GAGASANOPINI

Mendengar Lebih dari Sekadar Musik

Oleh: Muhammad Fadel*

KITA hidup di zaman ketika musik hampir tidak pernah benar-benar pergi dari kehidupan. Ia hadir di earphone saat perjalanan, menjadi latar video pendek di media sosial, mengiringi kerja, menemani kesepian, bahkan ikut membentuk cara kita mengingat sebuah peristiwa. Musik seolah menjadi bahasa yang paling mudah dipahami tanpa harus selalu dijelaskan. Namun di tengah banjir bunyi yang terus mengelilingi kita, pernahkah kita bertanya: apakah kita benar-benar masih mendengarkan?

Sebagai generasi yang lahir dan tumbuh di era digital, saya melihat musik tidak lagi hanya sebagai karya yang dinikmati, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem sosial yang membentuk cara kita berinteraksi dengan dunia. Setiap hari kita mengonsumsi ribuan bunyi, tetapi tidak semua bunyi mendapatkan ruang yang sama untuk didengar. Ada bunyi yang dianggap indah, layak diputar berulang kali, masuk tangga lagu, dan menjadi tren. Sebaliknya, ada bunyi yang dianggap gangguan, bising, tidak musikal, atau bahkan tidak penting. Padahal jika ditarik lebih jauh, sejarah manusia justru dibangun dari kedekatan dengan bunyi-bunyi semacam itu.

Sebelum musik menjadi industri, bunyi telah lebih dahulu menjadi bagian dari kehidupan. Ia hadir dalam ritual, doa, pengobatan, penanda musim, komunikasi antarkelompok, hingga cara manusia membaca alam. Dalam banyak kebudayaan Nusantara, bunyi bukan sekadar hiburan, melainkan pengetahuan. Ia menjadi medium untuk memahami hubungan antara manusia, lingkungan, dan sesuatu yang berada di luar dirinya.

Persoalannya, hari ini cara kita mendengar sering kali dibentuk oleh mekanisme yang tidak sepenuhnya kita sadari. Platform digital, industri hiburan, algoritma, dan tren secara perlahan mengarahkan selera kita terhadap bunyi tertentu. Apa yang dianggap enak didengar sering kali merupakan hasil dari kebiasaan mendengar yang terus diulang. Dalam konteks ini, kritik Adorno tentang industri budaya menjadi menarik untuk dibaca kembali. Ia mengingatkan bahwa ketika seni terlalu tunduk pada logika pasar, pengalaman mendengar berisiko berubah menjadi aktivitas konsumsi semata.

Karena itu, saya tertarik melihat musik bukan hanya sebagai objek estetika, tetapi sebagai praktik mendengar. Sebuah upaya untuk kembali membuka telinga terhadap hal-hal yang selama ini berada di pinggir perhatian. Bunyi ombak yang berulang, suara pasar yang riuh, gesekan bambu, dengung mesin, percakapan yang saling bersahutan, atau bahkan keheningan yang muncul di antara dua suara. Semua itu menyimpan informasi tentang ruang, waktu, dan kehidupan sosial yang sedang berlangsung.

Pemikiran R. Murray Schafer tentang soundscape menawarkan cara pandang yang menarik dalam hal ini. Ia mengajak kita memahami dunia sebagai lanskap bunyi. Artinya, lingkungan tidak hanya dapat dilihat, tetapi juga didengar. Setiap ruang memiliki identitas akustiknya sendiri. Setiap bunyi membawa cerita tentang siapa yang hidup di sana, bagaimana mereka bekerja, berinteraksi, dan membangun kebudayaan.

Di sisi lain, psikologi akustik menjelaskan bahwa mendengar bukanlah proses yang netral. Apa yang kita dengar selalu dipengaruhi oleh pengalaman, ingatan, emosi, dan latar budaya. Karena itu, bunyi tidak pernah hanya soal frekuensi atau gelombang suara. Bunyi adalah pengalaman. Ia hidup di dalam tubuh, memori, dan kesadaran kita.

Mungkin karena itulah saya percaya bahwa tugas mendengar hari ini bukan hanya mencari harmoni. Kadang-kadang justru dengan mendengarkan bunyi yang dianggap asing, tidak teratur, atau bahkan tidak nyaman, kita dapat menemukan cara baru untuk memahami dunia. Sebab kepekaan terhadap bunyi pada akhirnya bukan hanya tentang musik. Ia adalah latihan membaca tanda-tanda kehidupan.

Mendengar adalah cara mengenali perubahan cuaca sebelum hujan turun. Mendengar adalah cara memahami suasana sebuah kampung tanpa harus melihatnya. Mendengar adalah cara merasakan kehadiran orang lain, merawat ingatan, dan menyadari bahwa kita hidup bersama banyak suara yang saling berkelindan.

Maka ketika berbicara tentang musik, mungkin yang sedang kita bicarakan bukan sekadar karya yang tersusun dari nada dan ritme. Kita sedang membicarakan cara manusia membangun hubungan dengan sesamanya, dengan alam, dan dengan kosmos yang lebih luas. Sebab di balik setiap bunyi, selalu ada kehidupan yang sedang berbicara. Dan barangkali, tugas kita bukan hanya menciptakan suara, melainkan belajar mendengarkannya kembali.


*Penulis: Muhammad Fadel, Akademisi dan praktisi musik etnis

REDAKSI

Koran Online TAYANG9.COM - "Menulis Gagasan, Mencatat Peristiwa" Boyang Nol Pitu Berkat Pesona Polewali Sulbar. Email: sureltayang9@gmail.com Gawai: +62 852-5395-5557

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
%d blogger menyukai ini: