BERITASOSOK

Bahas Ekoteologi, Menteri Agama Kutip Prof. Baharuddin Lopa

Menteri Agama, Prof. Nasaruddin Umar Mengutip Disertasi Prof. Lopa di Depan Ribuan Pengawas Madrasah Se-Indonesia

Bandung, Tayang9—Menteri Agama, Nasaruddin Umar mengutip disertasi alm. Baharuddin Lopa (Sulbar), yang menyatakan bahwa pelaut-pelaut dari Mandar mampu membangun komunikasi dengan laut.

Salah satu contohnya, di saat mereka hendak berlayar, dan ingin mengetahui kondisi cuaca, mereka cukup ke pantai, lalu mencelupkan kakinya sampai lutut, atau membaca warna air dan arah mata angin.

Dari epistemologi itu, mereka bisa mengerti apa pesan laut, seperti cuaca buruk, gelombang tinggi, badai hujan, bahkan ikan melimpah atau tidaknya dalam titik lokasi di samudera. Mereka sepertinya sudah mampu mengakses kompas alam.

Prof Nasaruddin Umar merekomendasikan untuk membaca disertasi Prof. Baharuddin Lopa, dijelaskan bahwa nelayan Mandar sebelum melaut, mereka menenggelamkan kakinya ke laut sampai lutut. Mereka membaca alam dan saling berinteraksi. Ada waktu kapan akan berangkat, ada waktu untuk tidak melaut.

Sebelum era modern, Masyarakat Mandar berinteraksi dengan alam dengan pengetahuan unik. Justru alam itu yang membuka dirinya kepada mereka. Ritual “Mappande Sasi” bukan untuk menyembah laut, tetapi mengadakan acara persahabatan dengan laut,” itu dikatakan Menteri Agama di beberapa pertemuan (IAKN Toraja, STAIN Majene, dan Silatnas ke-IV Munas III Pengawas Madrasah Tingkat Nasional).

Terkait hal itu, alm. Jenderal Salim S. Mengga juga pernah mengatakan bahwa orang Mandar, termasuk suku pelaut. Mereka melaut hanya menggunakan layar kapal sederhana, bisa membaca warna warni air, untuk memastikan ada tidaknya karang, atau kedalaman laut.

Kemampuan leluhur orang mandar sebagai pelaut tersebut tidak didapatkan begitu saja. Hal itu terjadi karena hubungan antara alam dan manusia tercipta harmonis. Mereka menghormati laut, dan laut pun menghormati manusia.

Dituturkan kembali, Ketua BPP-KKMSB, Muhammad Zain yang juga ikut mendengar pidato Menteri Agama, Prof. Nasaruddin Umar. Bahwa perilaku Agama para leluhur kita di Mandar menggunakan rasa, mereka bersahabat bahkan berkomunikasi dengan alam.

Mereka hidup dengan stabil tidak butuh peralatan modern. Terkadang pendekatan ilmiah seringkali dikibuli oleh alam. Itulah mengapa, manusia selalu ingin mencoba menyingkap alam, namun alam tidak membuka dirinya sebagaimana alam.

Mengutip buku Silent Spring karya Rachel Carson, Muhammad Zain menerangkan keseimbangan alam yang tidak diukur dengan keadaan yang konstan, ia selalu dinamis, berubah dan terus menyesuaikan diri. Manusia juga merupakan bagian dari keseimbangan itu.

Karen Amstrong, dalam Sacred Nature, menyatakan bahwa langit dan bumi adalah kosmos yang mencakup dunia material. Makhluk beserta segala sesuatu yang ada di dalamnya hanyalah proses tahapan dalam penciptaan Tuhan. Dari-Nya sumber kekuatan berasal yang menyatukan segala sesuatu.

Tuhan menjadikan semesta terus menghasilkan kehidupan demi kehidupan tanpa henti, sekaligus mempertahankan keberadaannya. Setiap hal yang ada memperoleh kehidupan dari sang Maha Kreatif yang selalu menciptakan kebaruan.

Namun, Tuhan bukanlah kekuatan eksternal yang kerap kali memaksa, atau mengendalikan dari luar. Uniknya, justru alam semesta dan segala isinya adalah Tuhan, atau Dao (dalam sebutan Taoisme). Sebab itu, Dao merupakan “de” yaitu hakikat atau sifat alami dari setiap makhluk. Dengan demikian, setiap sesuatu di dunia—baik hewan, tumbuhan, maupun mineral—terwujud dari Yang Satu, mewujudkan Yang Satu dengan caranya yang unik.

Mirip konsep wihdah al-Wujud dalam tasawuf Ibnu Arabi. Segala sesuatu tidak berpusat pada dirinya sendiri. Masing-masing eksistensi ditampakkan (Tajalliyat) dari diri Tuhan, lalu mewujud dalam suatu lingkungan di mana ia berinteraksi secara harmonis dengan semua makhluk lain di sekitarnya.

Epistemologi para leluhur Mandar bersumber dari kesadaran diri yang mendalam itu. Semakin mereka menyelam ke dalam diri, semakin sadar bahwa semesta hakikatnya Satu, bersumber dari yang Satu. Tidak hanya itu, mereka memahami bahwa segala daya kekuatan, ilmu pengetahuan dan kesadaran dirinya juga bersumber dari Yang Satu.

Dalam bahasa sederhananya begini, jika memang pelaut-pelaut Mandar mampu menyingkap alam tanpa bantuan alat modern, saksikanlah bahwa ada kedekatan Tuhan kepada manusia. Semakin ia dekat semakin ia memperoleh pengetahuan tingkat tinggi.

Dasar kedekatan itulah, Tuhan memberi pengetahuan kepada manusia untuk mengakses alam, dalam waktu yang sama, juga memberi izin kepada alam untuk membuka dirinya kepada manusia. Baik manusia maupun alam, semuanya tunduk kepada Dzat Yang Maha Tunggal.

Dalam pemaknaan lain, Ekoteologi adalah semakin manusia dekat dengan Tuhannya, semakin ia mampu mengakses alam dengan pengetahuan dari Tuhan. Sebab hanya sang kekasihlah yang mendapatkan akses***

Wallahu A’la Bis-Shawab

FARHAM RAHMAT

Alumnus Hukum IAI Al-Aqidah Al-Hasyimiyyah Jakarta Timur dan Pascasarjana UIN Alauddin Makassar. selain aktif sebagai blogger juga aktif dalam pengembangan skill bahasa Inggris dan Arab serta serius nyantri di Majelis Sholawat Simpang M. Ketua Zain Office ini juga dipercaya sebagai editor di media katalogika.com, serta tercatat sebagai pemuda pelopor literasi digital Polewali Mandar

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
%d blogger menyukai ini: