BRO CHIKOKOLOM

Puasa Gula Pasir

Kanne Baca

GULA pasir adalah salah satu bahan pokok paling utama, dia adalah kebutuhan primer kedua setelah beras. Bayangkan saja bagaimana minum kopi jika tak ada gula pasir. Terkecuali bagi pecinta kopi pahit yang bisa menikmatinya. Tapi itukan tidak lumrah, setidaknya bagi kebanyakan orang.

Saking pokoknya gula pasir ini, dia menjadi alat serangan utama mempengaruhi masyarakat dalam kontestasi pemilihan. Bentuknya biasanya berupa bingkisan pembuka perkenalan dengan masyarakat. Baik itu Pemilu legislatif ataupun Pemilu kepala daerah dan apalagi Pilkades.

Pokoknya, gula pasir adalah kebutuhan yang harus selalu tersedia di dapur. Utamanya di kampung-kampung, yang silaturrahim dan pola kekerabatan masih terjalin begitu kuat.

Terbukti saat kerabat atau sesama sahabat saling mengunjungi, maka kopi dengan gula adalah jamuan yang paling umum pula lazim.

Itu pulalah alasan, kenapa dulu rumah-rumah di kampung santri dan sekitarnya memiliki tangga di dapur. Tangga darurat yang terselubung untuk dilalu ibu pemilik rumah saat ada tamunya, untuk meminjam gula di rumah tetangga sebelah atau di warung saat kehabisan gula.

Sahdan sebagaimana dikisahkan Kanne Baca dihadapan santri-santrinya bahwa, suatu ketika di Kampung Santri, Kindo Namal pernah nyaris setiap waktu meneteskan air mata melihat perilaku anak semata wayangnya, si Namal yang memiliki kebiasaan aneh makan gula pasir bak makan permen.

Ibunya hendak menegurnya, namun kasih sayangnya jauh lebih tinggi daripada kegusarannya pada kelakuan anaknya si Namal.

Kegusarannya bukan pada soal kesehatan yang menjadi pertimbangan Kindo Namal menangisi anaknya itu, tapi ini soal kondisi ekonomi. Gula pasir saat itu tak semurah dan semudah mendapatkannya seperti saat ini.

Alhasil, Kindo Namal mengadukan persoalan anaknya itu kepada syekh kampung.

“Puang, anak saya punya kebiasaan makan gula pasir, sehari bisa menghabiskan cukup banyak. Tapi saya tidak tahu cara memberi tahunya. Mungkin Puang bisa menegur atau mengajarinya untuk tidak makan gula pasir lagi”, kata Kindo Namal saat mengajukan masalahnya kepada syekh kampung yang disapa Puang sebagai sapaan penghormatan dan pemuliaan, sebagaimana dikisahkan Kanne Baca.

Syekh kampung itu lalu menjawab,

“Iya, insya Allah. tapi beri aku waktu 40 hari, setelah itu saya akan menegurnya dan mengajarinya untuk tidak makan gula pasir lagi”, jawab syekh itu.

Karena kebingungan dengan jawaban syekh kampung yang menyuruh menunggu 40 hari, akhirnya Kindo Namal yang tak sabar mencoba menyela dan mempertanyakannya kepada kepada syekh.

Mendengar pertanyaan Kindo Namal, syekh itu lalu tertawa, dan menjawabnya,

“Saya juga sangat suka makan gula pasir, makanya saya harus puasa makan gula pasir dulu selama 40 hari sebelum nanti akhirnya bisa menegur dan mengajari anak itu untuk tidak lagi makan gula pasir lagi”.

Kindo Namal dan syekh kampung sebagaimana yang dikisahkan Kanne Baca itu, seakan mengajari kita bahwa sebelum mengajari orang lain yang paling pertama dan paling utama adalah mengajari diri sendiri.

“Oh begitu, jadi jangan menegur kebiasaan orang lain kalau itu juga adalah kebiasaan kita juga yah Kanne?” tutur sejumlah santri yang menjadi teman bicara Kanne Baca.

“Hahaha sudah dingin kopimu, cepat habiskan,” tutup Kanne Baca sambil berlalu menuju masjid.

BRO CHIKO

Penikmat Kopi Hangat dan Dingin juga Boleh

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button