Tuesday , July 23 2019
Home / GAGASAN / Malam Minggu dalam Segelas Teh Tarik
Malam Minggu dalam Segelas Teh Tarik

Malam Minggu dalam Segelas Teh Tarik

mendengar blues dimainkan, perempuan berkawat gigi berambut pirang dan berbulu mata palsu menganggukkan kepalanya. jemari tangannya setia memainkan ponsel layar sentuh miliknya.

malam ini setia telah lama dibarter dengan segelas teh tarik dengan sisa gincu yang menempel dibibir gelasnya.

hidup tak lebih hanyalah cara menyiasati kenyataan agar tak tampak kusut oleh nasib yang payah dan tersaruk-saruk.

perempuan itu tampak tertunduk dihadapan lelakinya yang hidung dan telinganya bertindik dan bersubang perak. sesekali matanya menatap awas pada setiap lelaki yang lewat di sela kursi tempatnya duduk dengan kaki berselonjoran.

tak ada cengkrama yang ideal tentang peradaban yang kian gombal dan bebal. selain kepul asap rokok yang dihembuskan oleh bibirnya yang merah delima.

singgahlah sebentar disisiku, karena hidup telah lama menjadi serupa toilet tempat orang-orang antri buang hajat sambil bersiul girang dan gemas.

disini pasar segar telah lama berubah menjadi pasar kesegaran mata kasat. tepat saat pasar burung berubah menjadi pasar sarang burung. tempat walet bertengger dan meninggalkan air liurnya. serupa teh tarik yang tumpah dan yang basah.

senandungkanlah cinta pada malam agar tak rapuh. tentu saja, sebelum pagi datang menjemputmu. sebab sebelum pagi, bedak dan gincumu sudah harus engkau hapus dengan tissu atau dengan bibir lelakimu yang memeluk dengkurmu agar tak berubah menjadi igauan yang memekik dan memanggil nama tuhanmu.

Makassar, 15 Juni 2019

About IYAT TEHA

Belajar membaca dan menulis juga pembelajar di kehidupan

Check Also

Romli, Sisi Lain dari Konferwil III NU Sulbar

IBU kantin sibuk mengaduk kopi. Kali ini kantinnya begitu ramai oleh pengunjung dan itu tidak …

Harga Adat

berjalan semalam suntuk mengusir kantuk ingin segera tiba di bukit itu lewat jalan setapak tak …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

KACO baru saja menaiki punggung kuda balibbinna, namun belum sempat ia keluar menuju jalan yang berkerikil depan rumahnya, mendadak ia disuguhi pemandangan segerombol anak-anak putih abu yang berkonvoi memacu sepeda motornya dengan suara knalpot yang memekik mengalahkan ringkik kudanya. Urung melangkahkan kaki kudanya, Kaco lalu berteriak dan bertanya kepada Cicci yang sedang membilas daster kenu’na di samping passauang, “allo apa dite’e di’e Kindo’na”. Cicci menjawab, “allo araba’ sippara hari pendidikan nasional”. Kaco membatin, “Oh, pantas anak-anak sekolah itu merayakannya dengan trek-trekan. Semoga kemajuan pendidikan tidak saja bergerak lamban, namun berlari kencang sekencang sepeda motor trek-trekan anak putih abu itu”.[yat teha]