BERITASTRAIGHT NEWS

Keluarga Korban Pembunuhan Nilai Kepolisian Lamban Tuntaskan Kasus

TAYANG9 – Polres Mamasa tidak mampu menemukan titik terang terkait pembunuhan sadis yang dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab terhadap Mantan Kepala Desa botteng.

Dua tahun berlalu, kasus pembunuhan mantan Kepala Desa Botteng, Kecamatan Mehalaan, Almarhum Ahmad Taslim masih menyisahkan misteri, siapa sebenarnya dibalik pembunuhan zadis ini.

Pembunuhan zadis ini berawal saat korban usai menghadiri acara lamaran di salah satu Dusun, di Desa Botteng. Saat itu, kamis, (19/5/2016), diperkirakan sekitar pukul 01 dini hari itu, di tengah perjalanan yang tak terlalu jauh dari Dusun yang ia tinggali tepatnya di Dusun Botteng. Korban diduga dihadang pelaku yang hingga kini belum terungkap siapa gerangan yang tega merenggus nyawah kakek 50 tahun ini.

Sekitar pukul 6:30 pagi itu, korban ditemukan tergeletak di jalan poros antara Dusun Salubiru dan Dusun Botteng. Korban ditemukan dalam keadaan tak berdaya dan tak sadar dengan kondisi berlumuran darah yang keluar dari mulut dan kepala korban.

Awalnya pihak keluarga mengira korban hanya mengalami kecelakaan tunggal saja, namun berbagai kejanggalan yang ditemukan di tubuh korban, hingga mengundang pertanyaan.

“Waktu itu kami mengira hanya kecelekaan lalulintas saja,” kata Sono anak korban, saat ditemui, Senin (12/02).

Menurut Sono, korban pertama kali ditemukan seorang warga Dusun lembang yakni Sultan alias Papa Nassu’ di sungai Lembang dalam keadaan tak berdaya.

Selanjutnya kata Sono, sesuai pengakuan warga yang menemukan korban, sepeda motor yang korban gunakan dalam keadaan posisi standar samping tanpa ada yang rusak parah. Sementara sendal yang dikenakan, ditemukan di atas jembatan, sedangkan kopia miliknya ditaruh diatas keranjang motor dengan posisi dijepit.

“Kejanggalan yang lain yang kami temukan, ternyata gigi almarhum bapak saya habis tercabut tanpa ada tanda tanda benturan dibagian bibir, tetapi anehnya, lidahnya itu terpotong,” Terang Sono.

Untuk mendapatkan pertolongan pertama, selanjutnya korban dibawa ke rumah Bidan terdekat yang diketahui bernama Nasra. Guna mendapatkan perawatan yang intensif, selanjutnya korban dilarikan ke RS Kondo Sapata Mamasa. Namun pihak rumah sakit langsung merujuknya ke RS umum Polewali mandar. Hal serupa dilakukan pihak RS Polewali Mandar sebab korban tak dirawat inap, tetapi juga merujuknya ke RS Wahidin Makassar.

Tepat 22 Mei 2016, Ahmad Taslim menghembuskan nafas terakhirnya di RS Wahidin makassar. Selanjutnya, jenazah korban dioulangkan dan disemayamkan di Desa Botteng dusun kata-kata pada tanggal 23 Mei 2016.

Setelah dimakamkan sejumlah keluarga  tak puas atas meninggalnya Ahmad Taslim dengan berbagai kejanggalan yang tidak masuk diakal. Sehingga keluarga korban melaporkan kejadian ini ke Polsek Mambi.

“Polsek mambi kurang merespon laporan kami, dan pada akhirnya laporan ini diteruskan ke polres Mamasa,” ujar Sono.

Setelah dilaporkan, pihak Polres Mamasa melakukan penyelidikan, dan meminta untuk dilakukan otopsi. Akhirnya Pada tanggal 02 September 2016 dilakukan otopsi. Dari hasil otopsi ahli porensik Polda Sulbar, ditemukan indikasi penganiayaan yang mengakibatkan korban meninggal dunia.

“Setelah diotopsi, Kasat Reskrim Polres Mamasa saat itu masih dijabat Syamsuriansyah, kepada keluarga mengakui penyebab meninggalnya bapak saya karena adanya indikasi penganiayaan,” ungkap Sirwan anak almarhum.

Meski telah dilakukan otopsi, namun kasus ini tak berujung pada proses pengungkapan siapa dibalik otak pembunuhan zadis ini. Kelurga korban sempat meminta pihak penyidik untuk memperlihatkan hasil otopsi, namun pihak Polres Mamasa menolak untuk memperlihatkan.

Sejak tahun 2016 pasca kasus ini, terhitung telah sebanyak empat kali pergantian Pimpinan Polres Mamasa, namun kasus ini tak kunjung terungkap. Entah apa motif dibalik lambatnya kasus ini terungkap. Yang jelas pihak kelurga berharap agar kasus yang memilukan ini segera dituntaskan.(**)

ZULFIKAR MAKKASAU

Selain aktif sebagai jurnalis dirinya juga dikenal aktif sebagai pemerhati lingkungan dan kegiatan pemberdayaan berbasis masyarakat

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button