GAGASANOPINI

Masihkah Annangguru Menjadi Poros Utama dalam Masyarakat?

Catatan dari Bazar dan Diskusi Alumni Ponpes As-Salafi Parappe

“Ulama adalah pewaris Nabi sesuai riwayat hadits, kapanpun dan dimanapun itu di tanah Mandar ulama mempososikan perannya sebagai pelanjut Rasulullah. Posisi Nabi dalam kajian sosiologi punya peran sentral dan menjadi poros utama di dalam masyarakat”, ungkap Annangguru Habib Ahmad Fadhl Al Mahdali yang mengambil tema Peran Annangguru di tanah Mandar, dalam diskusi yang diadakan oleh Alumni Pondok Pesantren (Ponpes) As-Salafi, Sabtu 28 Agustus 2021 di Cafe Rezky Desa Baru Kecamatan Luyo.

Acara yang juga dihadiri Ustadz Subhan Hawaya yang mengangkat tema “Eksistensi Annagguru K.H. Abd Latif Busyra” dan Ustadz milenial Syarif dengan tema “Annangguru Towaine” serta dipandu oleh Ustadz Arief seorang akademisi hebat, yang kini ingin fokus menulis penuturan Habib Ahmad Fadhl Al-Mahdaly itu, Annangguru Saiyye’ Fahdlu melanjutkan;

“Hebatnya, tidak satupun hajat hidup orang Mandar yang tidak dilaporkan ke ulama. Orang Mandar menyebutnya “Annangguru”. Baik itu mappakedde’ boyang (membangun rumah-red) pergi merantau, pernikahan, mantandajari (penentuan hari pernikahan-red) bahkan bercocok tanam masyarakat minta pandangan dan berkah kepada Annangguru”.

Hari ini interaksi batin itu pelan meraib, masyarakat dan Annangguru kini terkesan tidak lagi saling mempercayai. Pandangan masyarakat kepada ulama hari ini mengarah pada hal-hal yang tidak layak. Katakanlah berbau duniawi. Tidak menempatkannya sebagai pelayan masyarakat. Akhirnya belakangan, gelar ustadz terkesan sudah menjadi profesi. Kebanyakan hari ini, ustadz hidup di situ. Sehingga menjadi beban masyarakat. Padahal dakwah mestinya yang menggaji adalah langit bukan formulir.

Dulu, masyarakat total taat kepada Annangguru. Sebagaimana kisah seorang pelaut. Dia tidak meminta macam-macam, ia hanya meminta berkah Annangguru sebagai bekal di tengah samudera.

Bahkan juga dikisahkan kembali, ihwal Puang Lero yang tidak basah diguyuran air hujan. Lalu suatu ketika, sang pengawal Puang Lero itu minta bajunya. Puang Lero bilang; “nanti saya ambilkan baju baru atau do’a sakti”. Tetapi ternyata, pengawal Puang Lero tidak menginginkan itu semua. Ia hanya mau, baju yang dipake Puang Lero saat itu. Hasilnya memang Bismillah, kemana-mana ketika pake baju itu, pengawal itu pun tidak basah saat berada di bawah guyur hujan.

Anehnya, orang barat menganggap hubungan antara kiai dan murid sebagai penjajahan. Sebab apapun yang dikatakan gurunya pasti sami’na wa atha’na. Mereka, orang barat mungkin tidak tahu, bahwa berkah Annangguru bisa menguatkan batin kita. Seperti ulama yang memposisikan dirinya sebagai Rasulullah di tengah-tengah masyarakat. Kenapa Nabi populer dan sukses membangun peradaban? Sebab Nabi selalu berada di tengah-tengah ketidakadilan dan penindasan. Nabi hadir dan selalu berposisi sebagai pelayan bagi masyarakat, utamanya mereka yang menjadi objek ketidakadilan dan penindasan.

Imam Lapeo juga pernah memborong beras satu perahu. Kadang-kadang tidak cukup uangnya, Imam Lapeo bahkan berhutang. Semua beras itu diberikan kepada masyarakat. Selain menjadi guru spritual, Annangguru juga mengayomi masyarakat. Annangguru dan masyarakatnya sama-sama total sehingga ada bahasa, “Silambi’ atena Annangguru anna atena pakkappung“.

Pelaut ketika ingin berlayar Annangguru bilang: “Coba pandangi itu khatamun nubuwwah. Setelah memandangi beberapa saat, baru ia berangkat. Perilaku masyarakat ini persis di kitab Ta’lim wa Muta’allim. Masyarakat bersikap seperti santri beradab kepada gurunya.

Masyarakat butuh sosok yang hadir di tengah-tengah mereka, untuk menyiram ruang kalbunya. Mesti ada guru yang harus hidup di masyarakat, selain ada juga guru yang terikat formalitas pesantren yang bergerak dalam kurikulum dan sistematika pendidikan Ponpes. Cucu Imam Lapeo, Syarifuddin Muhsin pernah berkata; “orang Jawa mengirim anaknya pendidikan formal. Dulu di Mandar anaknya ke rumah-rumah guru, lalu balik lagi ke rumah masing-masing mengaji bersama anak-anak, bermain di alam serta bergaul dengan masyarakat.

Istilah Jawa dikenal dengan nama “Santri Kalong” khidmat kepada guru, adalah berkah untuk kehidupan dan keilmuan. Namun khidmat kepada masyarakat juga keberkahan untuk solidaritas dan cinta. Kedua-duanya seimbang, sehingga santri dulu selain mumpuni dalam keilmuan, juga tegak dalam pengabdian masyarakat. Pemahaman agamanya tidak kaku ketika bergesekan dengan tradisi dan hukum yang tumbuh di tengah masyarakat.

Pemahaman agama masyarakat merupakan aplikasi cinta sebagai realisasi akhlak. Mereka memang tidak punya metodologi ilmu yang njelimet, namun ketika anda bertemu di jalan, dan sedang berkendara motor, orang tua sendiri memikul beban, mereka pasti bergeser ke pinggir dan berkata; “Mai Tau Kabe” (mari silahkan nak-red). Padahal kondisi menuntut, mestinya kita yang bergeser, sebab dengan kendaraan bermotor, anak muda lagi, dibanding mereka yang sudah renta dan memikul beban berat. Menurut orang tua kampung, tidak perlu ada dalil untuk berbuat sopan dan baik kepada sesama, terlebih kepada orang yang dituakan.

Ketika Anregurutta Sanusi Baco ditanya tentang apa itu Islam Nusantara? Beliau menjawab; Islam Nusantara simple dan tidak njelimet, yaitu ketika anda datang bergotong-royong dan bekerjasama dengan sanak keluarga, tetangga dan masyarakat. Kalau Mandar, mua’ diang tomate ta’ bergabunglah, mua’ diang pappasiala bergabunglah, mua’ diang tomareso bantulah, mua diang paakke boyang terlibatlah, mua’ diang kerja bakti, nimbrunglah. Sebisa mungkin melibatkan diri dalam semua aktivitas masyarakat.

Luyo, 28 Agustus 2021

FARHAM RAHMAT

Alumni Hukum IAI Al-Aqidah Al-Hasyimiyyah Jakarta Timur aktif penulis juga dalam pengembangan skill membaca naskah lontara. Juga Alumni SKPB Akbar Tandjung Institute. Kini nyantri di Mejelis Shalawat Simpang M. dan didaulat sebagai Ketua Zain Office serta editor di katalogika.com. Kini dirinya tercatat sebagai pemuda pelopor literasi digital Kabupaten Polewali Mandar

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button