Thursday , November 14 2019
Home / KOLOM / Perjalanan dan Rindu
ILUSTRASI Kolom Perjalanan dan Rindu

Perjalanan dan Rindu

PERJALANAN adalah sebuah kata yang bisa saja, akan segera mengajak imajinasi kita bergerak kepada kegirangan tentang sebuah pertemuan baru dengan orang yang sebelumnya berjarak dengan diri kita. Perjalanan menjadi salah satunya upaya meringkas jarak pula ruang dan mendekatkan kita kepada yang sebelumnya hanya ada dalam pikiran atau dalam bayangan.

Suasana yang tadinya hanya berada dalam aras rindu yang khayali seketika mewantah. Dan pertemuanpun akan segera merubah. Yang tadinya dirindukan, seketika meraib. Rindu memang selalunya hadir pada sesuatu yang sedang tidak berada bersama dengan diri kita. Artinya rindu sering hanya persoalan ruang yang tidak sedang menyatu.

Tetapi betulkah perjalanan hanya sekedar kegirangan tatkala rindu meraib oleh pertemuan yang mewantah? Tidakkah perjalanan juga adalah sebuah pengorbanan yang membutuhkan energi dan bahkan tangis? Tersebab perjalanan yang sedang bergerak menghapus rindu, juga adalah momentum untuk melahirkan rindu yang baru pula.

Iya, perjalanan melahirkan kerinduan yang baru pada apa yang kita tinggal untuk sebuah perjalan menemui momentum meraibnya rindu. Meraibkan rindu justru adalah melahir ciptakan rindu yang baru. Karenanya perjalanan tidaklah sebegitu sederhana.

Perjalanan membutuhkan kelegaan, tidak saja pada keletihan tetapi juga kelegaan pada terlahirnya rindu yang baru pada yang ditinggalkan. Dan agaknya tepatlah apa yang dikatakan Ebiet G Ade dalam lagunya tentang perjalan yang jika dikutipkan berbunyi begini:

Perjalanan ini pun
Seperti jadi saksi
Gembala kecil
Menangis sedih …

Seakan Ebiet sedang bercerita kepada kita, tentang penghayatannya pada sebuah perjalanan yang menyedihkan karena engkau tak ada disampingku kawan.

Artinya kawan menjadi sesuatu yang penting bagi seorang Ebiet. Baginya perjalan tanpa kawan disampingnya adalah kekeringan yang kesepian bahkan sunyi. Dan demikianlah, perjalan kita butuhkan untuk sebuah upaya menuju kepada apa yang kita sebut pengharapan untuk mewantahkan sesuatu yang hanya dalam angan. Perjalan dalam literatur agama juga disebutkan sebagai hijrah.

Hijrah sebagai upaya untuk bergerak menuju kepada kebaikan yang artinya juga adalah meninggalkan keburukan. Menuju pintu taubat-lah mungkin tepatnya. Entahlah.

Yang pasti rasanya penting untuk kembali melanjutkan lagu Ebiet yang mengalun indah menemani malam menuju dini hari ini. Sama pentingnya kembali melanjutkan perjalanan tersebab:

Barangkali di sana
ada jawabnya
Mengapa di tanahku terjadi bencana

Mungkin Tuhan mulai bosan
Melihat tingkah kita
Yang selalu salah dan bangga
dengan dosa-dosa
Atau alam mulai enggan
Bersahabat dengan kita
Coba kita bertanya pada
Rumput yang bergoyang

Perjalanan, 9-10 Mei 2018

About IYAT TEHA

Belajar membaca dan menulis juga pembelajar di kehidupan

Check Also

Pahlawan untuk Dirimu

ENTAH apakah kabar itu benar adanya, sebuah postingan yang diupload oleh seseorang yang memberitakan, jika …

Kursi dan Kabinet

BEBERAPA hari sebelum pengumuman dan pelantikan kabinet Indonesia Maju, saya dan bersama anda, boleh jadi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

KACO baru saja menaiki punggung kuda balibbinna, namun belum sempat ia keluar menuju jalan yang berkerikil depan rumahnya, mendadak ia disuguhi pemandangan segerombol anak-anak putih abu yang berkonvoi memacu sepeda motornya dengan suara knalpot yang memekik mengalahkan ringkik kudanya. Urung melangkahkan kaki kudanya, Kaco lalu berteriak dan bertanya kepada Cicci yang sedang membilas daster kenu’na di samping passauang, “allo apa dite’e di’e Kindo’na”. Cicci menjawab, “allo araba’ sippara hari pendidikan nasional”. Kaco membatin, “Oh, pantas anak-anak sekolah itu merayakannya dengan trek-trekan. Semoga kemajuan pendidikan tidak saja bergerak lamban, namun berlari kencang sekencang sepeda motor trek-trekan anak putih abu itu”.[yat teha]