GAGASANOPINI

Pasar Malam Rakyat: Ketika Ruang Publik Kembali Menemukan Jiwanya

Penulis: Hamzah Ismail

ADA sesuatu yang sering luput kita sadari tentang ruang publik: ia tidak pernah benar-benar mati, hanya saja kadang kehilangan jiwa. Ia tetap berdiri, tetap ramai, tetap digunakan, tetapi tidak lagi menjadi tempat manusia saling menemukan makna.

Pasar adalah salah satu contoh paling nyata. Ia selalu hidup dalam pengertian fisik, dipenuhi suara, langkah kaki, dan transaksi. Namun, sebagai ruang ekspresi budaya, ia kerap belum sepenuhnya optimal. Ia sibuk dengan urusan jual beli, tetapi jarang diberi kesempatan menjadi ruang pertemuan gagasan, seni, dan kesadaran kolektif.

Di tengah kenyataan itu, Pasar Malam Rakyat yang digelar di Pasar Rakyat Talolo Tinambung menghadirkan sesuatu yang berbeda. Kegiatan yang dipanitiai oleh Abdul Muttalib ini bukan sekadar agenda keramaian, melainkan bagian dari Program Layanan Produksi Kegiatan Kebudayaan untuk kategori pendayagunaan ruang publik dalam lingkup pemanfaatan Dana Abadi Kebudayaan Tahun 2025 dari Kementerian Kebudayaan RI. Sebuah program yang berangkat dari kesadaran bahwa ruang publik harus dihidupkan kembali, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara kultural dan sosial.

Malam itu, pelataran pasar tidak lagi sekadar tempat transaksi. Ia berubah menjadi ruang yang lebih luas: ruang interaksi sosial, ruang pertukaran budaya, dan ruang pertemuan manusia dengan dirinya sendiri. Lampu-lampu sederhana menggantung, menerangi wajah-wajah yang datang bukan hanya untuk membeli, tetapi juga untuk merasakan. Ada musik yang mengalun, ada pertunjukan teater yang berlangsung, ada orasi budaya, diskusi film, dan ada percakapan yang tumbuh tanpa direncanakan. Pasar yang biasanya hanya ramai, kini terasa hidup dalam pengertian yang lebih dalam.

Di sinilah kolaborasi menemukan bentuknya yang paling jujur. Tema yang diusung dalam Pasar Malam Rakyat ini tidak berhenti sebagai slogan, tetapi hadir sebagai praktik. Seniman tradisi dan modern berbagi ruang yang sama, tidak untuk saling menegaskan perbedaan, tetapi untuk saling menguatkan. Pelaku UMKM berdampingan dengan pegiat literasi budaya, menciptakan satu ekosistem yang tidak terpisah-pisah. Masyarakat pun tidak lagi sekadar penonton, tetapi menjadi bagian dari peristiwa itu sendiri.

Bagi masyarakat Mandar, semangat ini bukan hal baru. Ia berakar pada nilai Siwaliparriq, sebuah falsafah hidup yang menegaskan bahwa manusia tidak pernah benar-benar bisa berdiri sendiri. Kehidupan selalu berjalan dalam jalinan saling menguatkan. Apa yang terlihat di Pasar Malam Rakyat ini sejatinya adalah manifestasi dari nilai tersebut: sebuah bentuk kolaborasi yang tumbuh bukan dari konsep modern semata, tetapi dari ingatan budaya yang telah lama hidup.

Pertemuan antara seni tradisi dan kesenian modern menjadi salah satu denyut utama dalam kegiatan ini. Tradisi tidak diperlakukan sebagai sesuatu yang usang atau sekadar simbol masa lalu. Ia hadir sebagai sesuatu yang hidup, yang mampu berdialog dengan zaman. Di sisi lain, kesenian modern tidak tampil sebagai kekuatan yang menggeser, tetapi sebagai energi yang memperluas ruang ekspresi. Keduanya berkelindan, menciptakan lanskap budaya yang dinamis tanpa kehilangan akar.

Di sela-sela itu, denyut ekonomi rakyat tetap berjalan. Lapak-lapak UMKM menghadirkan kuliner khas Mandar, produk lokal, dan berbagai bentuk kreativitas masyarakat. Namun yang menarik, aktivitas ekonomi ini tidak berdiri sendiri. Ia terhubung dengan suasana budaya yang mengelilinginya. Orang tidak hanya membeli karena kebutuhan, tetapi juga karena keterikatan emosional dengan ruang yang mereka tempati. Pasar kembali pada kodratnya, tetapi dengan makna yang lebih luas.

Kegiatan ini juga membuka ruang bagi refleksi. Orasi kebudayaan, diskusi film, diskusi buku, hingga percakapan publik menjadikan pasar bukan hanya tempat transaksi, tetapi juga tempat berpikir. Di tengah riuhnya aktivitas, ada ruang-ruang sunyi yang mengajak orang untuk merenung. Bahwa hidup tidak hanya tentang angka, tidak hanya tentang untung dan rugi, tetapi juga tentang makna yang lebih dalam.

Dalam konteks masyarakat Mandar, pasar tidak pernah benar-benar terpisah dari masjid. Yang satu adalah tempat ikhtiar, yang lain adalah tempat berserah. Keduanya membentuk keseimbangan hidup yang utuh. Pasar Malam Rakyat ini, dengan seluruh aktivitasnya, seakan menghidupkan kembali hubungan itu. Bahwa kerja harus tetap berakar pada nilai, dan bahwa kehidupan ekonomi tidak boleh kehilangan dimensi spiritualnya.

Lebih jauh dari itu, kegiatan ini menunjukkan bahwa upaya pemajuan kebudayaan tidak selalu harus dimulai dari ruang-ruang besar dan megah. Ia bisa tumbuh dari tempat yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dari pasar. Dari ruang yang selama ini kita anggap biasa. Justru di sanalah budaya sering kali bertahan paling lama, karena ia hidup bersama manusia, bukan di luar mereka.

Pasar Malam Rakyat di Tinambung menjadi pengingat bahwa ruang publik tidak cukup hanya ada. Ia harus dihidupkan, dirawat, dan diisi dengan kesadaran. Ketika ruang itu diisi dengan seni, dengan interaksi, dengan nilai, maka ia tidak lagi sekadar tempat, tetapi menjadi bagian dari perjalanan peradaban.

Malam itu, di bawah cahaya lampu yang sederhana, pasar tidak hanya menjadi ramai. Ia menjadi berarti. Dan di tengah keramaian itu, kita seperti diingatkan kembali bahwa jiwa kolektif kita belum hilang. Ia hanya menunggu ruang untuk kembali bernapas.

Talolo-Tinambung, 13 April 2026

REDAKSI

Koran Online TAYANG9.COM - "Menulis Gagasan, Mencatat Peristiwa" Boyang Nol Pitu Berkat Pesona Polewali Sulbar. Email: sureltayang9@gmail.com Gawai: +62 852-5395-5557

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
%d blogger menyukai ini: