GAGASANOPINI

Marromai Cinna: Expresi Cinta di Bulan Muharram

KETIKA rangkaian diksi selalu kita dengar dari para leluhur. Seperti “Da teke’-teke'” Jangan panjat-panjat, itu  merupakan larangan pamali biasa. Tapi menjadi tidak biasa ketika dibelakangnya ada kata “Muharram”. Larangan “Da teke’-teke’ muharrangi”. Jangan selalu panjat-panjat ini bulan Muharram.

Ada apa dengan muharram? Anehnya, larangan ini hanya untuk bulan muharram bukan bulan yang lain, belum pernah kita dengar da teke’-teke’ bulan Rajab, atau Ramadhan atau Dzulhijjah. Ada larangan uforia di bulan muharram seperti Pappasiala (pernikahan), mattura’ (Menanam) atau acara besar lainnya.

Kalau bicara konteks kekinian maka seharusnya tidak ada nongki di cafe atau mabar-mabaran Free fire, tidak ada mobile legend, tidak ada higgs domino scatter scatteran, tidak ada foya foya karena muharram. Tapi apakah larangan ini berlaku sampai sekarang, zaman sekarang diganti dengan Permainan online? Atau ada makna lainnya?

Lalu apa hubungannya dengan pamali? Mari kita lihat, ada 4 Bulan dalam islam yang dimulaikan, terdapat pada surah At-Taubah:36 lalu dikenal dengan nama (Al-Asyharul Hurum) bulan yang dimuliakan.

Ada beberapa amalan di sepuluh muharram.  dalam kitab Kanzun Naja was Surur Fi Ad’iyyati Tasyrahus, Syekh Abdul Hamid mengenai keutamaan amalan-amalan bulan Muharram disebutkan:

فِى يوْمِ عَاشُوْرَاءَ عَشْرٌ تَتَّصِلْ * بِهَا اثْنَتَانِ وَلهَاَ فَضْلٌ نُقِلْ صُمْ صَلِّ صَلْ زُرْ عَالمِاً عُدْ وَاكْتَحِلْ * رَأْسُ الْيَتِيْمِ امْسَحْ تَصَدَّقْ وَاغْتَسِلْ وَسِّعْ عَلَى اْلعِيَالِ قَلِّمْ ظُفْرَا * وَسُوْرَةَ الْاِخْلاَصِ قُلْ اَلْفَ تَصِلْ

“Ada sepuluh amalan di dalam bulan ‘asyura, yang ditambah lagi dua amalan lebih sempurna. Puasalah, salatlah, sambung silaturrahim, ziarah orang alim, menjenguk orang sakit dan celak mata. Usaplah kepala anak yatim, bersedekah, dan mandi, menambah nafkah keluarga, memotong kuku, membaca surat al-Ikhlas 1000 kali.”

Kemudian 1-10 Muharram juga dikenal peristiwa Karbala, peristiwa mengerikan sepanjang masa, dimana anak cucu Nabi dibantai, karbala saat itu bermandi darah, sehingga memberikan expresi kecintaan kepada Baginda Nabi, turut berduka atas kejadian itu. Merenungi sesuatu, bukan malah bahagia. Kita mesti bersedih dengan duka Nabi, sebab pencinta akan selalu bahagia dengan kebahagian yang dicinta, akan terluka jika yang dicinta pun terluka.

Itulah mengapa bulan Muharram waktu dimana orang tua melarang keluar-keluar kalau tidak penting. Melarang melakukan aktivitas yang memicu adrenalin dan berbahaya, salah satu contohnya teke’-teke’ (Panjat pohon) batta-batta (Main main dengan senjata tajam) ma’assa sitindro (kejar-kejaran) dan lain sebagainya.

Orang tua kita melanjutkan, karena bulan ini bulan cera’ (Bulan darah) hal hal yang berkaitan dengan aktivitas berbahaya sarat dengan darah. Bahkan acara yang bersifat kebahagian apapun bentuknya, sebisa mungkin ditiadakan di bulan ini, saya beranggapan bahwa itu bentuk akhlak kepada Baginda Nabi. Bulan duka tidak mesti kita berbahagia. Tetangga saja ketika dirundung duka, kita melayat sebagai bentuk empati dan kepedulian, apalagi berkenaan dengan Keluarga sang Kekasih Allah.

Bukan apa-apa, tapi ini bentuk kecintaan masyarakat mandar kepada Baginda Nabi. Cinta tidak semata berupa kebahagiaan dan ketenangan, ia  juga bisa menjelma menjadi kepedihan, kesedihan dan rasa sakit. Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah menjelaskan itu secara lengkap dan detail. Kajian leksikal cinta memiliki 50 Kata dalam bahasa arab, beberapa diantaranya mengandung luka dan kesedihan seperti:

AL-HANIN artinya kerinduan yang pedih dan kasih sayang di dalam jiwa. Jika ditimbang dalam wazan shorof maka dia menjadi Hanna yahinnu-haninan. Bentuk katanya sama dengan Han. Jadi kata Hanan Artinya kasih sayang. Lihat surah Maryam: 13

Ada kata Hananan artinya Kasih sayang. Dia seperti suara induk unta yang sedang menghibur anaknya disebut dengan nama Hanin an-naqah expresi kecintaan ibu kepada anaknya.

Al-LAHF (Kesedihan) ini salah satu dampaknya cinta. Hakikatnya cinta mendatangkan kesedihan, bukan hanya kebahagian. Dari asal kata Lathifa-yalthafu-lathfan artinya bersedih. Bangsa Arab punya diksi At-talahhuf dengan ucapan Ya Lahfa fulan (Betapa menyedihkan si fulan) begitu juga Al-HURAQ kesedihan mendalam. Ada juga AL-KAMAD kesedihan yang terpendam. Satu asal kata dengan Kamida subjeknya adalah kamid satu asal kata dengan Alkumdah. Artinya perubahan warna. Seseorang yang dilanda cinta akan berubah spontan.

Paling terkenal Diksi Arab yang mewakili cinta adalah AL-HUZN kesedihan hakiki. Biasanya ditimpa sama anak yang bucin sedang jatuh cinta. Ketika ada sesuatu yang tidak disukai dalam perjalanan cintanya. Seperti dia yang ditolak atau diselingkuhi pasangannya. Ujian pencinta adalah kesedihan. Banyak hal hal yang kita tidak suka dalam proses mencinta itu.

Menarik Hadits nabi: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari ketakutan dan kesedihan. Dari kelemahan dan kemalasan, dari kepengecutan dan kekikiran, serta dari terlilit utang dan penindasan orang lain.

Ada diksi yang menarik, ketika Nabi menyandingkan dua kata. Yaitu Al-hamm ketakutan dan kesedihan Al-Hazn dan itu memang berdekatan. Ketika sesatu terjadi yang itu tidak disukai hati, maka yang terjadi adalah kesedihan. Tapi ketika Sesuatu itu belum terjadi, maka menimbulkan ketakutan.

WASHAB rasa sakit dari cinta itu ada. Asal katanya memang berarti penyakit, dari kata Washiba-Yaushabu. Subjeknya menjadi washib

Firman Tuhan tidaklan seorang hamba dikena musibah kecuali dengan cinta-Nya.

Kata washib ada pada surah As-shaffat: 9 dan An-nahl :52

Lalu bagaimana dangan hukum? Apa boleh ada ritual kebiasaan dikaitkan dengan bulan Muharram? Budaya adalah hasil penalaran dalam bentuk pemikiran, kemudian diproyeksikan kedalam gerak, Kata-kata, lukisan dan irama. Bertujuan untuk kegiatan berfikir, bertindak dan merasa menampilkan identitasnya sebagai suatu kesatuan.

Pendekatan tasawuf ke kebudayaan Islam seperti tokoh Al-Raniri, Abd Rauf Singkel, hamzah Fansuri. Hukum fiqih yang berlaku mampu bersinergi dengan budaya, berkat mencantumkan tata cara ushul fiqih imam Syafi’i yaitu Al-Adah Al-Muhakkamah

Sayangnya hukum fiqih yang sudah lama dianut oleh masyarakat kita diambil dijadikan hukum positif barat lalu ditegakkan disini.

Sehingga ada kata “Adat Bersendi syara’ syara’ bersendi Kitabullah”

Titik temu antara universalitas ajaran islam dan bentuk fisik adat, tradisi, seni daerah penampilkan sesuatu yang berbeda-beda, semua daerah demikian adanya. Namun semuanya mengikuti pola umum yang sama, yaitu Menekankan Tauhid dan memuliakan Nabi Muhammad dan menampilkan sisi akhlak kehidupan kaum Muslim.

Contoh kecil di Mandar ada Sistem nilai Pamali, semua larangan yang ada didalamnya tidak bertentangan dengan syara’, meskipun konsekwensi hukumannya agak diluar nalar. Tapi begitulah cara orang tua dulu melarang agar tidak jatuh ke arah yang bertentangan syara’.  Dan semua sistem nilai para leluhur, ia tidak terlepas dari ajaran adab dan akhlak Al-karimah. Wallahu a’lam…

FARHAM RAHMAT

Alumni Hukum IAI Al-Aqidah Al-Hasyimiyyah Jakarta Timur, Blogger juga aktif dalam pengembangan skill Bahasa (Inggris, Arab dan Teks Lontara) Alumni SKPB Akbar Tandjung Institute. Kini Mahasiswa Pascasarjana UIN Alauddin Makassar dan nyantri di Majelis Shalawat Simpang M, dan didaulat sebagai Ketua Zain Office, editor di media katalogika.com. Serta dirinya tercatat sebagai pemuda pelopor Literasi Digital Kabupaten Polewali Mandar

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button
%d blogger menyukai ini: