Minggu , Juni 7 2020
Home / GAGASAN / Keadilan Versi Jelata
ILUSTRASI Kolom Keadilan Versi Jelata (int)

Keadilan Versi Jelata

“Keadilan jadi barang sukar, ketika hukum hanya tegak pada yang bayar,” Najwa Sihab

REFORMASI seperti tak memiliki dampak pada jelata. Dari kasus pengamen Cipulir korban salah tangkap yang berakhir dengan tuntutan ganti ruginya yang ditolak oleh hakim, selanjutnya Lutfi pelajar STM saat aksi unjuk rasa penolakan RUU KUHP dan RUU KPK yang ditangkap dan didakwa merusak fasilitas umum bahkan mengaku mengalami penyiksaan saat diproses oleh pihak yg berwajib.

Belum lagi kasus pelajar korban begal asal Malang yang dituduh melakukan pembunuhan berencana hingga diancam hukuman seumur hidup. Setelahnya ada kakek Samirin yang divonis 2 bulan 4 hari karena memungut sisa getah karet milik perusahaan yang nilainya hanya Rp. 17.500.



Hingga korban tabrak lari Ammar pengguna skuter listrik yang tewas dan beberapa temannya luka-luka ditabrak mobil Camry yang dikendarai oleh anak anggota DPD RI sampai saat ini masih berkeliaran bebas.

Semua ini seakan mencerminkan bagaimana keadilan versi jelata. Bukankah hukum dan moral merupakan dua entitas yang bertujuan mencapai keadilan. Atau tidakkah kita percaya pada asas equality before the law bahwa semua orang sama di hadapan hukum tanpa pandang bulu.

Akan tetapi melihat realita bahwa hukum bak pisau “tajam ke bawah tumpul ke atas”, pepatah lama yang tak lekang oleh waktu. Hukum yang terkesan tebang pilih membuat rakyat hampir tak percaya pada hukum.

Yang pasti ditengah semua narasi di atas rasanya tidak ada salahnya kalau kita merindukan Baharuddin Lopa untuk bisa hadir kembali menemani kita, sama belajar bagaimana hukum mesti diperlakukan di negeri yang semoga masih tetap beradab ini.

About NUR FITRAH

Lahir 11 Mei di Majene, Bumi Assamalewuang. Sempat nyantri di Ponpes Moderen Al Ikhlas Lampoko Campalagian. Menyelesaikan Pasca Sarjana Hukum di UMI Makassar. Selain ketua Prodi Pemerintah di Unasman, dirinya juga dikenal aktif dalam beragam diskusi dan lembaga pemberdayaan masyarakat

Check Also

Covid-19, BLT DD dan Sejumlah Soal Atasnya

MENGUTIP lirik lagu Peterpan “ada apa denganmu” rasanya menjadi tepat jika dikaitkan dengan fakta pandemi …

Kisah Tonggo, Pepa’ dan Ringis

TAYANG9– Suatu waktu, ada tiga sahabat yang pergi ke Gunung, namanya Pepa’, Tonggo dan Ringis. …

One comment

  1. Perkara Keadilan memang sangat menggelitik ditelinga, dan menarik untk dijadikan coretan didinding maya seperti tulisan ibu Nur Fitrah, Kisah dri berbagai kasus Keadilan tentunya akan membuka pikiran kita..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

KACO Siang itu, Kaco sala pa'dutang, tidak ada yang bisa dilakukan selain mamurrus. Dalam kecepatan 180 perjam, Kaco terpaksa ma'ondongngi appang bassi siola bala beke. Cicci yang menyaksikan itu hanya bisa tertawa terbahak. Belum selesai Cicci tertawa melihat kelakuan Kaco, Cicci juga kemudian mengangkat daster dan lari tunggang langgang. Jingkang dan meloncati petawung anna passukkeang. Cicci pikir Kaco lari karena dikejar anjing gila. Ternyata belakangan Cicci tahu kalau ternyata Kaco mamurrus karena hendak menuju pappelembangan karena nalulang setelah manggasa' kaweni pagi tadi.”.[yat teha]