Thursday , January 23 2020
Home / MUHAMMAD ARIF

MUHAMMAD ARIF

Selain dikenal sebagai aktivis yang produktif menulis, dirinya kini tercatat sebagai pimpinan pengurus cabang Gerakan Pemuda Ansor Polewali Mandar

Lesni yang Berani “Bangunkan” Gus Dur Dengan Puisi

PERINGATAN Haul Gus Dur ke 10, Sabtu kemarin, di Sekretariat Gerakan Pemuda Ansor Polewali Mandar, Sulawesi Barat, penulis termasuk orang yang paling datang telat, dan duduk paling di belakang. Duduk dibelakang, suara mereka yang duduk di barisan paling depan agak terdengar kurang kedengaran. Mereka adalah moderator dan pemantik diskusi, yang …

Read More »

Uwai Mandar

JIKA ditanya, apa yang membedakan antara kami yang mukim di kampung dengan mereka yang sejak kecil hidup di kota. Ini salah satu jawabannya: Uwai Mandar. Uwai Mandar adalah sebuah anugerah Tuhan tiada terkira, yang dititipkan di kampung kami, di kampung-kampung Mandar, yang dialiri jernihnya juga keruhnya. Di tahun 90-an, Uwai …

Read More »

Cahaya Cinta di Balik Panorama Buttu Salabose

JIKA anda pernah menjejaki tempat ini, buttu Salabose, maka yang anda jumpai adalah pemandangan Kota Majene yang damai, hamparan nyiur kelapa yang melambai-lambai, dan bentang laut biru, di balik pesona teluk Mandar yang eksotik, plus desiran angin yang teramat sejuk, amboi, sungguh menawan hati. Buttu Salabose, dalam batin penulis, bak …

Read More »

Mandar Berduka, Mursyid Tarekat Khalwatiah Samman Berpulang

”Jika seorang pahlawan alim meninggal, terjadilah lubang dalam komunitas yang tidak tertutupi hingga datang alim lain yang menggantikannya.” (Sayyidina Ali Bin Abi Thalib RA) SAMPAI juga kami disini,Kampung Baru, Desa Padang Timur, Campalagian, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Sebuah tempat yang untuk pertama kalinya saya kunjungi. Dusun yang dikelilingi nyiur …

Read More »
KACO baru saja menaiki punggung kuda balibbinna, namun belum sempat ia keluar menuju jalan yang berkerikil depan rumahnya, mendadak ia disuguhi pemandangan segerombol anak-anak putih abu yang berkonvoi memacu sepeda motornya dengan suara knalpot yang memekik mengalahkan ringkik kudanya. Urung melangkahkan kaki kudanya, Kaco lalu berteriak dan bertanya kepada Cicci yang sedang membilas daster kenu’na di samping passauang, “allo apa dite’e di’e Kindo’na”. Cicci menjawab, “allo araba’ sippara hari pendidikan nasional”. Kaco membatin, “Oh, pantas anak-anak sekolah itu merayakannya dengan trek-trekan. Semoga kemajuan pendidikan tidak saja bergerak lamban, namun berlari kencang sekencang sepeda motor trek-trekan anak putih abu itu”.[yat teha]