GAGASANOPINI

Bunyi yang Membaca Masyarakat

Oleh: Muhammad Fadel*

DI tengah derasnya arus digital hari ini, musik hadir hampir di setiap ruang kehidupan. Ia mengiringi perjalanan, menjadi latar unggahan media sosial, membangun suasana dalam konten visual, bahkan menjadi penanda identitas bagi individu maupun kelompok. Namun di balik kelimpahan musik yang kita dengarkan setiap hari, muncul satu pertanyaan yang jarang diajukan: apakah yang sebenarnya kita dengar, musik atau kehidupan yang bersembunyi di balik bunyi itu?

Dalam perspektif etnomusikologi, musik bukan sekadar susunan nada yang membentuk harmoni. Musik adalah bagian dari kebudayaan. Sebagaimana dikemukakan oleh Alan P. Merriam dalam The Anthropology of Music, untuk memahami musik kita tidak cukup hanya mendengarkan bunyinya, tetapi juga perlu memahami manusia, perilaku, serta sistem nilai yang melahirkannya. Dengan kata lain, musik tidak berdiri sendiri. Ia selalu terhubung dengan masyarakat yang menciptakan, menggunakan, dan memaknainya.

Pemahaman ini membawa kita pada kesadaran bahwa bunyi sesungguhnya telah menjadi bagian dari kehidupan manusia jauh sebelum musik dipahami sebagai seni pertunjukan. Dalam berbagai masyarakat tradisional, bunyi berfungsi sebagai penanda waktu, sarana komunikasi, medium ritual, pengobatan, hingga perangkat untuk membangun hubungan dengan alam dan dunia spiritual. Bunyi bukan hanya sesuatu yang didengar, melainkan sesuatu yang dihidupi.

John Blacking dalam How Musical Is Man? bahkan menegaskan bahwa musikalitas merupakan bagian dari kemanusiaan itu sendiri. Musik tidak lahir dari instrumen, teknologi, atau teori, melainkan dari pengalaman manusia sebagai makhluk sosial. Oleh sebab itu, setiap masyarakat memiliki cara unik dalam mengorganisasi bunyi berdasarkan pengalaman hidup, lingkungan, serta pandangan dunianya masing-masing.
Dalam konteks ini, bunyi tidak hanya berfungsi sebagai objek estetika, tetapi juga sebagai pengetahuan.

Steven Feld menyebutnya sebagai acoustemology, yaitu cara mengetahui dunia melalui pengalaman mendengar. Konsep ini menunjukkan bahwa manusia sesungguhnya tidak hanya melihat lingkungannya, tetapi juga memahami dunia melalui bunyi. Suara ombak bagi masyarakat pesisir, desir angin bagi petani, suara hutan bagi masyarakat adat, atau denting alat kerja dalam kehidupan sehari-hari merupakan bentuk pengetahuan yang diwariskan dan dipelajari melalui pengalaman mendengar.
Sayangnya, kemampuan mendengar semacam ini perlahan mengalami pergeseran.

Industri budaya dan teknologi digital telah menciptakan pola konsumsi bunyi yang semakin seragam. Kita dibiasakan untuk memilih bunyi yang dianggap indah, nyaman, dan layak konsumsi, sementara bunyi-bunyi lain perlahan tersingkir dari ruang perhatian. Akibatnya, hubungan manusia dengan lingkungan akustiknya menjadi semakin terbatas.

Padahal, jika mengikuti pemikiran R. Murray Schafer tentang soundscape, dunia sesungguhnya merupakan lanskap bunyi yang terus berbicara kepada kita. Setiap ruang memiliki identitas akustiknya sendiri. Pasar tradisional, pelabuhan, persawahan, ruang ibadah, bahkan gang-gang kecil di perkotaan memiliki karakter bunyi yang berbeda. Bunyi-bunyi tersebut bukan sekadar latar kehidupan, melainkan arsip budaya yang menyimpan sejarah, kebiasaan, dan cara hidup masyarakat.
Dari sini muncul pertanyaan yang lebih kritis: apakah kita sudah adil terhadap bunyi?

Mengapa harmoni sering dianggap lebih bernilai daripada kebisingan? Mengapa bunyi yang terorganisasi disebut musik, sementara bunyi yang tidak sesuai dengan selera dominan dianggap gangguan? Jacques Attali dalam Noise: The Political Economy of Music menjelaskan bahwa setiap zaman memiliki cara tersendiri dalam mengatur bunyi. Apa yang disebut musik dan apa yang disebut kebisingan sesungguhnya merupakan hasil konstruksi sosial, politik, dan budaya. Dengan demikian, bunyi tidak pernah netral. Ia selalu berkaitan dengan relasi kuasa, selera, dan cara suatu masyarakat memandang dunia.

Mungkin karena itu, tugas mendengar hari ini bukan lagi sekadar mencari keindahan. Mendengar adalah upaya memahami keberagaman pengalaman hidup yang terkandung dalam setiap bunyi. Bunyi yang retak, kasar, tidak beraturan, atau bahkan dianggap bising sekalipun dapat menyimpan pengetahuan tentang perubahan lingkungan, dinamika sosial, dan perjalanan suatu kebudayaan.

Dalam banyak kosmologi masyarakat Nusantara, bunyi bahkan dipandang sebagai bagian dari hubungan antara manusia dan alam semesta. Bunyi tidak hanya menghubungkan manusia dengan sesamanya, tetapi juga dengan alam, leluhur, dan ruang spiritual yang lebih luas. Ia menjadi medium untuk membaca tanda-tanda kehidupan, memahami ritme alam, serta merawat keseimbangan antara dunia manusia dan dunia yang melingkupinya.

Karena itu, mendengar sesungguhnya adalah praktik kepekaan. Bukan hanya peka terhadap suara, tetapi peka terhadap perubahan zaman, terhadap lingkungan yang kita tempati, terhadap ingatan yang diwariskan oleh generasi sebelumnya, dan terhadap kemungkinan masa depan yang sedang dibentuk hari ini.

Pada akhirnya, musik bukan hanya tentang apa yang berbunyi. Musik adalah cara masyarakat memahami dirinya sendiri. Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin riuh, tantangan terbesar kita bukanlah menciptakan lebih banyak bunyi, melainkan belajar mendengarkan kembali apa yang selama ini telah berbicara di sekitar kita. Sebab setiap bunyi menyimpan cerita, dan setiap cerita adalah cara lain untuk membaca kehidupan.


*Penulis: Muhammad Fadel, Akademisi dan praktisi musik etnis

REDAKSI

Koran Online TAYANG9.COM - "Menulis Gagasan, Mencatat Peristiwa" Boyang Nol Pitu Berkat Pesona Polewali Sulbar. Email: sureltayang9@gmail.com Gawai: +62 852-5395-5557

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
%d blogger menyukai ini: