GAGASANOPINI

Dua Pengembara Ilmu dari Tanah Mandar

*Oleh: Abd. Mubarak

TIGA puluh tahun silam, langkah pertama saya menapaki dunia pesantren dimulai. Sebuah perjalanan penuh suka dan duka, yang kini terasa indah bila dikenang di tengah penatnya hidup. Tulisan ini bukan untuk menyanjung nama, melainkan untuk menegaskan janji Allah dalam Al-Qur’an: “Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu.”

Saya menyaksikan sendiri bagaimana para santri yang tekun, disiplin, dan bersungguh-sungguh akhirnya menuai hasilnya. Seperti pepatah Arab: Man jadda wajada — siapa yang bersungguh-sungguh, niscaya akan mendapatkan.

Tahun 1994, di Pondok Pesantren Modern Al-Ikhlash Lampoko yang didirikan H. M. Zikir Sewai, saya bertemu seorang adik kelas bernama Ihsan Zainuddin. Ia aktif, disiplin, dan mencintai bahasa Arab. Amanah sebagai mudabbir bahasa Arab ia jalankan dengan penuh tanggung jawab. Dari Lampoko ia menamatkan SMA, lalu melanjutkan ke Universitas Al-Azhar, Mesir — menjadi santri pertama dari Lampoko yang menembus negeri Kinanah.

Tahun 1997, saya bersama sahabat seangkatan melanjutkan studi ke MANPK Makassar, sebuah program unggulan Kementerian Agama untuk mencetak kader ulama dan intelektual muslim. Di sana saya bertemu Andi Muhammad Ridwan, santri tenang, rajin, dan selalu pertama hadir di masjid. Ia berasal dari Pesantren DDI Mangkoso, dan belakangan saya tahu ia berdarah Mandar. Setelah tamat, Ridwan juga memilih Al-Azhar Kairo sebagai jalan ilmunya. Dari S-1 hingga S-3 ia setia menuntut ilmu, dan kini tengah menanti sidang doktoralnya pada 8 Agustus 2026.

Dua jalur berbeda — pesantren “swasta” Lampoko dan pesantren “negeri” MANPK — namun keduanya bermuara pada sumber ilmu yang sama: Allah Yang Maha Esa. Tidak ada dikotomi, hanya jalan yang berbeda menuju cahaya pengetahuan.

Hari ini, keduanya kembali bertemu di tanah Mandar. Ustadz Ihsan memimpin Pondok Al-Ikhlash Lampoko, sementara Syekh Andi Ridwan memimpin Pondok Khalwatiyah Manahilul Irfan sekaligus menjadi Mursyid Tarekat Khalwatiyah Samman. Dua pengembara ilmu itu kini menjadi pengayom umat, menanam benih yang kelak akan tumbuh lebih tinggi dari mereka sendiri.

Tahniah untuk Ustadz Ihsan, semoga senantiasa dalam bimbingan Allah. Dan doa terbaik untuk Syekh Ridwan, semoga meraih gelar doktor dengan predikat Mumtaz di Al-Azhar, serta menemukan pendamping yang akan menemaninya dalam suka-duka perjuangan hidup. Tabek. Salama’ Andi. Salam dari alfaqir.


*Penulis: Abd. Mubarak, santri yang masih setia menjadi santri, saat ini diamanahi sebagai Kepala KUA Kecamatan Limboro Kabupaten Polman Sulbar

REDAKSI

Koran Online TAYANG9.COM - "Menulis Gagasan, Mencatat Peristiwa" Boyang Nol Pitu Berkat Pesona Polewali Sulbar. Email: sureltayang9@gmail.com Gawai: +62 852-5395-5557

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
%d blogger menyukai ini: