KOLOMMURSYID SYUKRI

Pesan Kakek Tentang Merdeka

Kemerdekaan Adalah Tidak Menindas Sesama

BETUL memang mungkin kebanyakan kita kini secara fisik sudah merdeka. Tetapi tak berarti perjuangan telah berhenti. Karena medan juang generasi kini telah bergeser. Bukan lagi di hutan dan rimba, tetapi di dalam diri kita sendiri.

Kita harus merdeka dari ego, agar dada cukup lapang untuk mencintai. Kita harus merdeka dari sombong, agar lisan cukup lembut untuk menghargai. Kita harus merdeka dari benci, agar tangan cukup kuat untuk merangkul. Kita harus merdeka dari prasangka, agar rumah kebangsaan cukup teduh untuk berdampingan. Dan kita harus merdeka dari nafsu menguasai, agar manusia kembali diperlakukan sebagai manusia.

Dulu kakek pernah berpesan, kemerdekaan harusnya bertumpu pada dua hal: hubungan dengan Tuhan dan hubungan dengan manusia. Kita harus meluruskan ibadah kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan menjadikan Rasulullah Muhammad SAW sebagai teladan akhlak.

Kata kakek, iman itu tidak boleh berhenti di sajadah. Ia harus turun ke jalan. Menjadi sikap menghormati yang berbeda, menolong yang lemah, tidak merendahkan yang kecil, tidak angkuh di hadapan sesama, dan menjadi tempat orang lain bersandar dan merasa aman.

Bertahun-tahun setelah percakapan itu, baru saya paham bahwa, kemerdekaan 1945 menurut cerita kakek, bukan sekadar narasi lepasnya kita dari cengkeraman Belanda. Kemerdekaan adalah kisah tentang manusia yang dulu hidup dalam ketakutan, lalu diberi kesempatan untuk hidup dengan kepala tegak dan martabat yang utuh. Kemerdekaan adalah tanggung jawab menjaga negeri. Menjaga kampung. Menjaga persaudaraan. Menjaga agama dan budaya agar tidak tercerabut zaman. Bahkan menjaga agar yang kuat tidak menjadi penindas bagi yang lemah.

Kisah atau balada Malotong Matanna bagi saya, bukan hanya tentang mereka yang bersekutu dengan penjajah. Ia adalah pelajaran pahit: bangsa bisa rapuh bukan karena serangan dari luar, melainkan karena anak bangsanya sendiri saling curiga dan saling menjatuhkan. Karena itu, persatuan bukan pelengkap kemerdekaan. Ia adalah syaratnya. Dan kini, setiap 17 Agustus datang, saya tidak hanya melihat Merah Putih berkibar, tetapi saya juga melihat mata kakek kembali berkaca-kaca.

Pelan mendekat dan berbisik kepadaku dalam nada yang dingin namun penuh makna: “Sekarang kita sudah nyaman, Nak. Tidak perlu lagi lari ketakutan dari tentara Belanda.” Dari kalimat itu saya belajar. Kemerdekaan yang kita hirup hari ini adalah utang pada penderitaan mereka yang dulu. Dan ia hanya akan tetap hidup jika dibayar lunas oleh penjagaan kita hari ini.

Sebab hakikat merdeka bukan pada saat penjajah meninggalkan tanah ini. Hakikat merdeka adalah saat manusia berhenti menindas manusia, atau saat masyarakat berhenti saling mencurigai. Saat perbedaan tidak lagi menjadi bara kebencian. Saat setiap kita sanggup memanusiakan sesama.

Itulah warisan Kakek kepada saya: Sayangi negeri. Sayangi kampung halaman. Perbaiki hubungan dengan Tuhan. Perbaiki hubungan dengan sesama. Jaga persatuan. Dan jangan pernah menggunakan kemerdekaanmu untuk merampas kemerdekaan orang lain.

Dan mungkin, inilah pesan paling sederhana sekaligus paling dalam juga menohok dari seorang Kakek kepada cucunya: “Kita telah merdeka dari penjajah. Sekarang tugas kita adalah memastikan bahwa kita tidak menjadi penjajah bagi sesama.” Karena merdeka bukan hanya bebas dari bangsa lain. Merdeka adalah bebas dari ego diri sendiri. Dan bangsa yang benar-benar merdeka adalah bangsa yang mampu memanusiakan manusia.

MURSYID SYUKRI

Aktif dalam pergerakan seni budaya Mandar dan serius menghibahkan waktunya sebagai Ketua Sekolah Adat Adolang Pamboang

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button
%d blogger menyukai ini: