Dari Bura’ Sendana, Belajar Menjadi Manusia
Catatan Scout Camp Kemah Mahabbah Pramuka Madrasah 2026

ADA banyak cara untuk belajar menjadi manusia. Sebagian berlangsung di ruang kelas, melalui buku, pelajaran, tugas, dan ujian. Sebagian lainnya justru tumbuh dari pengalaman yang sederhana: bangun lebih pagi, mendirikan tenda, berbagi ruang dengan orang lain, menyelesaikan pekerjaan bersama, menjaga kebersihan, menaati aturan, menolong teman, dan belajar bertanggung jawab atas apa yang dilakukan. Di situlah pendidikan menemukan maknanya yang lebih luas—bahwa membentuk manusia tidak selalu harus dilakukan melalui kata-kata, tetapi juga melalui pengalaman.
Lapangan Bura’ Sendana, Kecamatan Sendana, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, menjadi ruang bagi pengalaman semacam itu ketika Scout Camp Kemah Mahabbah Pramuka Madrasah Tingkat Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2026 dilaksanakan pada 17–19 September 2026. Selama tiga hari, tempat yang biasanya menjadi ruang terbuka berubah menjadi ruang belajar bersama. Peserta didik madrasah dari berbagai daerah datang, membawa identitas sekolah dan daerah masing-masing, tetapi kemudian dipertemukan dalam satu pengalaman yang sama: berkemah, belajar, bekerja sama, dan membangun persaudaraan.
Kemah Mahabbah yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama Kabupaten Majene itu mempertemukan peserta didik dari jenjang Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, dan Madrasah Aliyah, baik negeri maupun swasta. Mereka hadir bersama kepala madrasah, guru, pembina pramuka, serta jajaran Kantor Kementerian Agama dari berbagai kabupaten di Sulawesi Barat. Pertemuan itu membuat perkemahan tidak sekadar menjadi agenda kepramukaan, tetapi juga menjadi perjumpaan sosial dan pendidikan yang mempertemukan banyak unsur dalam satu ruang.
Dari Majene, Mamasa, Mamuju, hingga Polewali Mandar, anak-anak madrasah hadir membawa pengalaman yang berbeda. Mereka berasal dari lingkungan sosial, budaya, dan sekolah yang tidak selalu sama. Namun, ketika berada di Bura’ Sendana, perbedaan itu menemukan ruang untuk saling mengenal. Mereka belajar bahwa persaudaraan tidak lahir karena semua orang memiliki latar belakang yang sama. Persaudaraan justru tumbuh ketika perbedaan dapat diterima dan dijadikan kekayaan dalam kehidupan bersama.
Barangkali di sinilah salah satu makna terdalam dari sebuah perkemahan. Ia mempertemukan manusia dalam keadaan yang lebih nyata. Di ruang kelas, seorang anak dapat dikenal melalui nilai rapor dan hasil ujiannya. Di perkemahan, ia dikenal melalui sikapnya. Apakah ia mampu bekerja sama? Apakah ia bersedia membantu temannya? Apakah ia mampu menyelesaikan tugas? Apakah ia menjaga kebersihan? Apakah ia dapat menghargai orang lain? Apakah ia mampu memimpin sekaligus bersedia dipimpin? Pertanyaan-pertanyaan itu tidak selalu hadir dalam bentuk soal tertulis. Ia muncul dalam kehidupan sehari-hari selama perkemahan.
Karena itu, perkemahan sesungguhnya merupakan salah satu bentuk pembelajaran pengalaman. Nilai kedisiplinan, tanggung jawab, kemandirian, kepemimpinan, komunikasi, kepedulian sosial, dan kemampuan menyelesaikan persoalan tidak hanya dibicarakan sebagai teori, tetapi dihadapkan langsung kepada peserta didik. Mereka mengalami sendiri bagaimana sebuah kelompok dapat berjalan ketika setiap orang menjalankan perannya.
Seorang anak mungkin tidak pernah memperoleh pelajaran panjang tentang pentingnya gotong royong. Namun, ketika ia harus menyelesaikan pekerjaan bersama teman-temannya, ia akan mengetahui bahwa pekerjaan yang berat menjadi lebih ringan ketika dilakukan bersama. Ia juga akan menemukan bahwa keberhasilan kelompok tidak mungkin dibangun oleh satu orang saja. Di situlah pendidikan karakter bekerja dengan cara yang lebih alamiah.
Kemah Mahabbah menjadi semakin bermakna karena kegiatan tersebut tidak berdiri sendiri. Penyelenggaraannya merupakan hasil kerja bersama berbagai unsur, termasuk Kementerian Agama, madrasah, pembina pramuka, Sako Pandu Ma’arif NU, LP Ma’arif, pemerintah daerah, dan berbagai pihak lainnya. Kepanitiaan yang dipimpin Kakak Sipaami, S.Pd.I., M.Pd.I., Ketua LP Ma’arif Kabupaten Majene, menunjukkan bahwa sebuah kegiatan pendidikan dalam skala besar membutuhkan kerja kolektif, koordinasi, pembagian tugas, dan tanggung jawab bersama.
Hal ini sekaligus mengingatkan bahwa pendidikan tidak pernah menjadi pekerjaan satu lembaga saja. Madrasah memiliki ruangnya, guru memiliki perannya, orang tua memiliki tanggung jawabnya, organisasi kepanduan mempunyai kontribusinya, sementara pemerintah dan masyarakat memiliki kewajiban untuk menciptakan lingkungan yang memungkinkan anak-anak tumbuh secara baik.
Karakter seorang anak tidak dibentuk hanya oleh apa yang ia dengarkan di sekolah. Ia juga dibentuk oleh lingkungan yang ia lihat, orang-orang yang ia temui, pengalaman yang ia jalani, serta kebiasaan yang terus ia lakukan.
Karena itu pula, kehadiran pimpinan nasional Sako Pandu Ma’arif NU memberikan dimensi tersendiri bagi kegiatan ini. Ketua Umum Pandu Ma’arif NU Nasional Kakak H. Mujiburrohman, Sekretaris Jenderal Pimpinan Nasional Sako Pramuka Pandu Ma’arif NU Nasional Kakak H. Soleh Abwa, M.A., dan Pelatih Nasional Kakak Tata Setiawan, M.G., hadir bersama sejumlah pejabat Kementerian Agama dan unsur Pemerintah Daerah Kabupaten Majene.
Pertemuan antara unsur daerah dan pimpinan nasional itu memperlihatkan bahwa kegiatan kepanduan di madrasah memiliki ruang yang lebih luas daripada sekadar aktivitas berkemah. Ia dapat menjadi bagian dari ekosistem pendidikan yang mempertemukan pengalaman lokal dengan jejaring yang lebih luas.
Kemah Mahabbah juga memiliki makna khusus karena dirangkaikan dengan Hari Lahir LP Ma’arif NU dan SAKO Ma’arif NU. Dengan demikian, perkemahan menjadi sekaligus ruang silaturahmi, konsolidasi, dan penguatan gerakan kepanduan di lingkungan pendidikan Ma’arif.
Kakak H. Mujiburrohman dalam sambutannya memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan kegiatan tersebut dan menyampaikan bahwa Kemah Mahabbah dapat menjadi pilot project bagi pengembangan kegiatan Pandu Ma’arif pada masa mendatang. Pernyataan itu menunjukkan adanya ruang bagi pengalaman daerah untuk menjadi bahan pembelajaran bagi pengembangan kegiatan kepanduan pada lingkup yang lebih luas.
Namun, barangkali yang paling penting bukanlah seberapa besar sebuah kegiatan disebut sebagai pilot project, berapa banyak orang yang hadir, atau seberapa meriah sebuah perkemahan diselenggarakan. Ukuran yang lebih penting justru berada pada apa yang tersisa setelah tenda dibongkar. Sebab pendidikan selalu diuji setelah kegiatan selesai.
Apa yang dibawa seorang peserta ketika kembali ke rumah? Apa yang berubah ketika ia kembali ke madrasah? Apakah ia menjadi lebih disiplin? Apakah ia lebih mampu bekerja sama? Apakah ia lebih peduli terhadap lingkungan? Apakah ia lebih menghargai orang lain? Apakah pengalaman tiga hari di Bura’ Sendana meninggalkan kebiasaan baru dalam dirinya? Pertanyaan-pertanyaan semacam itulah yang membuat pendidikan karakter menjadi penting.
Mahabbah, yang secara sederhana berarti cinta atau kecintaan, memperoleh makna yang menarik dalam konteks kegiatan ini. Cinta tidak berhenti sebagai perasaan. Cinta perlu menemukan bentuknya dalam tindakan. Cinta kepada ilmu berarti kesediaan untuk belajar. Cinta kepada sesama berarti kesediaan untuk menghormati dan membantu. Cinta kepada lingkungan berarti kesediaan untuk menjaga. Cinta kepada bangsa berarti kesediaan untuk hidup bersama dalam keberagaman. Dengan demikian, mahabbah tidak cukup hanya diucapkan. Ia harus dijalankan.
Seorang peserta yang membantu temannya, menjaga kebersihan perkemahan, menggunakan fasilitas bersama dengan bertanggung jawab, menaati aturan, menyelesaikan tugas kelompok, dan menghormati pembina sesungguhnya sedang mempraktikkan makna mahabbah dalam bentuk yang paling sederhana. Ia sedang belajar bahwa kebaikan bukan sekadar sesuatu yang diketahui, tetapi sesuatu yang dilakukan. Pendidikan karakter memang demikian. Ia tidak selesai ketika sebuah nilai berhasil dihafalkan. Ia baru mulai ketika nilai tersebut menjadi kebiasaan.
Alam terbuka kemudian memberikan pelajaran tambahan yang tidak kalah penting. Berada di luar ruang membuat peserta didik berhadapan langsung dengan lingkungan. Mereka belajar tentang kebersihan, sampah, penggunaan sumber daya, keteraturan, dan tanggung jawab terhadap ruang yang digunakan bersama. Perkemahan memberi kesempatan kepada anak-anak untuk memahami bahwa alam bukan sekadar latar tempat sebuah kegiatan berlangsung, melainkan bagian dari kehidupan yang harus dirawat.
Karena itu, pendidikan lingkungan seharusnya tidak berhenti pada pesan untuk menjaga kebersihan. Peserta didik perlu mengalami sendiri bahwa setiap sampah yang dibuang sembarangan akan menjadi masalah bagi orang lain; bahwa fasilitas bersama harus digunakan dengan hati-hati; bahwa tempat yang dipakai bersama harus ditinggalkan dalam keadaan baik. Belajar dari alam pada akhirnya bukan hanya belajar tentang alam. Ia adalah belajar tentang hubungan manusia dengan kehidupan.
Bura’ Sendana selama tiga hari menjadi semacam laboratorium kehidupan kecil. Di sana ada tenda, kelompok, aturan, jadwal, tugas, perbedaan karakter, persahabatan, kelelahan, kebersamaan, dan berbagai persoalan yang harus diselesaikan. Dalam ruang kecil seperti itulah peserta didik belajar mengelola dirinya sekaligus belajar hidup bersama orang lain.
Mereka belajar bahwa kebebasan selalu memiliki batas berupa tanggung jawab. Mereka belajar bahwa kepemimpinan bukan hanya tentang memerintah, tetapi juga tentang memberi contoh. Mereka belajar bahwa menjadi bagian dari kelompok berarti bersedia menjalankan tugas. Mereka belajar bahwa perbedaan pendapat tidak selalu harus berakhir menjadi pertengkaran. Dan mereka belajar bahwa keberhasilan bersama membutuhkan kesediaan untuk saling membantu. Pengalaman semacam itu tidak mudah digantikan oleh pelajaran di atas kertas.
Itulah sebabnya kegiatan kepramukaan memiliki kemungkinan besar untuk menjadi bagian penting dalam pendidikan madrasah. Kepramukaan tidak harus dipahami sebatas baris-berbaris, berkemah, atau keterampilan teknis. Ia dapat menjadi ruang untuk mengembangkan kepemimpinan, kecakapan hidup, kemandirian, gotong royong, kepedulian sosial, dan kemampuan hidup dalam keberagaman.
Dalam konteks Sulawesi Barat, pertemuan peserta dari berbagai kabupaten memberikan dimensi yang lebih luas lagi. Anak-anak madrasah tidak hanya belajar tentang dirinya sendiri, tetapi juga belajar mengenal anak-anak dari daerah lain. Mereka menemukan bahwa Sulawesi Barat adalah ruang yang dihuni oleh beragam pengalaman dan kebudayaan, tetapi tetap memungkinkan orang-orangnya untuk duduk bersama, belajar bersama, dan membangun persaudaraan.
Majene, dalam kegiatan ini, bukan sekadar tempat berlangsungnya perkemahan. Bura’ Sendana menjadi titik temu. Ia menjadi ruang tempat perbedaan asal daerah untuk sementara waktu dilebur ke dalam pengalaman bersama.
Dukungan Pemerintah Daerah Kabupaten Majene juga menunjukkan bahwa kegiatan pendidikan semacam ini membutuhkan ekosistem yang lebih luas. Kehadiran pemerintah tidak hanya berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan, tetapi juga dengan penciptaan kondisi yang aman, tertib, dan nyaman bagi kegiatan masyarakat dan pendidikan. Unsur Pemerintah Daerah yang diwakili Kakak H. Ardiansyah, S.STP., serta unsur Tripika Kecamatan Sendana turut memberikan dukungan terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut.
Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Barat, Kakak Dr. H. Adnan Nota, M.A., memberikan perhatian terhadap kegiatan tersebut dan menilai kehadiran unsur pimpinan nasional Pandu Ma’arif NU sebagai sesuatu yang memiliki nilai strategis bagi pengembangan Sako Pandu Ma’arif NU dan LP Ma’arif di Sulawesi Barat. Semua itu menunjukkan satu hal: pendidikan karakter membutuhkan kebersamaan.
Tidak mungkin seorang anak diajarkan tentang kepedulian jika lingkungan di sekitarnya tidak peduli. Sulit menanamkan disiplin jika orang-orang dewasa yang menjadi teladannya tidak menunjukkan kedisiplinan. Tidak mudah mengajarkan gotong royong jika kehidupan sosial justru dipenuhi sikap individualistis. Karena itu, pendidikan karakter harus dibangun sebagai ekosistem, bukan sekadar sebagai mata pelajaran atau kegiatan sesaat. Sampai disini, kemah Mahabbah memberi contoh kecil mengenai hal tersebut.
Ada peserta didik yang belajar. Ada guru dan pembina yang mendampingi. Ada panitia yang bekerja. Ada organisasi yang menggerakkan. Ada pemerintah yang memberikan dukungan. Ada masyarakat yang menjadi bagian dari lingkungan kegiatan. Semua bergerak dalam satu ruang yang sama. Dan di antara semua itu, anak-anak menjadi pusat dari seluruh proses.
Pada akhirnya, makna sebuah perkemahan tidak terletak pada berapa lama tenda berdiri. Tenda akan dibongkar. Lapangan akan kembali seperti semula. Peserta akan kembali ke madrasah dan rumah masing-masing. Jadwal kegiatan akan berakhir. Foto-foto akan tersimpan. Cerita-cerita akan menjadi kenangan. Tetapi pendidikan yang sesungguhnya diharapkan tetap tinggal.
Ia tinggal dalam kebiasaan bangun tepat waktu. Dalam keberanian mengambil tanggung jawab. Dalam kesediaan membantu teman. Dalam kemampuan menghargai perbedaan. Dalam kebiasaan menjaga kebersihan. Dalam keberanian memimpin dan kerendahan hati untuk bekerja bersama. Dalam kepedulian terhadap lingkungan. Dalam kesediaan mengubah pengetahuan menjadi tindakan. Dari sanalah sebuah perkemahan menemukan maknanya.
Scout Camp Kemah Mahabbah Pramuka Madrasah 2026 di Bura’ Sendana pada akhirnya dapat dibaca bukan hanya sebagai sebuah agenda tiga hari, melainkan sebagai perjalanan pendidikan: dari madrasah menuju alam, dari pengetahuan menuju pengalaman, dari pengalaman menuju kebiasaan, dari kebiasaan menuju karakter, dan dari persaudaraan menuju pengabdian.
Bura’ Sendana telah menjadi ruang belajar yang mempertemukan banyak orang. Tetapi pelajaran terpentingnya mungkin justru sederhana: bahwa menjadi manusia yang baik tidak cukup dengan mengetahui apa yang baik. Kebaikan harus dilatih, dilakukan, dan dibiasakan.
Ketika tenda dibongkar dan para peserta kembali ke daerah masing-masing, semangat yang dibawa pulang semestinya bukan sekadar kenangan tentang perkemahan. Ia adalah bekal untuk menjalani kehidupan di madrasah, di rumah, di masyarakat, dan kelak di ruang kehidupan yang lebih luas.
Sebab pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang membuat seseorang menjadi pintar. Pendidikan adalah tentang membuat pengetahuan memiliki arah, keterampilan memiliki tanggung jawab, dan kecerdasan memiliki kemanusiaan.
Dari Bura’ Sendana, anak-anak madrasah belajar bahwa persaudaraan bukan sekadar berkumpul, kemandirian bukan sekadar mampu melakukan sesuatu sendiri, kepedulian bukan sekadar kata, dan pengabdian bukan sekadar slogan.
Dan mungkin, di situlah makna terdalam Kemah Mahabbah: dari perkemahan menuju pembentukan karakter, dari kebersamaan menuju persaudaraan, dan dari persaudaraan menuju pengabdian—dari madrasah, untuk Sulawesi Barat.




