KOLOMMURSYID SYUKRI

Seandainya Saya Diminta Memilih

SEANDAINYA saya diminta untuk memilih, di tengah situasi yang masih menyisakan ruang kosong dalam kepemimpinan Wakil Gubernur Sulawesi Barat pasca berpulangnya Mayjen Salim S Mengga, maka pilihan itu tentu bukan sekadar soal politik, tetapi juga tentang rasa, nilai, dan keberlanjutan cita-cita yang pernah dirintis bersama.

Hingga hari ini, harus diakui bahwa belum ada sosok dari kandidat lain yang benar-benar menghadirkan kharisma dan karomah seperti yang dimiliki almarhum. Beliau bukan hanya seorang pemimpin, tetapi juga simbol keteguhan, kesederhanaan, dan arah perjuangan bagi Sulawesi Barat menuju jalan yang baik, benar, dan penuh nilai Mala’bi’.

Dalam posisi seperti ini, jika saya diberi kesempatan untuk memilih, maka hati saya akan tertuju kepada Fatmawati Salim. Pilihan ini bukan tanpa alasan, melainkan lahir dari pertimbangan yang mendalam.

Pertama, sebagai seorang pendamping hidup, beliau tentu menjadi saksi perjalanan panjang sejak sebelum almarhum mencalonkan diri hingga terpilih sebagai Wakil Gubernur bersama Suhardi Duka.

Dalam keseharian, seorang istri adalah tempat berbagi cerita, harapan, bahkan kegelisahan. Di sanalah arah dan cita-cita pembangunan Sulawesi Barat dibicarakan, dirancang, dan diimpikan bersama. Maka, sangat wajar jika beliau memahami betul bagaimana Sulawesi Barat seharusnya dibangun ke depan.

Kedua, peran beliau sebagai sumber kekuatan tidak dapat dipandang sebelah mata. Di balik seorang pemimpin yang kokoh, selalu ada sosok yang menguatkan dari belakang. Fatmawati Salim adalah sosok yang senantiasa memberikan dukungan, menjaga semangat, dan memastikan bahwa langkah perjuangan tidak pernah padam. Keteguhan itu adalah modal penting dalam melanjutkan estafet kepemimpinan.

Ketiga, beliau adalah bagian yang tidak terpisahkan dari almarhum bukan hanya secara lahiriah, tetapi juga secara batiniah. Cinta, pengabdian, dan kesetiaan yang terjalin selama ini menjadikan beliau sebagai representasi nilai-nilai yang pernah diperjuangkan oleh almarhum. Dalam dirinya, ada jejak perjuangan yang masih hidup dan bisa dilanjutkan.

Pilihan ini saya sampaikan terlepas dari dinamika dan usulan partai pengusung. Namun, jika sekiranya pandangan ini sejalan dengan kehendak partai, maka jalan untuk menentukan pilihan akan menjadi lebih terang dan mudah. Bahkan, ini bisa menjadi momentum untuk membuka ruang kebersamaan yang lebih luas, demi menemukan pasangan yang tepat dan selaras dalam memimpin Sulawesi Barat ke depan.

Pada akhirnya, memilih bukan sekadar menentukan siapa yang duduk di kursi kekuasaan. Memilih adalah tentang menjaga arah, merawat harapan, dan memastikan bahwa perjalanan panjang membangun Sulawesi Barat tetap berada dalam jalur yang benar jalur yang bermartabat, jalur yang Mala’bi’, dan jalur yang membawa kebaikan bagi seluruh masyarakat.

Mandar, 26 Maret 2026

MURSYID SYUKRI

Aktif dalam pergerakan seni budaya Mandar dan serius menghibahkan waktunya sebagai Ketua Sekolah Adat Adolang Pamboang

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
%d blogger menyukai ini: