Monday , December 9 2019
Home / GAGASAN / Karena Kita Bukan Kuda, Sapi dan Domba
ILUSTRASI Karena Kita Buka Kuda, Sapi dan Domba (photo: dari grup wa sahabat2 sayyeq fadlu)

Karena Kita Bukan Kuda, Sapi dan Domba

WACANA dan narasi begitu banyak menguasai dan memasuki segala ruang dan dimensi. Yang ada sisa sepetak bahkan seinci ruang lagi yang bisa dengan tenang kita tempati menghirup nafas kedamaian dan itu bernama pedalaman yang tak disentuh baik oleh teknologi.

Kota kota telah terpetakan baik dan bahkan terskenario cantik untuk dijadikan semacam ruang bagi persemaian bagi lahirnya kuda tunggangan pun sapi perahan demi penguasaan syahwat dan libido politik yang ingkar nurani yang telah lama membuncah.

Hidup lalu menjadi nyaris  serupa berada di negeri yang begitu liar dan banal dimana warganya begitu cakap memproduksi hoax dan syakwasangka. Lalu melahirkan oknum generasi millenial yang khatam mengumpat dan mencela setelah begitu rajin belajar pada teknologi dan media sosial.

Oknum generasi yang menclamencle dan memble. Segelintir generasi yang tidak lagi mau mengimami kebaikan, tetapi lebih mengkiblatkan kehebatan yang absurd dan nir kontemplasi.

Pelajaran para tetua telah begitu lama dikebumikan dan dirasa tidak perlu lagi diwariskan. Karena dinilai kampungan dan tidak relevan dengan era hello gaes. Era yang datang bersama budaya frank yang mengajarkan game tipu tipu sebagai tradisi kreatif dalam mencari lahan hidup yang dipandang baik dan dianggap hiburan dan bahan bacaan pula tontonan saban waktu.

Kitab kuning dan hafalan surah surah pendek tidak lagi penting setelah waktu tuntas disita oleh kesibukan yang menunggu hingga tiba di level game over.

Kuasa keculasan telah dirayakan dengan gegap gempita dalam festival dan selebrasi kegagahan tipu muslihat. Hidup menjadi semacam pergerakan dari perhelatan yang dianggarankan dan menyita begitu banyak uang dari keringat kita sebagai rakyat.

Dan ditengah itu semua, kita menjadi semacam musang yang berbulu domba yang dombanya telah begitu pasih untuk diadu dalam arena tanpa pembatas.

Lalu pasilitas umum dan pasilitas sosial pun dirusak dan disulut api amarah. Kita lalu menjadi serupa kaum barbar yang membakar dan melempar dengan wajah garang bahkan tega membonyokkan dan pula membunuh sesama kita.

Maka kepadamu wahai mahasiswaku yang tak lagi sejaman denganku duduk di bangku kelas, mari sama belajar membaca situasi dan kondisi, sebab setelah revolusi, tidak ada lagi yang bisa diharapkan selain kedamaian dan kebaikan meniti hidup dalam bingkai dan kebersamaan juga kebersahajaan. Tanpa  amarah,  tipu tipu dan penunggangan yang akan menjebak kita menjadi serupa kuda, sapi ataupun domba yang tak pandai menalar.

Siapkan ranselmu masukkan kitab kuningmu juga buku yang membahas lusinan teori. Jalan raya dan aspal yang panas memang ruang baik meneriakkan kemacetan dan mampetnya kebijakan yang tak berpihak pada nurani.

Tetapi kumohon kepadamu, berilah kelegaan dan jalan kepada saudaramu yang tengah serius mencari nafkah bagi keluarganya. Lantas biarkanlah segenap pasilitas yang dibiayai dari uang kita sebagai rakyat tetap kokoh tanpa barret dan luka bonyok pula lecet apalagi gosong.

Mari  sama berteriak lantang tentang kebenaran tanpa marah dan api. Karena mungkin dengan begitu dalam kebisingan negeri ini masih tersisa sedikit ruang di kota kota untuk menghirup nafas kelegaan dalam upaya kita menjadi orang baik dan khalifah di atas muka bumi yang hidup semata hanya untuk menjadi hamba yang sayang dan cinta serta manfaat bagi semesta. Itu saja.

About IYAT TEHA

Belajar membaca dan menulis juga pembelajar di kehidupan

Check Also

Saat Nonton Biduan (part 3)

SONTAK saja penonton langsung bertepuk tangan dengan riuh, suara siulan yang melengking seperti menggoda para …

Saat Nonton Biduan (part 2)

BARU kali ini bisa melanjut cerita tentang bagaimana riuhnya hiburan ala-ala kampung ditempatku saat nonton …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

KACO baru saja menaiki punggung kuda balibbinna, namun belum sempat ia keluar menuju jalan yang berkerikil depan rumahnya, mendadak ia disuguhi pemandangan segerombol anak-anak putih abu yang berkonvoi memacu sepeda motornya dengan suara knalpot yang memekik mengalahkan ringkik kudanya. Urung melangkahkan kaki kudanya, Kaco lalu berteriak dan bertanya kepada Cicci yang sedang membilas daster kenu’na di samping passauang, “allo apa dite’e di’e Kindo’na”. Cicci menjawab, “allo araba’ sippara hari pendidikan nasional”. Kaco membatin, “Oh, pantas anak-anak sekolah itu merayakannya dengan trek-trekan. Semoga kemajuan pendidikan tidak saja bergerak lamban, namun berlari kencang sekencang sepeda motor trek-trekan anak putih abu itu”.[yat teha]