KOLOMMURSYID SYUKRI

Inggae Massikola Adza’

DI tengah arus perubahan zaman yang begitu cepat, masyarakat sering kali memahami adat hanya sebagai simbol kebangsawanan, gelar keturunan, atau struktur kepemimpinan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Padahal, jika kita menelusuri makna adat yang sesungguhnya menurut pandangan para tetua Mandar, adat bukanlah jabatan, bukan pula sekadar garis keturunan. Adat adalah seperangkat nilai yang hidup dalam pikiran, sikap, perilaku, dan hubungan sosial manusia.

Karena itu, sebelum mengajak masyarakat untuk Massikola Adza’ atau “Bersekolah Adat”, terlebih dahulu kita harus memahami hakikat adat itu sendiri. Menurut Pappasang para Tetua Adat Mandar disebutkan:

“Iya tu’u nisanga’ adza’, appe macoa, sipa’ macoa, kedzo macoa, anna’ siasayanni.”

Artinya:

“Yang dimaksud dengan adat adalah pikiran yang baik, sifat yang baik, perilaku yang baik, dan saling menyayangi.”

Pappasang ini menunjukkan bahwa adat sesungguhnya merupakan sistem nilai yang membentuk kualitas kemanusiaan seseorang. Adat bukanlah sesuatu yang melekat karena kelahiran, melainkan karena kemampuan seseorang menjalankan nilai-nilai kebajikan dalam kehidupan sehari-hari.

Secara teoritis, konsep tersebut sangat sejalan dengan pandangan ilmu sosial modern yang menyatakan bahwa kebudayaan bukan hanya benda atau simbol, melainkan kumpulan nilai yang mengarahkan perilaku manusia. Para antropolog menjelaskan bahwa masyarakat yang beradab dibangun oleh norma, etika, dan kebiasaan baik yang diwariskan secara turun-temurun.

Dalam konteks itu, Appe Macoa atau berpikir baik merupakan fondasi utama adat.

Mengapa demikian ….. ?

Karena segala tindakan manusia berawal dari cara berpikirnya. Psikologi modern menjelaskan bahwa pola pikir akan memengaruhi sikap, keputusan, dan perilaku seseorang. Orang yang terbiasa berpikir positif akan lebih mudah menghargai orang lain, lebih terbuka terhadap perbedaan, dan lebih mampu mengendalikan emosinya.

Sebaliknya, ketika seseorang dipenuhi prasangka buruk, merasa paling benar, dan menganggap dirinya lebih tinggi dari orang lain, maka lahirlah kesombongan yang perlahan merusak nilai-nilai kemanusiaannya.

Inilah yang diingatkan oleh para tetua adat Mandar.

Seseorang tidak menjadi mulia hanya karena keturunan bangsawan. Sebab kebangsawanan yang sejati bukanlah warisan darah, melainkan warisan akhlak. Ketika pikiran menjadi baik, maka sifat akan menjadi baik. Ketika sifat menjadi baik, maka perilaku akan menjadi baik. Ketika perilaku menjadi baik, maka akan tumbuh rasa kasih sayang kepada sesama manusia. Pada titik inilah adat menemukan maknanya yang paling luhur. Karena itu masyarakat Mandar mengenal ungkapan:

“Andiangi tau sipandang enteng.”Artinya: “Janganlah kita saling memandang rendah satu sama lain.”

 

Ungkapan ini mengandung filosofi kesetaraan sosial yang sangat mendalam. Dalam perspektif sosiologi, masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang mampu menghargai martabat setiap individu tanpa membedakan status sosial, ekonomi, maupun keturunannya. Seseorang mungkin lahir dari keluarga sederhana, tetapi memiliki kebijaksanaan yang tinggi. Sebaliknya, seseorang mungkin lahir dari keluarga terpandang, tetapi kehilangan nilai-nilai kemanusiaan yang seharusnya menjadi dasar kehidupannya. Karena itu orang tua Mandar juga berpesan:

“Mane nitai tia pessoena, pelli’ana, anna’ turang loana mapia, taniai tu’u dzi’i tau wiasa.”

Artinya:

“Kalau kita melihat ayunan lengannya, langkah kakinya, dan tutur katanya yang baik dan bijaksana, maka ia bukanlah orang biasa.”

Pesan ini mengajarkan bahwa ukuran kemuliaan seseorang terlihat dari karakter dan perilakunya. Dalam ilmu psikologi sosial, karakter seseorang memang tercermin melalui bahasa tubuh, cara berbicara, cara memperlakukan orang lain, serta konsistensi sikapnya dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu memahami adat pada era sekarang tidak cukup hanya dengan menelusuri silsilah keluarga atau mengenang jabatan para leluhur. Kita harus memahami mengapa para kakek dan nenek kita dahulu dipercaya menjadi pemimpin adat. Mereka tidak dihormati semata-mata karena keturunan. Mereka dipercaya karena memiliki Appe Macoa (pikiran yang baik), Sipa’ Macoa (sifat yang baik), dan Kedzo Macoa (perilaku yang baik). Mereka menjadi pemimpin karena mampu menghadirkan kasih sayang, keadilan, dan keteladanan bagi masyarakatnya. Dalam perspektif yang lebih luas, Adza’ atau adat sesungguhnya mengatur tiga hubungan penting dalam kehidupan manusia.

Pertama, hubungan manusia dengan Tuhan. Kedua, hubungan manusia dengan sesama manusia. Ketiga, hubungan manusia dengan alam semesta. Ketiga hubungan ini menjadi fondasi peradaban yang berkelanjutan. Hubungan dengan Tuhan melahirkan nilai spiritualitas, kejujuran, dan kesadaran moral. Hubungan dengan sesama manusia melahirkan keadilan sosial, persaudaraan, dan kepedulian terhadap masyarakat. Hubungan dengan alam melahirkan tanggung jawab untuk menjaga keseimbangan lingkungan demi keberlangsungan generasi mendatang. Dalam ilmu lingkungan modern, prinsip ini dikenal sebagai keberlanjutan (sustainability), yaitu pemanfaatan sumber daya alam secara bijaksana tanpa merusak kemampuan alam untuk menopang kehidupan generasi berikutnya. Karena itu seorang pemimpin yang memahami adat sejati tidak hanya rajin beribadah kepada Tuhan, tetapi juga menghadirkan kebijakan yang berpihak kepada masyarakat serta menjaga kelestarian alam. Pemimpin yang beradat tidak menjadikan jabatan sebagai alat memperkaya diri dan kelompoknya. Pemimpin yang beradat menjadikan amanah sebagai sarana pelayanan kepada rakyat. Pemimpin yang beradat tidak melihat alam sebagai objek eksploitasi semata, tetapi sebagai titipan yang harus dijaga. Ia memahami bahwa udara yang bersih, sungai yang sehat, laut yang lestari, dan hutan yang terpelihara merupakan warisan yang harus diserahkan kepada generasi berikutnya. Oleh sebab itu, Massikola Adza’ sesungguhnya bukan hanya belajar tentang sejarah adat, pakaian adat, atau struktur kelembagaan adat. Massikola Adza’ adalah proses belajar menjadi manusia yang lebih baik. Belajar berpikir baik, Belajar bersifat baik, Belajar berperilaku baik, Belajar menyayangi sesama,  Belajar melaksanakan Perintah Tuhan. Belajar menjaga alam. Dan belajar memimpin dengan hati nurani.

Semoga di Lita Pembolongan ini lahir pemimpin-pemimpin yang menjadikan Hukum Tuhan sebagai pedoman spiritualnya, Hukum Adat sebagai pedoman moralnya, dan Hukum Alam sebagai pedoman keberlanjutan kehidupannya. Karena ketika ketiga hukum itu berjalan seimbang, maka masyarakat akan hidup dalam kedamaian, keadilan, dan kemakmuran.

Dan pada saat itulah cita-cita besar para leluhur Mandar tentang kehidupan yang beradab benar-benar terwujud dalam kehidupan nyata.

Mandar, 31 Mei 2026

 

MURSYID SYUKRI

Aktif dalam pergerakan seni budaya Mandar dan serius menghibahkan waktunya sebagai Ketua Sekolah Adat Adolang Pamboang

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
%d blogger menyukai ini: