BRO CHIKOKOLOM

Titipan Bau Sattolor untuk Kiai

Kanne Baca

MUSIM angin timur telah tiba. Nelayan mempersiapkan alat tangkap ikan menghadapi musim subur laut. Kabar rumpon-rumpon mereka telah terisi kawanan ikan.

Para istri nelayan pun terlihat sibuk berbelanja dan mengatur persiapan kebutuhan ransum sebagai bekal melaut suami mereka. Begitulah Siwaliparri sebentuk kerja sama dalam rumah tangga para nelayan yang berbagi peran dan kebaikan.

Tradisi turun temurun menujukkan, sebelum turun melaut para nelayan didahului dengan ritual kuliwa. Serangkaian prosesi pembacaan mantra dan doa keselamatan sekaligus tolak bala sebagai ikhtiar dalam mencari rejeki di laut.

Kuliwa dilaksanakan di atas perahu yang telah siap melaut. Doa doa dibuka dengan pembacaan barzanji yang dipimpin oleh syekh atau kiai-kiai kampung. Menggambarkan begitu dekatnya hubungan antara para nelayan dan para kiai dan ulama di masayarakat nelayan.

Hubungan yang baik ini menunjukan, betapa nelayan percaya rejeki itu tidak semata karena peralatan tangkap yang memadai atau karena kematangan trik menangkap dan setumpuk pengalaman panjang dalam melaut.

Mereka paham betul pada soal rejeki yang diberikan oleh sang pemilik segalanya, Allah SWT. Yang untuk itu, mestinya diminta dengan baik-baik tentu dengan perantara para kiai dan ulama. Ulama dan kiai yang dalam keyakinan mereka dipercaya memiliki kedekatan yang lebih kepada Tuhan.

Olehnya, para nelayan jika mendapatkan hasil dari laut pasti mereka selalu menyisihkan untuk para kiai. Paling tidak, sekedar untuk menjadi lauk kiai dan keluarganya beberapa hari.

Suatu waktu, Pua Dalle salah seorang nelayan kampung santri yang sudah dua hari di laut mencari peruntungan di rumpon belum juga mendapat hasil yang memadai. Sedang Pua Sari, salah satu temannya yang juga melaut dengan perahu yang berbeda sudah mendapatkan ikan dalam jumlah yang banyak dan hendak pulang duluan menuju pantai kampung santri.

Pua Dalle gusar. Di tengah kegusaran atas hasil tangkapan ikannya yang kecil dan belum begitu banyak, Pua Dalle mengingat kiai-nya. Ingatan pada kepul dupa dan doa-doa kiai-nya yang setia dilangitkan saat hendak melaut untuk dirinya membuatnya merasa tersandera.

Ketetapan hatinya pelan kian menguat, kendati kecil dan tak begitu banyak, Pua Dalle merasa wajib untuk menitip kirimkan sattolor bau (serenteng ikan) kecil-kecil hasil tangkapannya itu melalui Pua Sari yang hendak pulang lebih duluan.

Pua Dalle berharap semoga dengan kiriman sattolor bau untuk kiai-nya itu tetap mampu membuat kiai-nya girang dan setia melangit layarkan doa-doa untuknya agar selamat dan peroleh tambahan ikan banyak dan besar di lautan.

Singkat kisah, dalam perjalanan pulang, Pua Sari yang melihat ikan yang dikirim Pua Dalle untuk kiai-nya kecil-kecil dan tak cukup banyak itu, Pua Sari-pun kemudian diliputi rasa kasihan, jika ikan yang dititipkan Pua Dalle yang kecil itulah yang akan diserahkan kepada kiai yang juga dia takdzimi.

Karena Pua Sari telah memperoleh hasil tangkapan ikan dalam jumlah yang banyak dan berukuran besar, inisiatipnya untuk mengganti ikan titipan Pua Dalle yang kecil dan sedikit, dengan dengan ikan yang lebih banyak dan lebih besar pula lebih segar miliknya muncul. Niatnya hanya satu, menyenangkan hati kiai.

Sebelum pulang dari rumah Kiai, sesudah menyerahkan titipan ikan Pua Dalle, kepada Pua Sari, Kiai itu lalu menyindir pelan pula halus,

“besok atau lusa jika ada yang menitipkan ikan kepadamu Pua Sari, sebaiknya tidak engkau tukarkan dengan ikan yang lebih banyak dan lebih besar. Karena, sebagai amanah sang penitip, tentu ia amat berharap, ikan yang engkau serahkan itu sungguh-sungguh adalah kirimannya, bukan ikan yang tergantikan”.

Pua Sari yang mendengarkan itu langsung syok dan seketika mengucurkan air mata dan merasa tak lagi bisa berkutik.

Pua Sari lupa, kalau kiai yang menerim titipan ikan Pua Dalle itu, adalah jenis kiai yang telah berada di level kasyaf, yang bisa mengetahui hal-hal yang tidak terlihat serta diketahui oleh mereka yang awam.

Melihat, Pua Sari yang salah tingkah dan hanya bisa garuk-garuk kepala, kiai itu lalu melanjutkan kata-katanya sambil tersenyum, “jangan lakukan lagi yah. Pulang-lah benahi perahu dan urus anak istrimu. Nanti malam kembalilah ke sini kita minum kopi bersama sesudah pengajian”.

BRO CHIKO

Penikmat Kopi Hangat dan Dingin juga Boleh

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
%d blogger menyukai ini: