untuk beliau

About MUHAMMAD ARIF

Selain dikenal sebagai aktivis yang produktif menulis, dirinya kini tercatat sebagai pimpinan pengurus cabang Gerakan Pemuda Ansor Polewali Mandar

Check Also

DPRD Polman kumpulkan Kades dan Lurah Se-Kecamatan Matakali, Amiruddin : Upaya Pencegahan Virus Corona

Polman, Tayang9 – Wakil Ketua DPRD Polman bersama Lima anggota DPRD Polman lainnya, mengumpulkan semua …

Tradisi Mangakkai’ di Kampung Sumarorong

Oleh : Tadius Sarrin Wujud Penghargaan atau penghormatan bagi arwah yang sudah meninggal pada beberapa …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

KACO Siang itu, Kaco sala pa'dutang, tidak ada yang bisa dilakukan selain mamurrus. Dalam kecepatan 180 perjam, Kaco terpaksa ma'ondongngi appang bassi siola bala beke. Cicci yang menyaksikan itu hanya bisa tertawa terbahak. Belum selesai Cicci tertawa melihat kelakuan Kaco, Cicci juga kemudian mengangkat daster dan lari tunggang langgang. Jingkang dan meloncati petawung anna passukkeang. Cicci pikir Kaco lari karena dikejar anjing gila. Ternyata belakangan Cicci tahu kalau ternyata Kaco mamurrus karena hendak menuju pappelembangan karena nalulang setelah manggasa' kaweni pagi tadi.”.[yat teha]