Senin , April 6 2020
Home / GAGASAN / Hidup Mati KPK
ILUSTRASI Kolom Hidup Mati KPK (int)

Hidup Mati KPK

“Sistem yang dibangun adalah untuk mencari keadilan bukan untuk balas dendam” [Pete Gallego Politisi Amerika]

BIARLAH tulisan ini beranjak dari maraknya diskusi diseputar revisi Undang-undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuat seluruh lapisan masyarakat seakan ikut membincangkannya. Beberapa poin kontroversial RUU KPK yang menjadi sorotan masyarakat itu, jika dicatatkan diantaranya, KPK menjadi lembaga pemerintah.

Dan yang kedua, penyadapan wajib seizin Dewan Pengawas yang pembentukannya ditentukan oleh DPR. Sedang yang ketiga, KPK bersinergi dengan penegak hukum lainnya seperti Kejaksaan dan Polri. Sampai disini, KPK pada akhirnya harus berkoordinasi dengan Kejaksaan Agung untuk lakukan penuntutan.

Keempat, tiap instansi, kementerian dan lembaga wajib kelola LHKPN yang semula pelaporan serta pemeriksaan  dikelola oleh KPK. Kelima, KPK diawasi oleh Dewan Pengawas, sehingga dari situ disinyalir akan syarat dengan intervensi DPR melalui Dewan Pengawas itu.

Yang keenam, kasus yang menjadi perhatian dan meresahkan masyarakat tidak lagi jadi syarat pengusutan. Artinya KPK tidak ditakutkan tidak akan lagi menangani kasus-kasus  besar yang sedang jadi pembicaraan publik.

Sampai disini, hemat penulis, dengan adanya RUU KPK akan menambah catatan kekecewaan masyarakat terhadap kinerja DPR yang seolah ingin menyelamatkan para koruptor dan melemahkan kalau keliru menyebut melumpuhkan bahkan membunuh semangat KPK.

About NUR FITRAH

Lahir 11 Mei di Majene, Bumi Assamalewuang. Sempat nyantri di Ponpes Moderen Al Ikhlas Lampoko Campalagian. Menyelesaikan Pasca Sarjana Hukum di UMI Makassar. Selain ketua Prodi Pemerintah di Unasman, dirinya juga dikenal aktif dalam beragam diskusi dan lembaga pemberdayaan masyarakat

Check Also

Yus Yunus Meninggal Siapa yang Salah

SETIAP insan manusia tidak akan pernah terlepas dari takdir Tuhan yakni menghadap ke Sang Halik. …

Dimanakah Hati Nurani ?

Catatan atas Tragedi Kemanusiaan Warga Polman di Papua.  SEBUAH kabar duka datang menyelimuti udara di …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

KACO Siang itu, Kaco sala pa'dutang, tidak ada yang bisa dilakukan selain mamurrus. Dalam kecepatan 180 perjam, Kaco terpaksa ma'ondongngi appang bassi siola bala beke. Cicci yang menyaksikan itu hanya bisa tertawa terbahak. Belum selesai Cicci tertawa melihat kelakuan Kaco, Cicci juga kemudian mengangkat daster dan lari tunggang langgang. Jingkang dan meloncati petawung anna passukkeang. Cicci pikir Kaco lari karena dikejar anjing gila. Ternyata belakangan Cicci tahu kalau ternyata Kaco mamurrus karena hendak menuju pappelembangan karena nalulang setelah manggasa' kaweni pagi tadi.”.[yat teha]