Selasa , Agustus 4 2020
Home / GAGASAN / Mbah Moen, Merah Putih dan Keberadaban Kita
Syaikhona KH. Maimun Zubair (Internet)

Mbah Moen, Merah Putih dan Keberadaban Kita

TUJUH belas agustus tahun 2019 yang sebentar lagi akan diperingati oleh seluruh anak banga di negeri ini setelah tiba di usia yang ke tujuh puluh empat tahun. Makna usia tujuh puluh empat adalah usia yang telah begitu matang.

Matang untuk sebuah upaya membangun peradaban bangsa yang besar dan beradab sebagaimana yang dicita-citakan oleh para pendiri bangsa ini. Namun dalam bulan kemerdekaan ini kita dikagetkan oleh berpulangnya Syaikhona KH. Maimun Zubair atau yang karib disapa Mbah Moen.

Ya, sang sepuh yang juga teladan bagi semua kalangan itu telah meninggalkan kita pada Selasa pagi, enam Agustus 2019. Ada banyak pihak yang tak mampu berkata-kata selain mata yang berkaca-kaca begitu mengetahui berita berpulangnya sang teladan bangsa itu. Tidak terkecuali oleh penulis catatan ini.



Tangis tumpah, setelah ia kembali ke Yang Maha Cinta yang dalam keyakinan penulis, juga karena cintalah Mbah Moen dipanggil untuk menemuinya ditengah dirinya dalam perjalanan kesucian cinta di tanah haram itu. Ia meninggalkan para pecintanya untuk menemui dzat yang begitu ia cintai. Tapi betulkah dirinya telah meninggalkan kita yang begitu mencintainya ini?

Rasa-rasanya tidak, tersebab sehari setelah idul adha, saya menulis catatan ini sesaat setelah melaksanakan apel di pagi senin bersama tiga orang anggota ansor yang juga banser. Apel yang membuat saya menatap bendera merah putih di depan kantor tempat penulis bekerja. Tatapan saya lamur oleh air mata, tersebab ingatan dan mata saya segera berpindah pada photo Mbah Moen yang berseliweran di internet yang mengenakan kopiah berbalut merah putih.

Dan begitu usai apel pagi ini, akhirnya air mata ini pulalah yang membuat penulis tergerak untuk menulis catatan tentang ini semua, sebuah catatan yang bagi pembaca, boleh jadi memang tidak penting untuk dibaca. Sebuah narasi yang tidak pernah penting untuk dibaca ditengah peradaban yang telah begitu gombal dan moderen bahkan telah sampai pada era post kemoderenan.



Tentu saja penulis menulis catatan ini, ditemani tembang sa’duna fiddunya sebagai qasidah yang konon juga adalah tembang kesukaan Mbah Moen. Dan kepadamu Mbah Moen, kami memohon, ijinkan kami, di hari H tujuh belas agustus yang sisa dalam hitungan lima hari ke depan, kami merayakannya bersama tangis duka kepergianmu yang kami yakini amat sangat mencinta bangsa dan anak bangsa ini.

Sebagai anak sah negeri ini, biarlah kami mencoba meniti jalan batin kebaikanmu pada sesama dan khususon kepada negeri dan bangsa ini. Hingga kelak kami bisa serius menjadi anak negeri yang beradab. Dan semoga frekuensi kecintaan kami terkoneksi baik dengan frekuensi cintamu kepada sang Maha Cinta. Hingga kami pandai pula menjadi santrimu yang khatam dengan ilmu mensyukuri kebaikan bumi pertiwi tempat kami berpijak ini. Wallahu a’lam bissawab.

About MESA IYAT

belajar membaca dan menulis juga pembelajar di kehidupan

Check Also

Apresiasi Terhadap Buku “Tuhan Lagi Ngapain?”

BEREDARNYA kabar tentang terbitnya buku “Tuhan Lagi Ngapain; Sapaan Seorang Hamba pada Tuhannya” di media …

Pagi, Rinai dan Kopi

IA jatuh dari langit dan itu air hujan namanya, sekaligus rejeki bagi semua yang ada …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

KACO Siang itu, Kaco sala pa'dutang, tidak ada yang bisa dilakukan selain mamurrus. Dalam kecepatan 180 perjam, Kaco terpaksa ma'ondongngi appang bassi siola bala beke. Cicci yang menyaksikan itu hanya bisa tertawa terbahak. Belum selesai Cicci tertawa melihat kelakuan Kaco, Cicci juga kemudian mengangkat daster dan lari tunggang langgang. Jingkang dan meloncati petawung anna passukkeang. Cicci pikir Kaco lari karena dikejar anjing gila. Ternyata belakangan Cicci tahu kalau ternyata Kaco mamurrus karena hendak menuju pappelembangan karena nalulang setelah manggasa' kaweni pagi tadi.”.[yat teha]