Euforia Piala Dunia 2026, Jangan Sesat

PIALA Dunia 2026 tinggal menghitung hari. Di berbagai sudut kampung, lorong, desa, hingga perkotaan, suasana euforianya mulai terasa. Sebagian masyarakat telah mempersiapkan layar lebar dengan infokus yang dipasang di depan rumah atau balai pertemuan lingkungan. Ada pula yang memilih menonton bersama melalui televisi layar besar, sementara generasi muda lebih banyak menyaksikannya melalui telepon pintar di genggaman mereka.
Fenomena ini menunjukkan bahwa sepak bola bukan sekadar olahraga, melainkan telah menjadi bagian dari budaya populer yang mampu menyatukan berbagai kalangan. Anak-anak, remaja, orang dewasa, hingga para orang tua dapat duduk bersama menikmati pertandingan yang sama, meskipun berbeda pilihan tim yang didukung.
Tanda-tanda euforia itu semakin terlihat dengan maraknya pemasangan bendera negara-negara peserta Piala Dunia di pinggir jalan, ujung lorong, depan rumah, maupun warung-warung kopi. Ada yang mengibarkan bendera Brasil karena mengagumi permainan indah Samba Football. Ada yang memilih Argentina karena kagum pada tradisi sepak bola dan prestasi mereka. Ada pula pendukung Spanyol, Prancis, Belanda, Jerman, Inggris, Portugal, hingga negara-negara lainnya.
Bendera-bendera itu sesungguhnya bukan hanya kain berwarna-warni yang berkibar tertiup angin. Di baliknya terdapat identitas dukungan, harapan kemenangan, bahkan kebanggaan emosional para pendukung terhadap tim idolanya.
Menariknya, pilihan dukungan seseorang terhadap sebuah tim sering kali tidak semata-mata didasarkan pada kualitas permainan. Dalam ilmu psikologi sosial, fenomena ini dikenal sebagai social identity, yaitu kecenderungan manusia untuk membangun kedekatan emosional terhadap kelompok tertentu berdasarkan pengalaman, nilai, sejarah, budaya, atau bahkan hubungan imajinatif yang mereka rasakan.
Saya teringat sebuah peristiwa ketika menghadiri prosesi pemakaman keluarga di Desa Karama, Dusun Lambe. Saat itu kami sedang berduka atas wafatnya Om Basong Kamaru. Sebelum almarhum diantar ke tempat peristirahatan terakhirnya, keluarga besar berkumpul di rumah Tante Masni.
Sebagaimana lazimnya pertemuan keluarga di Mandar, percakapan mengalir ke berbagai arah. Ada yang membahas perkembangan desa, program pemerintah, pembangunan Koperasi Desa Merah Putih, program Makanan Bergizi Gratis, hingga berbagai dinamika sosial yang sedang berlangsung. Sesekali tawa pecah, membuat suasana kekeluargaan terasa hangat di tengah suasana duka.
Di sela-sela perbincangan itu, muncul pembahasan tentang Piala Dunia 2026 yang sudah di depan mata. Satu per satu mulai mengungkapkan tim unggulan masing-masing. Ada yang yakin Brasil akan berjaya, ada yang percaya Argentina mampu mempertahankan tradisi kuatnya, sementara yang lain mengunggulkan tim-tim Eropa.
Di tengah obrolan tersebut, salah seorang om bercerita sambil tertawa: “Diang solau andiangi tia melo’ mandukung tim lain kecuali Arab Saudi, alasanna apa’ luluare’ Sallang mi tia.”
Artinya: “Ada teman saya yang tidak mau mendukung tim lain selain Arab Saudi karena merasa sesama saudara seiman.”
Mendengar cerita itu, seluruh ruangan langsung dipenuhi gelak tawa. Namun cerita belum berhenti di situ. Om saya melanjutkan bahwa orang yang sama juga tidak mau mendukung Belanda.
“Andiangi tia melo’ mandukung Belanda, apa’ marakke’i mapparai bandera Belanda. Apa diolo’ andiang memangi melo’ tomawuweng mapparai bandera Belanda apa iya matteba’i kanne’-kanne na.”
Artinya: “Dia tidak mau mendukung Belanda karena takut memasang bendera Belanda. Dari dulu orang tuanya tidak pernah mau melihat bendera Belanda karena mengingat penjajahan dan penderitaan yang pernah dialami para leluhur.”
Kembali tawa pecah di antara kami. Namun setelah tertawa, saya justru melihat ada pelajaran menarik dari cerita sederhana tersebut.
Dalam kajian psikologi dan sosiologi, pengalaman sejarah yang diwariskan dari generasi ke generasi sering membentuk apa yang disebut sebagai memori kolektif. Memori kolektif adalah ingatan bersama suatu kelompok masyarakat terhadap peristiwa masa lalu yang kemudian mempengaruhi cara pandang mereka terhadap berbagai hal di masa kini.
Bagi sebagian masyarakat Indonesia, Belanda tidak hanya dipahami sebagai negara peserta sepak bola. Dalam memori sejarah, Belanda juga identik dengan masa kolonialisme yang berlangsung ratusan tahun. Walaupun generasi sekarang tidak mengalami langsung masa penjajahan, cerita-cerita yang diwariskan oleh orang tua dan kakek-nenek tetap membentuk persepsi emosional tertentu.
Demikian pula dengan dukungan kepada negara-negara tertentu yang dianggap memiliki kesamaan agama, budaya, atau kedekatan emosional lainnya. Secara psikologis, manusia cenderung merasa lebih dekat dengan kelompok yang dianggap memiliki identitas yang sama dengan dirinya.
Namun di sinilah pentingnya memahami olahraga secara proporsional.
Piala Dunia adalah ajang olahraga, bukan arena peperangan, bukan pula medan pertarungan ideologi, agama, atau sejarah masa lalu. Sepak bola modern mempertemukan bangsa-bangsa dalam semangat sportivitas, persahabatan, dan kompetisi yang sehat.
Karena itu, euforia Piala Dunia jangan sampai membuat kita “sesat” dalam memaknai dukungan. Mendukung tim tertentu adalah hak setiap orang. Namun dukungan tersebut sebaiknya didasarkan pada kecintaan terhadap permainan, apresiasi terhadap prestasi, atau sekadar kegembiraan menikmati olahraga.
Kita boleh mendukung Brasil, Argentina, Prancis, Spanyol, Belanda, Inggris, Portugal, Arab Saudi, Jepang, atau negara mana pun. Tetapi jangan sampai dukungan itu berubah menjadi kebencian terhadap pendukung tim lain. Jangan pula menjadikan sepak bola sebagai alasan untuk memutus persaudaraan, menimbulkan konflik, atau menyebarkan fanatisme yang berlebihan.
Pada akhirnya, yang paling indah dari Piala Dunia bukanlah siapa yang menang atau kalah. Yang paling indah adalah bagaimana jutaan manusia dari berbagai bangsa, agama, bahasa, budaya, dan warna kulit dapat menikmati pertandingan yang sama dalam suasana kegembiraan bersama.
Karena setelah peluit panjang dibunyikan dan juara telah ditentukan, yang tersisa bukanlah bendera yang berkibar, melainkan kenangan, persaudaraan, dan cerita-cerita sederhana yang akan terus hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Maka mari menikmati Uforia Piala Dunia 2026 dengan gembira, dengan sportivitas, dan dengan akal sehat. Dukung tim favoritmu, tetapi jangan sesat dalam memaknainya.
Mandar, 3 Juni 2026



