KOLOMMURSYID SYUKRI

Menanamkan Nilai Luhur Mala’bi’

Menjaga Martabat, Silaturahmi, dan Jati Diri dalam Kehidupan Masyarakat Mandar

SALAH satu kekayaan terbesar yang diwariskan oleh para leluhur Mandar kepada generasi penerus bukanlah harta benda, jabatan, atau kebangsawanan semata, melainkan nilai-nilai luhur yang membentuk kepribadian manusia. Nilai itu dikenal dalam budaya Mandar sebagai Mala’bi’, sebuah konsep yang mengandung makna kemuliaan, kehormatan, kepatutan, dan keluhuran budi pekerti.

Mala’bi’ bukan sekadar simbol kebesaran adat, tetapi merupakan cerminan cara berpikir, cara bersikap, dan cara memperlakukan sesama manusia dalam kehidupan sehari-hari.

Sejak kecil, orang tua dahulu telah menanamkan nilai-nilai tersebut melalui nasihat sederhana namun sarat makna. Salah satu pesan yang sering disampaikan adalah:

“Kabe’ issang le’ba’i nisangana nawang.”

Artinya:

“Wahai anakku, mestinya kita tahu diri.”

Sekilas nasihat ini terdengar sederhana, namun sesungguhnya mengandung filosofi sosial yang sangat mendalam. “Tahu diri” dalam pandangan budaya Mandar bukan berarti rendah diri atau merasa tidak mampu, melainkan memahami posisi diri dalam kehidupan sosial, memahami hak dan kewajiban, serta mampu menempatkan diri secara bijaksana dalam berinteraksi dengan orang lain.

Dalam ilmu psikologi sosial, kemampuan memahami posisi diri disebut sebagai self-awareness atau kesadaran diri. Kesadaran diri merupakan salah satu indikator kedewasaan emosional seseorang. Orang yang memiliki kesadaran diri akan lebih mudah menghargai orang lain, mampu mengendalikan ego, serta memahami dampak perilakunya terhadap lingkungan sekitar.

Karena itu, para orang tua Mandar mengajarkan bahwa apabila kita menginginkan perlakuan yang baik dari orang lain, maka terlebih dahulu kita harus memperlakukan mereka dengan baik.

Prinsip ini sesungguhnya sejalan dengan nilai universal yang dikenal hampir di seluruh peradaban dunia, yaitu memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan.

Dalam budaya Mandar, nilai tersebut ditegaskan melalui sebuah Pappasang atau pesan leluhur yang berbunyi:

“Pakaiyyanga’, Upakarayao.”

Artinya:

“Hormati saya, maka saya akan memuliakanmu.”

Pesan ini mengandung pelajaran penting bahwa penghormatan adalah fondasi hubungan sosial yang sehat. Ketika seseorang menghormati orang lain, ia sedang membangun jembatan kepercayaan, persaudaraan, dan penghargaan yang pada akhirnya akan kembali kepada dirinya sendiri.

Secara sosiologis, masyarakat yang mampu menjaga budaya saling menghormati akan memiliki tingkat kohesi sosial yang lebih kuat. Konflik dapat diminimalkan karena setiap individu merasa dihargai keberadaannya.

Karena itu, para leluhur Mandar tidak pernah memandang penghormatan sebagai bentuk kelemahan, melainkan sebagai tanda kemuliaan seseorang.

Nilai Mala’bi’ juga tampak dalam tradisi menerima tamu dan menjaga silaturahmi.

Dalam budaya Mandar, kedatangan keluarga atau kerabat ke rumah bukan sekadar kunjungan biasa. Kehadiran mereka merupakan bentuk penghormatan dan upaya mempererat hubungan kekeluargaan. Karena itu, menyambut tamu dengan baik merupakan bagian dari etika sosial yang diwariskan turun-temurun.

Ketika seseorang datang bertamu, apalagi setelah sebelumnya membuat janji untuk bertemu, maka harapan yang dibawa adalah terjalinnya komunikasi yang baik dan bertambah eratnya hubungan kekeluargaan.

Sebaliknya, apabila tamu yang datang tidak ditemui, tidak dilayani dengan baik, atau dibiarkan menunggu tanpa kepastian, maka yang terluka bukan hanya perasaan pribadi, tetapi juga ikatan sosial yang selama ini dibangun.

Lebih-lebih apabila yang datang adalah keluarga yang membawa maksud baik, seperti menyampaikan undangan hajatan, musyawarah keluarga, atau urusan yang menyangkut kepentingan bersama.

Ketika seseorang telah berjanji untuk bertemu pada waktu tertentu, lalu tidak menepati janji tersebut tanpa alasan yang jelas, maka yang sesungguhnya tercederai adalah nilai kepercayaan.

Dalam perspektif psikologi sosial, kepercayaan merupakan modal utama dalam hubungan antarmanusia. Sekali kepercayaan itu rusak, maka hubungan sosial akan menjadi renggang dan sulit dipulihkan.

Karena itu, para leluhur sangat menekankan pentingnya menjaga perkataan dan memenuhi janji.

Sebab janji bukan hanya urusan pribadi, tetapi juga menyangkut kehormatan diri dan keluarga.

Fenomena yang terjadi saat ini menunjukkan adanya pergeseran nilai-nilai luhur tersebut.

Kesibukan pekerjaan, aktivitas pribadi, tuntutan ekonomi, dan perkembangan teknologi sering membuat manusia semakin sibuk dengan dirinya sendiri. Tidak sedikit orang yang lebih mengutamakan kepentingan pribadi dibandingkan kepentingan keluarga besarnya.

Bahkan dalam banyak kasus, seseorang menjadi lebih mudah meluangkan waktu untuk urusan yang dianggap menguntungkan dirinya, tetapi sulit menyediakan waktu untuk keluarga dan kerabatnya sendiri.

Secara teoritis, kondisi ini dikenal sebagai gejala individualisme sosial, yaitu kecenderungan manusia untuk lebih berorientasi pada kepentingan pribadi dibandingkan kepentingan kelompok atau komunitas.

Jika tidak dikendalikan, individualisme dapat melemahkan solidaritas keluarga, mengurangi interaksi sosial, serta menyebabkan renggangnya hubungan kekerabatan yang selama ini menjadi kekuatan masyarakat.

Dalam budaya Mandar, keadaan seperti ini sesungguhnya sangat bertentangan dengan nilai Mala’bi’.

Karena kemuliaan seseorang tidak hanya diukur dari keberhasilannya secara pribadi, tetapi juga dari kemampuannya menjaga hubungan kekeluargaan, menghormati kerabat, dan memelihara silaturahmi.

Apabila nilai-nilai tersebut terus diabaikan, maka generasi mendatang akan mengalami kehilangan identitas budaya.

Anak-anak akan tumbuh tanpa mengenal kuatnya ikatan keluarga.

Mereka akan melihat silaturahmi sebagai sesuatu yang tidak penting.

Mereka akan lebih mengenal hubungan virtual daripada hubungan kekeluargaan yang nyata.

Padahal keluarga adalah sekolah pertama bagi lahirnya karakter manusia.

Di dalam keluargalah seseorang belajar menghormati, menghargai, menyayangi, dan memahami makna kebersamaan.

Karena itu, menjaga hubungan keluarga bukan sekadar tradisi sosial, melainkan investasi peradaban.

Ketika silaturahmi terpelihara, maka nilai-nilai luhur akan tetap hidup.

Ketika silaturahmi terputus, maka perlahan-lahan nilai budaya juga akan ikut hilang.

Oleh sebab itu, menanamkan nilai luhur Mala’bi’ bukan hanya tugas para tetua adat atau tokoh masyarakat.

Ia adalah tanggung jawab seluruh anggota keluarga, seluruh generasi, dan seluruh masyarakat Mandar.

Mala’bi’ harus diajarkan melalui keteladanan.

Mala’bi’ harus diwariskan melalui perilaku.

Mala’bi’ harus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Menghormati orang lain.

Menepati janji.

Melayani tamu dengan baik.

Menjaga silaturahmi.

Mendahulukan kepentingan bersama di atas ego pribadi.

Dan memelihara hubungan kekeluargaan sebagai warisan yang tak ternilai harganya.

Sebab pada akhirnya, kemuliaan seseorang tidak diukur dari seberapa tinggi jabatan yang dimilikinya, tidak pula dari seberapa besar kekayaan yang dikumpulkannya.

Kemuliaan sejati terletak pada seberapa besar ia mampu menjaga nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur, serta seberapa kuat ia mempertahankan ikatan kasih sayang dalam keluarga dan masyarakatnya.

Itulah hakikat Mala’bi’.

Kemuliaan yang lahir dari penghormatan.

Kemuliaan yang tumbuh dari kasih sayang.

Dan kemuliaan yang akan terus hidup selama manusia tetap menjaga nilai-nilai luhur adat dan budaya yang diwariskan oleh para leluhurnya.

Mandar, 12 Juni 2026

 

MURSYID SYUKRI

Aktif dalam pergerakan seni budaya Mandar dan serius menghibahkan waktunya sebagai Ketua Sekolah Adat Adolang Pamboang

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
%d blogger menyukai ini: