KOLOMMURSYID SYUKRI

Wattu Timor di Pamboang: Wajah Pamboang Pura Para’bue

“Bukan sekadar lagu, tetapi arsip ingatan kolektif masyarakat pesisir yang tersimpan dalam nada, bahasa, dan rasa.”

DI tengah perkembangan zaman yang semakin cepat, tidak banyak karya seni yang mampu bertahan sebagai penanda identitas suatu masyarakat. Namun bagi masyarakat Pamboang, lagu “Wattu Timor di Pamboang” karya almarhum H. Mas’ud Abdullah merupakan salah satu karya yang tidak hanya hidup dalam ingatan, tetapi juga terus diwariskan melalui cerita, pengalaman, dan kerinduan kolektif terhadap kampung halaman.

Secara harfiah, Wattu Timor di Pamboang berarti Saat Musim Timur di Pamboang. Akan tetapi, apabila dicermati lebih dalam, lagu ini sesungguhnya bukan hanya bercerita tentang pergantian musim. Lagu tersebut merekam wajah sosial, budaya, ekonomi, dan ekologi Pamboang pada masa lalu, ketika kehidupan masyarakat sangat bergantung pada ritme alam dan laut.

Dalam perspektif ilmiah, masyarakat pesisir merupakan komunitas yang memiliki hubungan erat dengan siklus musim. Di wilayah pesisir Mandar, khususnya Pamboang, musim timur yang berlangsung sekitar bulan Juni hingga awal September dikenal sebagai masa yang memberikan karakter tersendiri terhadap kehidupan masyarakat. Angin yang bertiup dari arah timur membawa perubahan cuaca, gelombang, pola tangkapan ikan, hingga aktivitas sosial masyarakat.

Pada masa itu, Pamboang yang membentang di sepanjang garis pantai, mulai dari Bonde (Luaor) hingga Sirindu, merupakan kawasan yang didominasi oleh keluarga nelayan. Kehidupan mereka berjalan mengikuti penanda waktu alam yang bahkan terekam dalam lirik lagu tersebut.

Ketika lagu menyebut: “Di Wattu Marrang Bulan…” yang dimaksud adalah waktu selepas salat Magrib hingga menjelang tengah malam. Pada rentang waktu inilah para nelayan mulai berangkat melaut. Mereka menembus gelap malam dengan perahu-perahu sederhana untuk mencari berbagai hasil laut seperti Ambu, cumi-cumi, dan berbagai jenis ikan dasar yang hidup di sekitar palung laut Pamboang.

Kemudian pada bait berikutnya disebut: “Di Mawaya-wayana…” yang menggambarkan suasana setelah salat Subuh hingga matahari mulai muncul di ufuk timur. Pada waktu inilah nelayan lain berangkat mencari ikan pelagis seperti cakalang, kakap merah, dan bambangang yang kemudian diolah menjadi ikan kering khas masyarakat pesisir.

Dari sudut pandang antropologi maritim, kebiasaan ini menunjukkan bagaimana masyarakat Pamboang membangun sistem pengetahuan lokal (local knowledge) berdasarkan pengalaman turun-temurun dalam membaca musim, arah angin, posisi bulan, dan perilaku ikan. Pengetahuan tersebut diwariskan bukan melalui buku, melainkan melalui praktik kehidupan sehari-hari dan karya budaya seperti lagu.

Namun, Wattu Timor di Pamboang tidak hanya berbicara tentang laut. Lagu ini juga merekam kemakmuran hasil bumi masyarakat Pamboang. Dalam salah satu baitnya disebutkan: “Pondang Loka Perena, Ta’lalomi Mammisna…” yang berarti: “Nenas dan pisang perenya, sungguh manis rasanya.”

Ungkapan sederhana ini sesungguhnya memiliki makna ekonomi dan ekologis yang mendalam. Pamboang sejak dahulu dikenal sebagai wilayah yang menghasilkan nanas dan pisang dengan cita rasa khas. Kesuburan tanah yang dipengaruhi kondisi geografis pesisir dan perbukitan menjadikan kedua komoditas tersebut sebagai identitas lokal yang melekat dalam memori masyarakat.

Secara ilmiah, makanan tradisional dan hasil pertanian lokal sering menjadi simbol identitas suatu daerah. Aroma, rasa, dan pengalaman mengonsumsinya akan membentuk apa yang disebut para ahli sebagai place attachment, yaitu keterikatan emosional seseorang terhadap tempat asalnya. Karena itulah banyak perantau Pamboang yang ketika mendengar lagu ini langsung teringat pada rasa manis Pondang dan Loka Pere yang pernah mereka nikmati pada masa kecil.

Puncak kenangan Wattu Timor sesungguhnya terjadi ketika memasuki akhir Juli hingga September. Pada masa inilah Pamboang berubah menjadi ruang sosial yang sangat hidup. Lapangan Betteng Pamboang di Galung-Galung, Kelurahan Lalampanu, menjadi pusat pertemuan masyarakat. Berbagai kegiatan Agustusan digelar secara meriah.

Pada siang hari berlangsung pertandingan sepak bola, slag ball, gerak jalan, pawai, dan berbagai perlombaan yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat, mulai dari taman kanak-kanak hingga orang dewasa.

Ketika malam tiba, suasana berubah menjadi panggung ekspresi budaya. Lomba baca puisi, parade puisi, qasidah rebana, vocal grup, hingga karaoke menjadi ruang bagi masyarakat untuk menunjukkan bakat dan kreativitasnya.

Dalam kajian sosiologi budaya, kegiatan seperti ini memiliki fungsi penting sebagai sarana memperkuat kohesi sosial atau ikatan kebersamaan masyarakat. Pertemuan rutin yang berlangsung setiap tahun menciptakan memori kolektif yang bertahan lintas generasi.

Karena itulah, bagi orang Pamboang, Agustus bukan hanya peringatan kemerdekaan Indonesia. Agustus adalah musim pulang.

Banyak perantau yang sengaja kembali ke kampung halaman hanya untuk merasakan kembali suasana yang pernah mereka alami sejak kecil. Mereka ingin kembali mendengar riuh lapangan Betteng, mencium aroma laut musim timur, menikmati hasil bumi kampung, dan menyapa wajah-wajah lama yang pernah menjadi bagian dari masa tumbuh mereka.

Cerita para tokoh masyarakat bahkan menyebutkan bahwa rangkaian kegiatan Agustusan yang terus dipertahankan dari generasi ke generasi memang sengaja dirancang oleh para tokoh budaya, tokoh pemuda, dan tokoh masyarakat sebagai cara untuk menjaga kenangan tentang Wattu Timor di Pamboang agar tidak hilang ditelan zaman.

Dengan demikian, lagu Wattu Timor di Pamboang dapat dipahami sebagai bentuk dokumentasi budaya yang sangat berharga. Ia merekam hubungan manusia dengan laut, hubungan masyarakat dengan tanahnya, serta hubungan generasi masa kini dengan sejarah kehidupan masa lalu.

Ketika lagu itu diperdengarkan, sesungguhnya yang hadir bukan hanya suara musik. Yang hadir adalah suara ombak di pantai Pamboang, cahaya bulan yang mengiringi nelayan berangkat melaut, aroma Pondang dan Loka Pere yang matang di kebun, riuh sorak Agustusan di Lapangan Betteng, dan kerinduan panjang para perantau terhadap kampung halamannya.

Karena itu, Wattu Timor di Pamboang bukan sekadar musim. Ia adalah identitas. Ia adalah memori. Ia adalah wajah Pamboang yang sesungguhnya Pura Para’Bue, Pamboang yang selalu mengundang anak-anaknya untuk pulang, mengenang, dan mencintai kembali tanah kelahirannya.

Mandar, 5 Juni 2026

MURSYID SYUKRI

Aktif dalam pergerakan seni budaya Mandar dan serius menghibahkan waktunya sebagai Ketua Sekolah Adat Adolang Pamboang

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
%d blogger menyukai ini: