Membaca Adalah Ibadah Terbesar

KETIKA Allah SWT pertama kali menurunkan wahyu kepada Nabi Besar Muhammad SAW di Gua Hira, perintah yang datang bukanlah membangun kerajaan, mengumpulkan harta, ataupun menguasai dunia. Wahyu pertama yang turun justru diawali dengan satu kata yang sangat sederhana namun memiliki makna yang luar biasa besar, yaitu “Iqra'” (Bacalah).
Perintah ini tercantum dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1:
“Iqra’ bismi rabbikalladzi khalaq”
“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.”
Perintah membaca yang menjadi wahyu pertama menunjukkan bahwa Islam sejak awal dibangun di atas fondasi ilmu pengetahuan. Allah SWT tidak memerintahkan manusia untuk percaya tanpa memahami, tidak pula memerintahkan manusia untuk mengikuti tanpa berpikir. Sebaliknya, manusia diajak untuk membaca, memahami, merenungkan, dan mengambil pelajaran dari segala sesuatu yang diciptakan-Nya.
Dari sudut pandang teologis, perintah membaca merupakan pintu masuk bagi seluruh bentuk ibadah lainnya. Seseorang tidak mungkin memahami tata cara shalat tanpa belajar. Tidak mungkin memahami zakat tanpa membaca dan mengkaji. Tidak mungkin memahami haji, muamalah, akhlak, bahkan tauhid tanpa proses belajar. Oleh karena itu, membaca sesungguhnya adalah fondasi utama yang menopang seluruh bangunan peradaban Islam.
Secara ilmiah, membaca merupakan aktivitas yang sangat kompleks. Ketika seseorang membaca, otak tidak hanya mengenali huruf dan kata, tetapi juga menghubungkan informasi baru dengan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya. Para ahli neurosains menjelaskan bahwa kebiasaan membaca mampu meningkatkan konektivitas saraf di otak, memperkuat daya ingat, meningkatkan kemampuan berpikir kritis, serta memperluas kapasitas seseorang dalam menyelesaikan masalah.
Karena itu, membaca bukan sekadar kegiatan akademik, tetapi juga latihan intelektual yang menjaga kesehatan dan produktivitas otak manusia.
Jika kita menengok sejarah, maka seluruh peradaban besar dunia lahir dari budaya membaca. Peradaban Islam pada masa keemasan melahirkan ilmuwan besar seperti Imam Al-Ghazali, Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, Al-Farabi, Ibnu Khaldun, dan ratusan ulama lainnya karena mereka hidup dalam tradisi membaca yang sangat kuat. Perpustakaan menjadi pusat kehidupan masyarakat. Buku menjadi sahabat sehari-hari para ilmuwan.
Sebaliknya, kemunduran sebuah bangsa sering kali dimulai ketika budaya membaca mulai ditinggalkan.
Inilah yang perlu menjadi renungan bersama. Jika umat manusia malas membaca, maka sesungguhnya kita sedang berjalan menuju bentuk baru dari zaman jahiliyah. Jahiliyah modern bukan lagi ketidaktahuan karena tidak adanya buku, melainkan ketidaktahuan yang terjadi di tengah melimpahnya informasi.
Hari ini manusia hidup di era teknologi yang sangat maju. Informasi tersedia dalam hitungan detik. Buku dapat diakses melalui telepon genggam. Ribuan jurnal ilmiah tersedia secara daring. Namun ironisnya, banyak orang lebih senang menghabiskan waktu berjam-jam menggulir media sosial dibandingkan membaca satu bab buku yang dapat menambah wawasan hidupnya.
Fenomena ini menjadi tantangan besar bagi generasi masa kini.
Banyak generasi muda mengalami kesulitan menghadapi tantangan hidup bukan karena kurang cerdas, melainkan karena kurang memiliki kebiasaan membaca dan berpikir mendalam. Informasi yang diterima sering bersifat singkat, instan, dan dangkal. Akibatnya kemampuan analisis, daya tahan berpikir, dan ketajaman logika perlahan menurun.
Padahal membaca adalah ritual utama bagi manusia yang berpikir.
Orang yang berakal akan selalu merasa haus ilmu. Ia tidak pernah merasa cukup dengan pengetahuan yang dimiliki. Semakin banyak membaca, semakin ia menyadari bahwa masih banyak hal yang belum diketahuinya. Karena itu para ilmuwan besar sepanjang sejarah dikenal sebagai pembaca yang tidak pernah berhenti belajar hingga akhir hayat mereka.
Pepatah yang mengatakan bahwa “Membaca adalah Jendela Dunia” bukanlah sekadar slogan kosong.
Melalui membaca, seseorang dapat menjelajahi masa lalu tanpa mesin waktu. Ia dapat memahami berbagai bangsa tanpa harus mengunjungi seluruh negara. Ia dapat belajar dari keberhasilan dan kegagalan orang lain tanpa harus mengalaminya sendiri.
Membaca memperluas cakrawala berpikir manusia dan membuka jalan menuju dunia yang lebih luas.
Karena itu, pertanyaan penting yang perlu kita ajukan kepada diri sendiri adalah:
Sudah berapa buku yang kita baca dalam satu bulan ?
Sudah berapa judul buku yang kita selesaikan dalam satu tahun ?
Sudah berapa banyak waktu yang kita gunakan untuk membaca dibandingkan waktu yang kita habiskan di media social ?
Pertanyaan-pertanyaan ini bukan untuk menyalahkan siapa pun, melainkan sebagai bentuk evaluasi diri. Sebab kualitas hidup seseorang sangat sering ditentukan oleh kualitas ilmu yang dimilikinya, sedangkan ilmu diperoleh melalui proses belajar dan membaca.
Kondisi rendahnya minat baca juga berdampak langsung terhadap keberlangsungan perpustakaan. Banyak perpustakaan sekolah dan perpustakaan daerah mengalami penurunan jumlah pengunjung. Padahal perpustakaan merupakan salah satu simbol peradaban suatu bangsa. Ketika perpustakaan sepi, sesungguhnya ada tanda bahwa budaya intelektual sedang menghadapi tantangan serius.
Dalam konteks Sulawesi Barat, Program MANDARRAS merupakan langkah yang sangat baik dalam membangun peradaban berbasis literasi. Program ini tidak hanya berfungsi meningkatkan kemampuan membaca peserta didik, tetapi juga membangun budaya berpikir yang menjadi fondasi kemajuan daerah.
Namun semangat literasi seharusnya tidak berhenti pada siswa dan mahasiswa saja.
Budaya membaca perlu menjadi gerakan bersama seluruh lapisan masyarakat, mulai dari pelajar, guru, akademisi, tokoh agama, tokoh adat, pelaku usaha, hingga para pejabat dan pengambil kebijakan.
Sebab keputusan yang baik lahir dari pengetahuan yang baik.
Pemimpin yang gemar membaca akan memiliki wawasan yang luas, kemampuan analisis yang tajam, dan kepekaan yang lebih tinggi terhadap kebutuhan masyarakat. Sebaliknya, kebijakan yang miskin pengetahuan sering kali melahirkan keputusan yang tidak berpihak pada pembangunan peradaban rakyat.
Karena itu, gagasan untuk mendorong para calon Pemimpin memiliki budaya membaca sesungguhnya sangat relevan. Sebagaimana siswa diwajibkan membaca sejumlah buku sebelum dinyatakan lulus, maka para calon pemegang jabatan strategis juga perlu menunjukkan rekam jejak literasi yang baik. Tujuannya bukan sekadar memenuhi syarat administratif, tetapi untuk memastikan bahwa arah pembangunan benar-benar dibangun di atas fondasi ilmu pengetahuan.
Pada akhirnya, membaca bukan hanya kegiatan pendidikan.
Membaca adalah ibadah.
Membaca adalah jalan menuju ilmu.
Membaca adalah sarana membangun peradaban.
Membaca adalah bentuk syukur atas akal yang diberikan Allah SWT.
Dan selama hayat masih dikandung badan, selama mata masih mampu melihat, dan selama pikiran masih mampu memahami, maka perintah “Iqra'” akan selalu relevan bagi umat manusia.
Sebab menuntut ilmu tidak mengenal batas usia.
Sebagaimana nasihat yang diwariskan para ulama:
“Tuntutlah ilmu mulai dari ayunan hingga ke liang lahat.”
Maka selama hidup masih diberikan kesempatan, marilah menjadikan membaca sebagai ibadah harian, sebagai kebutuhan jiwa, dan sebagai jalan untuk melahirkan generasi yang berilmu, berakhlak, serta mampu membangun peradaban yang lebih baik di masa depan.
Mandar, 31 Mei 2026




