Thursday , January 23 2020
Home / GAGASAN / Cerita Gunung Tasik Manau’

Cerita Gunung Tasik Manau’

PANAS terik cukup menyengat dikulit. Aroma khas tandang kelapa sawit sisa pengolahan dari pabrik, seperti “menghantam” indra penciumanku. Aromanya cukup terasa, seperti aroma kudapan tape yang telah melewati proses fermentasi.

Dengan roda empat, saya bersama rekan Asesor PAUD lainnya menuju sebuah kampung yang bernama Dusun Watu Bete, Desa Wulai Kecamatan Bambalamutu, Pasangkayu, daerah batas provinsi Sulbar dan Sulteng. Sekalian untuk Hunting lokasi lembaga untuk visitasi esok .

Medan yang kulalui terbilang cukup kreeeenn. Menuju kesana saya wajib melintas di atas dua aliran sungai besar. Cukup luas dan sedikit membuat saya agak ngeri-ngeri sedap, sempat saya membayangkan jika seandainya air disungai ini tiba-tiba meluap, lantas saya masih berada di tengah sungai.

Tetibanya saya disana, satu kebiasaan saya saat berada di tempat baru adalah mencari orang yang memiliki “kesamaan” dengan saya. Salah satu ilmu dalam komunikasi tentang proximity. Entah dengan kesamaan bahasa, tempat tinggal atau hal menarik lainnya untuk saya cari tahu kepada orang disana.

Dan akhirnya pun saya bertemu dengan orang yang memiliki bahasa yang sama dan ku fahami, bahasa Mandar. Tanpa ragu, saya mengeluarkan kosa kata Mandar semampu saya. Dia pun lalu menyambutnya dengan bahasa yang sama. Awalan yang baik buatku, begitu fikirku untuk memulai sebuah dialog yang agak serius.

Bermula dari rasa penasaran saya tentang penyebutan Dusun Watu Bete, sebagai nama kampung disana. Dia memberitahukan jika arti nama Dusun itu bermakna “Batu Besar”. Nama itu pun tidak sekedar nama, menurutnya di dusun itu ada bongkahan batu yang sangat besar seperti gunung disana.

Cerita yang lain pun akhirnya terdengar, konon ceritanya jika ada gunung di Desa Wulai itu, memiliki sumur yang terhubung dengan laut. Gunung itu dinamakan Gunung Tasik Manau’. Menurut ceritanya ketika air laut pasang, maka air sumur yang ada dibukit itu akan ikut naik. Dan jika air laut surut, air di sumur itu pun akan ikut surut juga (Dalam bahasa derahnya “Uai le’bo minnaung”)

Hanya saja warga disana belum tahu persis posisi sumur itu, Warga disana enggan untuk cari tahu letak persisnya, karena dari cerita yang berkembang, sumur itu memiliki aura mistis yang kuat… Wallahu A’lam..

About SULHAN SAMMUANE

Selain Menulis dirinya juga dikenal aktif sebagai pemerhati pendidikan anak usia dini

Check Also

“Ada” Gusdur di Jalan Pemuda

Oleh : Muh.Wahyu Hidayat Akhir-akhir ini, di penghujung tahun terjadi akan sebuah fenomena tsunami informasi, …

Rindu Orde Baru di Era Milenial

DEMOKRASI subtansinya dari rakyat untuk Rakyat, rakyat memilih pemimpinnya secara lansung dan juga memilih wakilnya …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

KACO baru saja menaiki punggung kuda balibbinna, namun belum sempat ia keluar menuju jalan yang berkerikil depan rumahnya, mendadak ia disuguhi pemandangan segerombol anak-anak putih abu yang berkonvoi memacu sepeda motornya dengan suara knalpot yang memekik mengalahkan ringkik kudanya. Urung melangkahkan kaki kudanya, Kaco lalu berteriak dan bertanya kepada Cicci yang sedang membilas daster kenu’na di samping passauang, “allo apa dite’e di’e Kindo’na”. Cicci menjawab, “allo araba’ sippara hari pendidikan nasional”. Kaco membatin, “Oh, pantas anak-anak sekolah itu merayakannya dengan trek-trekan. Semoga kemajuan pendidikan tidak saja bergerak lamban, namun berlari kencang sekencang sepeda motor trek-trekan anak putih abu itu”.[yat teha]