Selasa , Agustus 4 2020
Home / BERITA / FEATURE / Ritual Nelayan Mapposi Lopi
Salah seorang tokoh nelayan sedang melakukan ritual Mapposi Lopi

Ritual Nelayan Mapposi Lopi

TRADISI yang masih kental ketika nelayan pertama kali akan menurunkan perahunya ke laut yakni melakukan kegiatan Barzanji atau ma baca-baca. Ritual yang wajib dilakukan para pelaut dengan mengharap keberkahan dan keselamatan.

Selanjutnya Mapposi Lopi (pusar) dengan membuat lubang kira-kira sebesar jari kelingking pas berada di posisi tengah lambung kapal. Dan menutupnya dengan menggunakan kayu benalu, kain kafan, dan beberapa helai rambut. Biasanya kegiatan ini dilakukan tengah malam. Kegiatan ini merupakan sesuatu yang wajib dilakukan bagi pemilik kapal untuk meminta keselamatan dan reski dari laut.

Sajian yang diletakkan di lambung kapal

Orang yang dipercayakan Mapposi Lopi adalah tetuah atau tokoh pemuka agama yang memiliki pengetahuan soal paham tentang ilmu kelautan dan Mappeussul. Selain itu, seorang tokoh harus mampu melihat hari yang dianggap baik kapan waktunya akan menurunkan kapal ke laut.

Saat ritual Mapposi lopi dilakukan, pemilik kapal sebelumnya menyiapkan berbagai jenis makanan yang diletakkan di lambung kapal (roang). Seperti pisang, sokkol, cucur, ule-ule. Setelah selesai baca-baca, orang-orang akan saling berebut makanan terutama bagi anak-anak momen yang ditunggu bagi mereka.

Budaya yang dimiliki para pelaut terutama di wilayah pesisir Mandar begitu kaya akan tradisi. Sebuah pergulatan panjang proses asimilasi antara keyakinan, agama dan budaya sehingga melahirkan tradisi.

About NASRUL MASSE

Anak pelaut yang ingin menulis dan membaca di daratan.

Check Also

Menangkan Pertarungan Hidup Ala Naruto

Oleh: Muhammad Gufran SAAT menikmati hidangan buka puasa, saya selalu kawinkan dengan nonton aksi Boruto …

Senin Pagi, 1 Juni 2020

SENIN pagi, 1 Juni 2020 catatan ini mulai bergerak. Tatkala jumlah pasien yang meninggal akibat …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

KACO Siang itu, Kaco sala pa'dutang, tidak ada yang bisa dilakukan selain mamurrus. Dalam kecepatan 180 perjam, Kaco terpaksa ma'ondongngi appang bassi siola bala beke. Cicci yang menyaksikan itu hanya bisa tertawa terbahak. Belum selesai Cicci tertawa melihat kelakuan Kaco, Cicci juga kemudian mengangkat daster dan lari tunggang langgang. Jingkang dan meloncati petawung anna passukkeang. Cicci pikir Kaco lari karena dikejar anjing gila. Ternyata belakangan Cicci tahu kalau ternyata Kaco mamurrus karena hendak menuju pappelembangan karena nalulang setelah manggasa' kaweni pagi tadi.”.[yat teha]