GAGASANOPINI

Dari Tiang Listrik, Lepas Hijab, Hingga Kasus Gizi Buruk di Polman

JUDUL di atas “Dari Tiang Listrik, Lepas Hijab dan Kasus Gizi Buruk di Polman” dengan tak sengaja saya temukan, saya sempat membaca sebuah postingan seorang kawan di FB yang menulis status tersebut. Cukup menarik buatku sebagai pemula untuk belajar merangkai kata dalam bahasa sederhana.

Beberapa pekan terakhir memang menghangat, cukup deras informasi mengalir kehadapan pembaca. Mulai berita yang ke “nasionalan” sampai pada berita ke “lokalan”. Semua tersuguhkan dengan apik, dengan berbagai ulasan dari berbagai sudut pandang. Menjadi sebuah “candu”, sungguh mendapatkannya menjadi hal wajib. Jika dilewatkan serasa ada yang kurang.

Dari tiang listrik dan lepas hijab adalah merupakan dua konten yang lagi trend, menjadi bahan banyak diskusi di media cetak terlebih di media digital. Kasus kecelakaan yang dialami oleh SN yang terjadi pada kamis malam 16 Nopember 2017 lalu, cukup menjadi sorotan publik. Bagaimana tidak, saat kecelakaan terjadi, SN adalah target yang diburu oleh KPK pada kasus e-ktp yang kembali diangkat dan “mempesakitkan” sosok SN.

Konten berita yang trend berikutnya adalah sosok artis komedian wanita RN yang melepas hijabnya beberapa waktu lalu, cukup membuat hangat pemberitaan dunia hiburan. Banyak pihak yang menyangkan, jurus caci
memaki dan mem-bully pun tak terhindarkan di jagad media sosial. Bahkan, ibu-ibu di sekitar kompleks rumah saya pun tak mau ketinggalan untuk mencari tahu, menjadikan bahan diskusi saat berbelanja pada abang
penggandeng sayur yang pagi hari seliweran dalam kompleks perumahan.

Kemudian yang terakhir adalah kasus gizi buruk di Kabupaten Polewali Mandar (Polman) Provinsi Sulawesi Barat. Berdasarkan data yang disampaikan Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Sulbar, tentang Kasus stunting (gizi buruk kronis) terbanyak di Indonesia. Kabupaten Polman, masuk pada posisi kedua tertinggi se-nasional, di mana standar stunting pemerintah pusat mencapai 3,72 persen, sedangkan Polman mencapai angka 33 persen.

Untuk tingkat Provinsi, Sulbar menjadi urutan kedua pada angka 45.98 persen, Setelah Nusa Tenggara Timur (NTT) diurutan pertama denganangka 48.01 persen. (Media Online Tribun Timur – tanggal 18/10/2017, Sulbar urutan Kedua Kasus Gizi Buruk…)

Sebuah keprihatinan bagi saya sebagai warga Polman, sebab issue tentang gizi buruk di kabupaten yang berjuluk bumi Tipalayo ini “belum” menjadi issue yang me-nasional. Sangat jauh dengan kasus e-KTP yang menjadikan
SN tersangka dan berita artis RN yang “gantung” hijab. Pertanyaan yang muncul adalah mengapa konten yang lokal kesulitan menjadi issue me-nasional. Menurut Eny Mastuti (www.kompasiana.com/jangan-abaikan-berita-lokal) per tanggl 12 September 2017, mengarahkan kita pada sebuah jawaban dari sebuah pertanyaan “mengapa berita lokal kalah pamor ?”

Dalam tulisannya menjelaskan bahwa faktor luas wilayah liputan menjadi salah satu faktor penentu. Area yang luas menawarkan peluang munculnya banyak berita dan sebaliknya, wilayah yang sempit dengan dinamika landai, hanya menawarkan jenis liputan yang monoton, itu itu saja. Hal itu bisa menggiring konsumen kepada rasa bosan.

Faktor yang kedua menyangkut kualitas SDM pembuat berita. Proses menyusun berita, sangat dipengaruhi oleh jam terbang, dan kreativitas para pembuat berita, serta perangkat berburu dan sarana produksi berita.

Dan yang terakhir adalah faktor kedekatan psikologis pembuat berita dengan nara sumber seperti pejabat, atau tokoh masyarakat. Wilayah yang terbatas ditambah budaya sungkan, sering menggerus profesionalitas kerja
wartawan lokal. Sehingga berita yang muncul seringkali ‘ringan’, meskipun berasal dari kasus berat.

Dari pemaparan di atas disimpulkan bahwa mengapa berita lokal kurang diminati, menurut Eny Mastuti adalah jenis berita pada konten lokal kurang beragam dan kualitas sajian kurang, baik materi maupun pada media penyebarannya di cetak dan elektronik.

SULHAN SAMMUANE

Selain Menulis dirinya juga dikenal aktif sebagai pemerhati pendidikan anak usia dini

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button