Tuesday , January 21 2020
Home / BERITA / FEATURE / Ritual Nelayan Mapposi Lopi
Salah seorang tokoh nelayan sedang melakukan ritual Mapposi Lopi

Ritual Nelayan Mapposi Lopi

TRADISI yang masih kental ketika nelayan pertama kali akan menurunkan perahunya ke laut yakni melakukan kegiatan Barzanji atau ma baca-baca. Ritual yang wajib dilakukan para pelaut dengan mengharap keberkahan dan keselamatan.

Selanjutnya Mapposi Lopi (pusar) dengan membuat lubang kira-kira sebesar jari kelingking pas berada di posisi tengah lambung kapal. Dan menutupnya dengan menggunakan kayu benalu, kain kafan, dan beberapa helai rambut. Biasanya kegiatan ini dilakukan tengah malam. Kegiatan ini merupakan sesuatu yang wajib dilakukan bagi pemilik kapal untuk meminta keselamatan dan reski dari laut.

Sajian yang diletakkan di lambung kapal

Orang yang dipercayakan Mapposi Lopi adalah tetuah atau tokoh pemuka agama yang memiliki pengetahuan soal paham tentang ilmu kelautan dan Mappeussul. Selain itu, seorang tokoh harus mampu melihat hari yang dianggap baik kapan waktunya akan menurunkan kapal ke laut.

Saat ritual Mapposi lopi dilakukan, pemilik kapal sebelumnya menyiapkan berbagai jenis makanan yang diletakkan di lambung kapal (roang). Seperti pisang, sokkol, cucur, ule-ule. Setelah selesai baca-baca, orang-orang akan saling berebut makanan terutama bagi anak-anak momen yang ditunggu bagi mereka.

Budaya yang dimiliki para pelaut terutama di wilayah pesisir Mandar begitu kaya akan tradisi. Sebuah pergulatan panjang proses asimilasi antara keyakinan, agama dan budaya sehingga melahirkan tradisi.

About NASRUL MASSE

Seorang nelayan yang ingin terus menulis kemudian membaca saat di daratan.

Check Also

Setulus Senyum Guru PAUD

WAJAHNYA tak pernah lepas dari senyum, selalu mengembang manis dihadapan anak-anak didiknya. Suasana hatinya selalu …

Cerita Gunung Tasik Manau’

PANAS terik cukup menyengat dikulit. Aroma khas tandang kelapa sawit sisa pengolahan dari pabrik, seperti …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

KACO baru saja menaiki punggung kuda balibbinna, namun belum sempat ia keluar menuju jalan yang berkerikil depan rumahnya, mendadak ia disuguhi pemandangan segerombol anak-anak putih abu yang berkonvoi memacu sepeda motornya dengan suara knalpot yang memekik mengalahkan ringkik kudanya. Urung melangkahkan kaki kudanya, Kaco lalu berteriak dan bertanya kepada Cicci yang sedang membilas daster kenu’na di samping passauang, “allo apa dite’e di’e Kindo’na”. Cicci menjawab, “allo araba’ sippara hari pendidikan nasional”. Kaco membatin, “Oh, pantas anak-anak sekolah itu merayakannya dengan trek-trekan. Semoga kemajuan pendidikan tidak saja bergerak lamban, namun berlari kencang sekencang sepeda motor trek-trekan anak putih abu itu”.[yat teha]